25 September 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Trump Siap 'Pukul' China, Ancaman Perang Dagang Bakal Terwujud

...

  • PORTALSATU
  • 06 July 2018 12:00 WIB

Presiden China, Xi Jinping, berjabat tangan dengan Presiden AS, Donald Trump (paling kanan). Ikut mendamping Ibu Negara China Peng Liyuan saat makan malam pada awal pertemuan puncak 6-7 April 2017 di Florida. @Reuters via bisnis.com
Presiden China, Xi Jinping, berjabat tangan dengan Presiden AS, Donald Trump (paling kanan). Ikut mendamping Ibu Negara China Peng Liyuan saat makan malam pada awal pertemuan puncak 6-7 April 2017 di Florida. @Reuters via bisnis.com

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dalam hitungan jam akan melancarkan tembakan terbesar dalam perang perdagangan global dengan mengenakan tarif pada impor China senilai US$34 miliar.

Langkah yang dijanjikan Trump kepada para pendukung politiknya ini berisiko besar memicu pembalasan serta merugikan ekonomi dunia.

Presiden yang kerap bertindak kontroversial ini mengatakan kepada awak media dalam perjalanannya menuju Montana, Kamis, 5 Juli 2018, tarif untuk barang-barang asal China akan berjalan segera setelah tengah malam di Washington pada Jumat, 6 Juli 2018 atau siang hari di Beijing.

Pengenaan tarif terhadap barang-barang China lainnya senilai US$16 miliar dapat menyusul dalam dua pekan, kata Trump, sebelum mengisyaratkan bahwa jumlah nilai akhirnya dapat mencapai sekitar US$550 miliar. Angka terakhir ini diketahui melebihi seluruh nilai ekspor barang tahunan China ke AS.

Pada hari ini pukul 12.01 malam waktu Washington, pejabat bea cukai AS disebut akan mulai menghimpun 25% tarif untuk ratusan barang impor China, mulai dari alat bajak hingga semikonduktor dan bagian-bagian pesawat.

Ini adalah pertama kalinya AS memberlakukan tarif yang ditujukan langsung pada barang-barang China, setelah berbulan-bulan Trump menuduh pemerintah negeri Tirai Bambu mencuri kekayaan intelektual Amerika serta dengan tidak adil membengkakkan defisit perdagangan Amerika.

Pertaruhan langkah ekonomi paling berisiko dari pemerintahan Trump ini bisa menyebar ketika memasuki fase baru dan berbahaya, dengan mengenakan biaya langsung pada perusahaan dan konsumen secara global.

Pemerintah China telah berjanji untuk membalas dengan cara serupa dalam bentuk barang, mulai dari kedelai Amerika hingga daging babi. Pada gilirannya ini dapat mendorong Trump untuk meningkatkan hambatan perdagangan lebih tinggi lagi.

“Setelah tarif-tarif ini mulai berlaku, cukup jelas jika konflik itu nyata,” kata Robert Holleyman, mantan wakil perdagangan AS di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama yang saat ini bertindak sebagai partner di firma hukum Crowell and Moring LLP. “Jika kita tidak menemukan jalan keluar, ini akan berakselerasi seperti bola salju yang menuruni bukit.”

Tarif AS baru-baru ini terhadap baja dan aluminium telah menarik aksi balasan dari Uni Eropa dan Kanada. Perusahaan-perusahaan Amerika yang ikonis seperti Harley-Davidson Inc. termasuk di antara yang akan merugi. Bulan ini, produsen sepeda motor ini mengatakan mungkin akan memindahkan produksinya keluar dari AS untuk menghindari tarif Uni Eropa pada sepeda motornya.

Sementara itu, beberapa perusahaan Amerika seperti Apple Inc., Walmart Inc., dan General Motors Co. beroperasi di China dan tertarik untuk melakukan ekspansi. Ini membuat ruang Presiden China Xi Jinping untuk memberlakukan penalti seperti penundaan bea cukai, pemeriksaan pajak, dan peningkatan pengawasan peraturan, jika Trump menyampaikan ancamannya terhadap tarif yang lebih besar pada perdagangan China.

Bursa saham China telah terpukul dalam beberapa pekan terakhir, akibat kekhawatiran tentang perang perdagangan bercampur dengan kekhawatiran tentang kemampuan China untuk mengendalikan utangnya dan mempertahankan pertumbuhan.

Di sisi lain, bursa saham AS mencatat sedikit kenaikan lebih dari 2% sepanjang tahun ini karena investor telah mencermati ancaman friksi perdagangan terhadap kinerja kuat ekonomi AS.

Kata Ekonom

Pengenaan tarif tersebut dinilai dapat membahayakan pencapaian yang telah diraih pemerintahan Trump, termasuk mendorong tingkat pengangguran ke level terendah dalam hampir setengah abad.

Perusahaan-perusahaan AS dan China kini akan merasa lebih mahal untuk berdagang satu sama lain. Ini artinya akan ada lebih sedikit permintaan dan harga yang lebih tinggi. Dana Moneter Internasional (IMF) telah memperingatkan meluasnya perselisihan dagang dapat merusak ekspansi global terkuat sejak 2011.

Tingkat kerusakan ekonomi akan bergantung pada seberapa jauh kedua belah pihak melangkah. Jika AS dan China mendinginkan diri setelah putaran tarif pertama, dampaknya terhadap perekonomian mereka akan rendah, menurut Bloomberg Economics.

Di bawah perang dagang besar-besaran di mana AS mengenakan tarif 10% pada negara-negara lain yang ditanggapi dengan aksi balasan, para ekonom memperhitungkan pertumbuhan AS akan melambat sebesar 0,8 poin persentase sekitar tahun 2020.

“Dampak dari putaran pertama tarif pada barang-barang China senilai US$34 miliar akan kecil,” kata Ethan Harris, kepala riset ekonomi global di Bank of America Merrill Lynch. Tetapi ia tidak melihat perang akan berakhir sampai ada 'korban'.

“Ini akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan, sampai kedua belah pihak mulai merasa sedikit menderita dan menyadari ini bukanlah pawai menuju kemenangan yang dilalui tanpa darah,” tambah Harris, seperti dikutip Bloomberg.

Para ekonom JPMorgan Chase & Co., Ikut memperingatkan risiko terbesar mungkin datang dari dampak tidak langsung atas pengetatan kondisi kredit dan kepercayaan bisnis, dengan berkurangnya ruang lingkup untuk investasi dan kepegawaian seraya merongrong pasar keuangan.[] Sumber: bisnis.com/Renat Sofie Andriani

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.