21 September 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Akan Dijadikan Ruang PINERE Pasien Covid-19
Wali Kota Lhokseumawe Minta Dayah Mataqu Kosongkan Eks-SMP 1 Arun, Mendadak?

...

  • PORTALSATU
  • 09 September 2020 18:35 WIB

Kegiatan belajar mengajar di Dayah Mataqu Lhokseumawe menggunakan eks-SMP 1 Arun. Foto: istimewa
Kegiatan belajar mengajar di Dayah Mataqu Lhokseumawe menggunakan eks-SMP 1 Arun. Foto: istimewa

LHOKSEUMAWE - Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, meminta Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Quran (Mataqu) mengosongkan bangunan eks-SMP 1 Arun yang selama ini digunakan untuk operasional dayah itu. Alasannya, Pemerintah Kota Lhokseumawe akan membangun Ruang Rawat PINERE Pasien Covid-19 di bekas gedung SMP tersebut.

Eks-SMP tersebut berada dalam Kompleks Perumahan PT Arun di Batuphat, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Perumahan itu sekarang ditempati karyawan PT Perta Arun Gas (PAG). Di kompleks perumahan itu juga ada rumah sakit yang sekarang dikelola Perusahaan Daerah Pembangunan Lhokseumawe (PDPL).

Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, menyurati Pimpinan Dayah Mataqu agar mengosongkan eks-SMP 1 Arun itu melalui surat tanggal 31 Agustus 2020 bernomor: 050/682. Dalam surat itu disebutkan, sesuai Surat Edaran Plt. Gubernur Aceh Nomor: 440/10813/2020 tentang Penyiapan Ruangan Isolasi dan Karantina OTG Covid-19 di setiap rumah sakit umum di Aceh, serta Instruksi Gubernur Aceh untuk setiap rumah sakit umum daerah di seluruh Aceh mewajibkan penyiapan Ruang Rawat PINERE (Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging) yang nyaman sesuai standar pengamanan pasien Covid-19.

“Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka Pemerintah Kota Lhokseumawe akan membangun Ruang Rawat PINERE Pasien Covid-19 yang berlokasi di Eks SMP 1 Arun Kota Lhokseumawe, maka dengan ini kami meminta kepada Pimpinan Dayah MATAQU untuk dapat mengosongkan lokasi tersebut yang selama ini digunakan sebagai tempat operasional pendidikan Dayah Ma’had Ta’limul Quran (MATAQU) Lhokseumawe. Dapat kami sampaikan bahwa demi efektivitas dan efisiensi maka pengosongan lokasi diharapkan dapat dilakukan selama 7 (tujuh) hari paling lambat sampai dengan 7 September 2020,” bunyi surat Wali Kota Lhokseumawe itu, diperoleh portalsatu.com dari satu sumber, 9 September 2020.

Belum siap pindah

Pimpinan Dayah Mataqu Utsman Bin Affan Lhokseumawe, Ustaz Azhar Ibrahim, SQ., dikonfirmasi portalsatu.com melalui telepon seluler, Rabu, 9 September 2020 siang, mengatakan pihaknya menerima surat Wali Kota itu pada 31 Agustus 2020. “Sudah kami cek, itu memang surat asli dari Pemko Lhokseumawe. Kami akan membalas surat itu, mungkin hari ini atau besok, kami masukkan ke kantor wali kota,” ujarnya.

“Pada prinsipnya, kami siap pindah, mendukunglah program Pak Wali dengan Instruksi Gubernur untuk membangun ruangan PINERE itu. Tapi kondisi kami yang jadi masalah. Kalau sekarang langsung kami diminta pindah, kondisnya belum siap. Karena kondisi fasilitas yang ada di Alue Lim (Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe) memang sangat tidak mencukupi. Kondisi di Alue Lim hanya cukup untuk anak didik yang ada di sana untuk tempat belajar,” tutur Ustaz Azhar Ibrahim.

Ustaz Azhar menyebut Dayah Mataqu Lhokseumawe didirikan tahun 2013. “Dayah dengan konsentrasi santri hafalan Alquran, bahasa Arab, dan (pengajian) kitab-kitab,” ucapnya.

