25 September 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia

Tampil di Lapangan Tugu Darussalam
Ustaz Abdul Somad Bicara Sejarah Aceh, Syariat Islam Hingga 'Bermimpilah!'

...

  • Jamaluddin
  • 03 July 2018 18:25 WIB

Ribuan warga menghadiri silaturahmi memperingati HUT Unsyiah untuk mendengar tausiyah Ustaz Abdul Somad di Lapangan Tugu Darussalam, Banda Aceh, 3 Juli 2018. @Jamaluddin/portalsatu.com
Ribuan warga menghadiri silaturahmi memperingati HUT Unsyiah untuk mendengar tausiyah Ustaz Abdul Somad di Lapangan Tugu Darussalam, Banda Aceh, 3 Juli 2018. @Jamaluddin/portalsatu.com
Ribuan warga menghadiri silaturahmi memperingati HUT Unsyiah untuk mendengar tausiyah Ustaz Abdul Somad di Lapangan Tugu Darussalam, Banda Aceh, 3 Juli 2018. @Jamaluddin/portalsatu.com
Ribuan warga menghadiri silaturahmi memperingati HUT Unsyiah untuk mendengar tausiyah Ustaz Abdul Somad di Lapangan Tugu Darussalam, Banda Aceh, 3 Juli 2018. @Jamaluddin/portalsatu.com

Wajah Ustaz Abdul Somad berhias senyum saat tampil di panggung silaturahmi memperingati HUT ke-57 Unsyiah. UAS mengisi acara tersebut dengan tausiyah untuk ribuan warga yang memadati Lapangan Tugu Darusssalam, Banda Aceh, Selasa, 3 Juli 2018, pagi.

UAS bercerita tentang Aceh masa lalu, dan kini menjalankan syariat Islam dalam dunia demokrasi. “Kita tidak tinggal di kerajaan Islam, kita bukan di Saudi Arabia, kita tinggal di negara demokrasi. Sama seperti Amerika, Inggris, Eropa,” ujarnya.

“Dalam demokrasi, ‘suara terbanyak adalah suara tuhan’. Dalam demokrasi tidak bisa dilihat mana benar, mana salah. Yang paling banyak adalah yang paling benar, dan kita telah menerima itu sebagai asas negara. Di tengah demokrasi, Aceh menjadi model penerapan syariat Islam,” kata UAS.

UAS menjelaskan, dahulu Aceh berlatar belakang kerajaan Islam yang besar dan kuat di antara kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Serdang dan Asahan tunduk ke Aceh. UAS menyebutkan, dahulu kaum kolonialis dari barat, Belanda, tidak berani mengusik kerajaan-kerajaan Islam kecil-kecil karena ada Aceh.

Belanda kemudian merancang taktik baru. Menghancurkan Aceh dari dalam. Belanda mengetahui bahwa Aceh tidak bisa dirusak dari luar, karena berdasarkan fakta, ketika mereka menyerang, Aceh akan bersatu untuk mempertahankan diri.

“Aceh akan bersatu jika diserang dan memperkuat barisan. Hingga Belanda pun mengubah taktik dengan cara menghancurkannya dari dalam lewat menciptakan perbedaan pendapat (ikhtilaf), supaya perpecahan muncul dari dalam,” ujar UAS.

“Yang merusaknya adalah orang yang ber-sorban, pakai jubah dua lapis, pakai jenggot panjang, gaya-gaya ulama. Namanya Syaikh Abdul Ghafur (Snouck Hurgronje), baru saja pulang dari Mekkah Al-Mukarramah belajar empat mazhab dari Ahlussunnah Waljamaah, untuk menguasai perbedaan mazhab, untuk menghancurkan Islam di Aceh dari dalam, dan hadir ke Aceh dengan kharisma ulama,” katanya.

UAS mengatakan, sampai saat ini Aceh menjadi contoh bagi wilayah-wilayah lain dalam penerapan syariat Islam. Dan, kata UAS, Aceh adalah bumi para ulama, tempat bagi orang-orang saleh.

Ribuan warga mendengar tausiyah UAS dengan khidmat. Kaum laki-laki dan perempuan menempati tempat terpisah di Lapangan Tugu Darussalam itu. Tampak hadir di panggung silaturahmi tersebut, Rektor Unsyiah, Prof. Samsul Rizal dan pejabat Forkopimda Aceh.

Dalam ceramahnya, UAS juga menyinggung soal pohon kurma. Ia menyarankan supaya masyarakat Aceh giat menanam kurma, pohon yang hidup mencapai seratus tahun. “Kalau mau bertanam, maka tanamlah yang bisa kau wariskan kepada anak cucumu,” kata UAS.

UAS turut memberikan motivasi untuk memicu kreativitas para pemuda Aceh, terutama mahasiswa. “Bermimpilah! Karena orang yang tidak pernah bermimpi, tidak akan pernah melihat mimpi itu jadi kenyataan," ujar UAS.[]

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.