15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ustaz Abdul Somad Menerima Ancaman, Polisi Belum Terima Laporan

...

  • REPUBLIKA
  • 03 September 2018 15:45 WIB

Ustadz Abdul Somad menyampaikan tausiyah saat Pengajian Akbar DMI di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (25/7). @Republika/Putra M. Akbar
Ustadz Abdul Somad menyampaikan tausiyah saat Pengajian Akbar DMI di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (25/7). @Republika/Putra M. Akbar

JAKARTA - Ustaz Abdul Somad menerima pelbagai ancaman dari sejumlah pihak, sehingga ia terpaksa membatalkan rencana ceramahnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI. Yogyakarta. Namun, pihak kepolisian menyatakan belum mnerima laporan terkait hal itu.

Melalui akun Instagram resminya, mubalig kenamaan tersebut memaparkan alasan-alasan keputusannya membantalkan rencana ceramah. “Beberapa ancaman, intimidasi, pembatalan, dan lain-lain terhadap taushiyah di beberapa daerah seperti di Grobogan, Kudus, Jepara dan Semarang. Beban panitia yang semakin berat. Kondisi psikologis jamaah dan saya sendiri,” kata Ustaz Abdul Somad melalui media sosial tersebut, yang sudah dikonfirmasi republika.co.id, Senin, 3 September 2018.

“Maka, saya membatalkan beberapa janji di daerah Jawa Timur, Yogyakarta: (jadwal-jadwalnya) September di Malang, Solo, Boyolali, Jombang, Kediri; Oktober di Yogyakarta; Desember janji dengan Ustadz Zulfikar di daerah Jawa Timur,” kata Ustaz Somad.

Lulusan S-1 Universitas al-Azhar (Mesir) itu juga meminta maaf kepada seluruh kaum Muslimin yang merasa dirugikan dengan pembatalan rencana-rencana ceramah itu. Akan tetapi, dia tidak menyebutkan pihak-pihak mana yang mengintimidasinya.

Dai yang pernah menjadi pengurus Nahdlatul Ulama cabang Riau (2009-2014) itu hanya menyayangkan pelbagai kejadian penolakan yang dialaminya. “Kita bukan sedang perang melawan Israel. Wong cuman ceramah kok,” kata Ustaz Somad.

Dalam hal pengamanan, lulusan S-2 Darul Hadits El-Hassania (Maroko) itu mengapresiasi baik pihak kepolisian maupun beberapa organisasi kemasyarakatan, semisal Front Pembela Islam (FPI) dan Pemuda Pancasila (PP).

Menurutnya, mereka menunjukkan komitmen untuk mengawal hak warga negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum. Sebagai contoh, undangan ceramah Ustaz Somad di Semarang, Jawa Tengah. Ada skenario pengawalan yang dilakukan pihak kepolisian setempat, dengan dibantu FPI dan PP, sejak sekitar 1 km dari bandar udara Ahmad Yani.

Namun, Ustaz Somad merasa skenario demikian agak berlebihan untuk dilakukan kepadanya. “Energi bapak-bapak dari kepolisian lebih baik untuk menangkap kriminil. Kawan-kawan FPI dan PP fokus ke hal-hal lain,” ujar mubalig kelahiran Asahan, Sumatra Utara itu.

Polisi belum terima laporan

Pihak kepolisian hingga kini menyatakan belum menerima adanya laporan terkait intimidasi terhadap Ustaz Abdul Somad. "Dia yang mengancam siapa, saya belum dapat laporan apapun. Bisa jadi yang mengancam itu orang yang tidak senang dengan dia. Bisa jadi kelompok dia juga (yang mengancam) karena dia jadi capres tidak mau, sekarang diancam-ancam," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Pol. Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Senin (3/9), dilansir republika.co.id.

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) akan mendalami kejadian dialami Ustaz Somad tersebut agar mendapat informasi dari berbagi sisi. "Saya baru mendengar informasi ini dan akan menggali info lebih detail dengan Tim Kemenag di Jawa Timur sehingga dapat dipahami duduk soalnya secara utuh," ujar Dirjen Bimas Islam Kemenag, Muhammadiyah Amin, dihubungi, Senin (3/9).

Ia menjelaskan, pihaknya telah mengeluarkan seruan tentang ceramah di rumah ibadah. Imbauan tersebut hendaknya dapat dipahami oleh semua pihak demi terciptanya kehidupan keagamaan yang rukun dan damai. "Pada April 2017, Menteri Agama sudah mengeluarkan seruan tentang ceramah di rumah ibadah. Kemenag juga terus menggerakkan moderasi agama di kalangan penyuluh, tokoh, dan umat beragama untuk menghadirkan suasana keagamaan yang sejuk," ucapnya.

Kendati demikian, menurutnya, Kemenag belum akan mengeluarkan kebijakan terkait ceramah di rumah ibadah. Sebab, diperlukan masukan secara matang dari berbagai pihak keagamaan di Indonesia. "Soal kebijakan, saya kira kami perlu lebih banyak mendengar masukan, utamanya dari ormas keagamaan, utamanya MUI," ungkapnya.

Di sisi lain, ia menilai kegiatan dakwah adalah hal positif, terlebih dalam kerangka meningkatkan kualitas kehidupan dan kerukunan umat beragama. Tentunya, Kemenag mendukung para tokoh agama dalam kegiatan dakwahnya. "Kemenag juga tengah menggencarkan upaya moderasi agama," ungkapnya.

Sebelumnya, Ustaz Somad memang kerap ditolak berceramah di wilayah Jawa Tengah. Seperti pada akhir Juli lalu, beredar surat yang mengatasnamakan Markas Komando Jawa Tengah Patriot Garuda Nusantara (PGN) tersebar lewat internet.

Surat tersebut ditujukan kepada Kapolda Jawa Tengah. Isinya mendesak agar kepolisian tidak mengizinkan tabligh akbar yang akan mengundang Ustaz Abdul Somad di Pedurungan, Mijen, Kota Semarang, pada 30-31 Juli 2018. Selain itu, disebutkan di dalamnya dalih bahwa dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau itu merupakan 'corong' dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

HTI kini berstatus organisasi terlarang sejak berlakunya Perppu Nomor 2 Tahun 2017. "Apabila Sdr Abdul Somad tetap hadir menjadi pembicara dalam acara tersebut, kami Patriot Garuda Nusantara (PGN) Jateng akan melakukan Aksi Perlawanan," demikian kutipan dari surat tersebut, yang disertai tanda tangan "Panglima Tertinggi" PGN Dr KH Nuril Arifin Husein MBA dan Ketua PGN Jawa Tengah Mohammad Mustofa Mahendra.

Namun, Polda Jawa Tengah saat itu tetap mengamankan jalannya acara tabligh akbar dengan Ustaz Somad di Unissula. Saat itu, Kapolda Jateng Inspektur Jenderal Polisi Condro Kirono mengimbau agar tidak ada pihak yang memaksakan kehendak, menolak kedatangan Ustaz Abdul Somad. "Surat tanda terima pemberitahuan tentang kegiatan yang di Unissula itu tetap kita keluarkan dan kita berikan pengamanan," kata Condro.[] Sumber: republika.co.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.