Menurut dia, Dayah Mataqu menggunakan eks-SMP 1 Arun Lhokseumawe sejak tahun 2013 dengan status pinjam pakai atas izin dari manajemen PT Arun. Pada tahun 2018, kata dia, pihaknya membangun fasilitas dayah ini di Alue Lim. “Sebagian santri kami pindahkan dari Arun ke Alue Lim sejak Juli 2019. Saat ini jumlah santri dan santriwati Dayah Mataqu di Arun sekitar 300 orang, dan di Alue Lim sekitar 130 orang. Santri dan santriwati itu dari seluruh Aceh, dominan putra putri Lhokseumawe. Mereka mondok,” ujar Ustaz Azhar.

Ustaz Azhar mengatakan sejak pihaknya menggunakan bangunan di Kompleks Perumahan Arun, baru sekarang tiba-tiba datang surat dari Wali Kota Lhokseumawe meminta Dayah Mataqu mengosongkan eks-SMP 1 itu. Sebelumnya, kata dia, Wali Kota memang sudah membentuk tim pengembangan Rumah Sakit Arun, sekitar enam bulan lalu. “Cuma dalam perjalanan tidak ada konfirmasi apapun dari tim itu, tiba-tiba datang surat (Wali Kota) itu kepada kami sekitar tujuh hari lalu,” ungkapnya.

Menurut Ustaz Azhar, pihaknya belum mengosongkan bangunan eks-SMP 1 Arun, meskipun dalam surat Wali Kota Lhokseumawe itu diharapkan pengosongan dilakukan paling lambat 7 September 2020, sudah lewat dua hari.

“Dalam surat balasan nanti, kami meminta semacam kelonggaran, mungkin pergeseran waktu. Ataupun andaikata kami memang harus pindah, kemana bisa dialihkan, mungkin ada alternatif tempat yang bisa menampung kami. Yang paling kami merasa terdesak, kalau bisa jangan dalam waktu dekat seperti ini. Karena memindahkan sekitar 300 anak didik memang agak berat dengan segala fasilitas dan kelengkapan anak-anak,” ujar Ustaz Azhar. 

(Santri Dayah Mataqu Lhokseumawe. Foto: Istimewa)

Tiket umrah dari Wali Kota

Dayah Mataqu Lhokseumawe sudah mengukir sederet prestasi, walau usianya masih muda. Bahkan, dua santri dayah tersebut mendapat tiket umrah dari Wali Kota lantaran telah mengharumkan Kota Lhokseumawe.

“Alhamdulillah, ada dua santri mendapatkan tiket umrah dari Pak Wali Kota Lhokseumawe. Satu orang juara tingkat nasional mewakili Aceh di STQHN di Kalimantan. Satu lagi juara tingkat Provinsi Aceh,” tutur Ustaz Azhar.

Muhammad Akrim Zaki, santri Dayah Mataqu Lhokseumawe, yang mewakili Provinsi Aceh pada Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis tingkat Nasional (STQHN) tahun 2019 di Kalimantan Barat, berhasil memperoleh nilai tertinggi yaitu 97,5, sekaligus sebagai pemenang Cabang Hafalan 100 Hadis kategori putra. 

Sedangkan Aisyah, santriwati Dayah Mataqu Lhokseumawe, juara pertama Tafsir Bahasa Arab tingkat Provinsi Aceh. “Aisyah akan mewakili Aceh ke tingkat nasional di Padang, Sumatera Barat, pada November 2020 mendatang,” pungkas Ustaz Azhar.

Penjelasan Wali Kota

Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, mengatakan pihaknya harus menyiapkan Ruang Rawat PINERE Pasien Covid-19 yang lokasinya dekat dengan rumah sakit. “Tidak boleh jarak dengan rumah sakit, ya, minimal 50 atau 100 meter. Kalau sampai kiloan (kilometer) tidak diizinkan oleh provinsi,” kata Suaidi Yahya menjawab portalsatu.com di Gedung DPRK Lhokseumawe, Rabu, 9 September 2020, sore.

Suaidi mengatakan itu saat ditanyakan, apa pertimbangannya meminta Dayah Mataqu mengosongkan eks-SMP 1 Arun, mengapa tidak menggunakan bangunan-bangunan lain sebagai alternatif untuk Ruang Rawat PINERE.

