01 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Untuk Tanah Adat di Aceh, Perlu Langkah Hukum Terpadu

...

  • portalsatu.com
  • 14 August 2020 13:00 WIB

Oleh: Mawardi Usman*

Ketika Perang Aceh selesai 1942 Belanda meninggalkan Aceh dan tidak pernah kembali seperti diakui Belanda maka tanah Aceh kembali ke Aceh. Dan kemudian seluruh Aceh dikuasai oleh Divisi Mujahidin Fisabilillah di bawah kepemimpinan para ulama Aceh. 

Tanah Adat kesultanan Aceh Darussalam adalah Meuligoe Gubernur Aceh, Kantor Walikota Banda Aceh, Kantor Gubernur gi Lampineung, Taman Sari, Anjong Mon Mata, Neusu Peuniti, Lapangan Blang Padang, Kherkhof, Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Peunayong, Geuceu, Lampoh Tubee Poteu Jeumaloy di Gampong Baro yang sekarang dijadikan kedai Bakso dan hotel dan perumahan serta bangunan dan lainnya.

Juga tanah di Merduati, kawasan Istana Darul Makmur Gampong Pande yang sekarang dijadikan proyek IPAL tempat pembuangan sampah dan tinja, kemudian kawasan Gampong Pande, Keudah. Gampong Kandang, Gampong Jawa, tanah Unsyiah dan UIN Ar Raniry, Kuala Gigieng, kawasan Istana Darud Donya, Kawasan Istana Kuta Alam, kawasan di Lambaro Skep, dan lainnya. 

Kita mengharapkan dengan adanya langkah hukum terpadu yang melibatkan semua  elemen di Aceh, tanah Kesultanan Aceh dapat dikembalikan ke Aceh, dan para raja dan ulama dapat beristirahat di tempatnya atas jasa-jasanya, bukannya dilenyapkan dan dihancurkan oleh penduhaka yang hidup di Aceh. 

Yogyakarta sebuah kesultanan daerah istimewa, dan tanah Kesultanan masih terjaga hingga kini. Maka Aceh lebih layak lagi apabila tanah kesultanan Aceh Darussalam terjaga. Kenapa makam raja-raja kita biarkan dimusnahkan oleh para pendurhaka musuh indatu dan Islam itu.

Untuk menyelamatkan seluruh situs sejarah Aceh yang ribuan jumlahnya, maka tanah kesultanan Aceh Darussalam hendaknya dikembalikan. 

Kita tidak mahu membebani pemerintah dan berbagai pihak dalam mengelola tanah kesultanan Aceh Darussalam. 

Hari ini kita melihat banyak sekali situs yang ada di tanah adat kesultanan telah dilenyapkan untuk pembangunan yang tidak jelas. Situs makam para raja dan ulama hancur dan melenyapkan Aceh di mata dunia. 

Langkah yang harus dilakukan adalah persatuan semua elemen diseluruh Aceh untuk membawa masalah ini kedepan hukum dan pengadilan, dan bukan hanya pengadilan disini namun hingga dunia internasional. 

Sama seperti Turki yang dengan susah payah puluhan tahun memperjuangkan pengembalian Ayasofya (Hagia Sophia). Dengan pertolongan Allah akhirnya Ayasofya kembali menjadi masjid. 

Demikian juga dengan Aceh. Dengan kegigihan rakyat saling bersatu padu, maka tanah adat warisan Kesultanan Aceh Darussalam akan dapat kita kembalikan kepada asal amanah pewaqafnya.

Kita bangsa Aceh dapat meniru Turki yang tidak pernah lelah dan bosan dalam berjuang untuk negerinya. Namun perjuangan itu dilakukan dengan legal dan konstitusional. 

Jadi, di antara banyaknya tanah adat tersebut di atas, yang mana pertama sekali akan dikembalikan kepada Aceh Darussalam?[]

*Ketua Peusaba Aceh.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.