27 April 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tuha Peut di Aceh Barat Gelar Pekan Pengaduan

...

  • PORTALSATU
  • 22 February 2018 11:30 WIB

Amel. @dok. rri.co.id
Amel. @dok. rri.co.id

BAND ACEH - Tuha Peut di Aceh Barat menggelar Pekan Pengaduan dan Aspirasi Masyarakat untuk menampung laporan warga terkait persoalan tatakelola pemerintahan dan pembangunan gampong. Kegiatan itu dilaksanakan di Gampong Tamping dan Gampong Blang Teungoh, Kecamatan Panton Reu, serta Gampong Krueng Tinggai dan Cot Seumeureung, Kecamatan Samatiga, selama tujuh hari secara paralel, 12-18 Februari 2018.

Koordinator Program Mendorong Transparansi dan Pengembangan Mekanisme Pengaduan Masyarakat Wilayah Aceh Barat dari MaTA dan Seknas FITRA, Amel, yang melakukan pendampingan terhadap kegiatan itu, mengatakan, Tuha Peut adalah lembaga legislatif level gampong yang idealnya dapat menjadi corong pertama bagi warga untuk menyampaikan aspirasi dan pengaduannya. Sehingga dapat diselesaikan secara musyawarah dengan pemerintah gampong dan pihak lainnya yang relevan.

“Jika setelah proses itu tidak menemukan jalan keluar, maka baru disampaikan ke jenjang berikutnya, seperti lembaga supra desa dan aparat penegak hukum,” kata Amel dalam siaran pers diterima portalsatu.com, Rabu, 21 Februari 2018.

Menurut Amel, dalam menyerap aspirasi dan pengaduan masyarakat, Tuha Peut berpedoman pada UU Desa dan Permendagri Nomor 110 Tahun 2016 tentang Badan Permusyawaratan Desa (BPD). BPD atau di Aceh dikenal dengan Tuha Peut memiliki tiga fungsi, yaitu membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama kepala desa; menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat; serta melakukan pengawasan kinerja kepala desa.

"Semua anggota Tuha Peut turun ke dusun-dusun yang menjadi daerah perwakilannya untuk menemui warga dan menggali aspirasi secara langsung, adil, partisipatif dan terbuka," ujar Amel.

‘Rumoh Aspirasi’

Amel menjelaskan, di Aceh Barat selama ini Tuha Peut dan Pemerintah Gampong sudah mengumumkan dan mengundang secara terbuka kepada semua warga untuk terlibat dalam berbagai musyawarah gampong untuk menyampaikan aspirasinya, tapi yang hadir hanya sebagian kecil. Akibatnya, tidak semua permasalahan yang dialami warga tersampaikan.

Oleh karena itu, Amel melanjutkan, Tuha Peut memiliki tugas dan fungsi untuk menggali langsung aspirasi dari warga khususnya dari kelompok masyarakat miskin, masyarakat berkebutuhan khusus atau disabilitas, kaum perempuan dan kelompok marjinal lainnya. Hal itu untuk memastikan bahwa tidak ada permasalahan dan kebutuhan warga yang tidak terakomodir dalam dokumen perencanaan gampong.

Menurut Amel, dalam Pekan Pengaduan dan Aspirasi Masyarakat di Gampong Tamping, Blang Teungoh, Krueng Tinggai dan Cot Seumeureung, semua aspirasi dan pengaduan warga dicatat di dalam form aspirasi, lalu dikumpulkan dan direkap di “Rumoh Aspirasi” yang dikelola oleh Tuha Peut.

Selanjutnya, Tuha Peut melakukan pemilahan dan analisa serta membuat kesimpulan untuk disampaikan kepada keuchik dalam musyawarah gampong guna disepakati langkah tindak lanjut dan penyelesaian. “Selama pekan pengaduan berlangsung sudah ada puluhan aspirasi dan pengaduan masyarakat tertampung yang dipilah berdasarkan empat bidang kewenangan desa, yaitu pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat,” kata Amel.

Bagi Tuha Peut, kegiatan ini sekaligus bertujuan untuk mensosialisasikan “Rumah Aspirasi” sebagai wadah pengelolaan aspirasi dan pengaduan masyarakat.  Dengan adanya wadah tersebut maka setiap ada persoalan di gampong dapat disampaikan melalui Tuha Peut dan diselesaikan di tingkat gampong tanpa harus langsung ke kepala daerah atau aparat penegak hukum.

“Kami berharap kegiatan Pekan Pengaduan dan Aspirasi Masyarakat atau dalam versi lain dapat replikasikan di semua gampong, sehingga proses serap aspirasi dapat dilakukan secara menyeluruh dan menyentuh semua level masyarakat,” ujar Amel.[](rel)

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.