26 November 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


UNCHR: Kemungkinan Adanya Jaringan Penyelundupan Warga Rohingya

...

  • Fazil
  • 18 November 2020 17:42 WIB

Kepala Perwakilan UNCHR di Indonesia, Ann Mayman memberi tanggapan dalam diskusi di Unimal [Foto: Fazil]
Kepala Perwakilan UNCHR di Indonesia, Ann Mayman memberi tanggapan dalam diskusi di Unimal [Foto: Fazil]

Memang ada kemungkinan adanya jaringan penyelundupan orang ini, tapi tanpa harus kita berpikir atau jangan menganggap bahwa mereka itu semua adalah kriminal.

LHOKSEUMAWE- Kepala Perwakilan United Nations Commission on Human Rights (UNCHR) di Indonesia, Ann Mayman menyatakan adanya kemungkinan keterlibata jaringan penyelundupan manusia dalam kasus terdamparnya pengungsi Rohingya asal Myanmar ke Aceh.

Hal itu disampaikan Ann Mayman dalam diskusi publik yang mengangkat tema "Diseminasi Penanganan Kejahatan Lintas Negara Penyelundupan Manusia", di Kampus Universitas Malikussaleh (Unimal), Aula Cut Meutia, Bukit Indah, Kota Lhokseumawe, Rabu 18 November 2020.

Menurut Ann Mayman, pengungsi Rohingya adalah manusia yang sebelumnya lari dari negaranya karena kondisi negara mereka. Masalahnya berhadapan dengan permasalahan konflik yang ada di Myanmar sehingga mereka keluar dari wilayah tersebut.

"Banyak pengungsi Rohingya di sini (Lhokseumawe, Aceh) mereka punya keluarga di Malaysia dan secara terpisah antar sesamanya. Memang ada kemungkinan adanya jaringan penyelundupan orang ini, tapi tanpa harus kita berpikir atau jangan menganggap bahwa mereka itu semua adalah kriminal," jelas Ann Mayman.

Ann Mayman menyebutkan, pihaknya berharap dan memohon kepada para pihak bahwa apapun itu persoalaannya agar tetap menjalin komunikasi dengan UNHCR. Tentunya UNHCR juga berterima kasih banyak kepada pemerintah dan elemen lainnya yang selama ini sudah membantu dalam hal penanganan pengungsi Rohingya.

"Jika ada hal yang perlu diklarifikasi tolong berkomunikasi dengan kami (UNHCR), silakan menghubungi kami supaya bisa lebih mudah dalam penyelesaian suatu masalah," harapnya.

Sementara itu, Direktur HAM dan Kemanusiaan, Kemlu, Achsanul Habib, mengatakan, situasi etnis Rohingya yang datang itu tidak akan pernah berhenti apa bila akar masalahnya di Myanmar tidak ditangani. Oleh karena itu diharapkan agar semua pihak terkait bisa menyelesaikan akar permasalahannya.

"Kita memang melihat dari pandangan kemanusiaan dan harus dibantu. Itu terlepas dari agama atau bangsanya apa, itu bukan perhitungan. Tapi manusia yang minta tolong maka kita menolongnya, makanya kita sudah beberapa kali menerima Rohingya di sini,” ungkap Achsanul Habib.

Persoalan lainnya kata Achsanul Habib adalah, adanya kemungkinan persoaoan imigran Rohingya bukan semata-mata orang lari dari ancaman, tapi ada peran sindikat, ada penjahat-penjahat yang beroperasi mancanegara untuk mengelola orang yang ketakutan itu bagaimana dimanfaatkan untuk dijadikan uang, sehingga dibuatlah tarif dan pengaturan siapa yang mengantar atau jemput dengan tujuannya ke mana dan segala macam.

"Ini yang kita prihatin sekali. Katika orang yang dalam ancaman lalu dimanfaatkan, kalau dari sisi pemerintah Indonesia itu kita melihatnya tiga klaster penanganan. Pertama, pada saat situasi darurat orang-orang (Rohingya) yang datang dari kapal laut misal mau tenggelam, minta tolong, kelaparan, sakit maka itu kita menolong karena mereka membutuhkan pertolongan darurat. Sehingga kita selamatkan mereka dan ditampung, tapi ini kan tidak terus-menurus dan ada batas waktunya," ujar Achsanul Habib.

Selanjutnya adalah menyangkut pengelolaan, kata Achsanul Habib, setelah mereka selamat dan makanan logistiknya bisa terjamin. Artinya, pengelolaan ini bagaimana warga Rohingya itu bisa hidup normal untuk dalam jangka waktu yang belum diketahui sampai kapan, dan semua dipenuhi kebutuhan dasarnya.

"Kemudian penyelesaian atau solusi akhirnya bagaimana. Apakah mereka mau di kirim ke negera ketiga kah? Apakah sudah ada pengaturan hilang secara aman, baik dan bermartabat? Tentu ini panjang persoalaannya, karena keadaan sekarang lagi pandemi Covid-19 dan sebagainya maka sulit," tambahnya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.