Disinggung soal banyak bangunan lain di Kompleks Perumahan Arun itu, Suaidi mengatakan, “Karena itu (eks-SMP 1) senyawa dengan Rumah Sakit Arun. Tempat (Dayah) Mattaqu itu menjadi denah pengembangan Rumah Sakit Arun. Cuman Mataqu itu dipinjamkan (pinjam pakai, red) kepada kita untuk sementara sampai menunggu kesiapan gedung dia di Alue Lim. Tapi kita pantau, kita tinjau dengan MPD (Majelis Pendidikan Daerah), dan seluruh unsur, itu sudah siap, sudah diaktifkan, kenapa belum pindah”.

“Dan sudah kita berikan waktu untuk persiapan (pindah) sampai 7 September 2020, tapi belum juga beliau pindah ke sana (Alue Lim). Dan kita sudah surati LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara), LMAN juga sudah menyurati Mataqu untuk pindah. Kita sudah koordinasi juga dengan LMAN, LMAN mengatakan itu sepenuhnya hak Pemerintah Kota Lhokseumawe. Karena tempat yang digunakan oleh Mattaqu itu resmi untuk pengembangan Rumah Sakit Arun,” tutur Suaidi.

Soal Pimpinan Dayah Mataqu meminta kelonggaran waktu atau diberikan solusi alternatif untuk bisa pindah ke tempat lain, Suaidi mengatakan, “Kita sudah beberapa kali memberi kelonggaran. Mungkin kita memberi kesempatan ini (pindah dari eks-SMP 1 Arun) dua bulan, tiga bulan, hampir empat kali, tiga kali, kita beri kesempatan. Pertimbangan kita adalah untuk persiapan-persiapan pindah. Ada kemarin itu kita beri waktu dua bulan untuk persiapan pindah, tapi enggak juga (pindah)”.

“Kita tambah lagi (waktu) karena belum kita pakai. Okelah dalam persiapan kita belum pakai itu untuk pengembangan rumah sakit, karena kita memerlukan pengembangan Rumah Sakit Arun untuk kamar rawat inap yang kurang. Kita beri kesempatan, tapi orang itu sepertinya belum ada persiapan untuk pindah, makanya terpaksa kita surati lagi Mataqu, kita beri limit waktu untuk pindah,” tambah Suaidi.

Sampai kapan diberi waktu untuk Dayah Mataqu pindah dari eks-SMP 1 Arun itu? “Ini karena kita untuk kepentingan covid maka kita beri satu minggu kemarin (sampai 7 September 2020, red), karena kita akan membentuk Ruangan PINERE Pasien Covid. Ini tidak bisa lagi kita beri limit waktu kepada orang ini karena kita mendadak penting, semua daerah diwajibkan. Seluruh Indonesia itu diwajibkan. Apalagi di Aceh, keputusan Gubernur itu harus (siapkan Ruang Rawat PINERE). Kita diberi waktu juga, dalam setengah bulan enggak siap, kita kena sanksi juga,” tutur Suaidi.

Darimana sanksinya? “Dari Pemerintah Aceh. Ini kan ada keputusan Pemerintah Aceh. Kita diberi bantuan menyangkut covid dalam menangani pasien, kita perlu juga ini, karena pasien ini enggak mungkin di (RSUD) Cut Meutia (milik Pemkab Aceh Utara) lagi nanti. Kita kan ini untuk antisipasi,” kata Suaidi.

Wali Kota Suaidi menegaskan sudah beberapa kali menyurati Pimpinan Dayah Mataqu untuk pindah dari eks-SMP 1 Arun itu, bukan baru sekali. “Sudah banyak kita surati, LMAN juga surati mereka, kita juga surati mereka, karena kita akan melakukan pengembangan Rumah Sakit Arun. Nanti kita solusinya apabila itu memang tidak cukup dan tidak muat (pasien Covid-19 di eks-SMP 1 Arun yang akan dijadikan Ruang Rawat PINERE), kita akan cari tempat lain lagi. Ini apabila. Tapi kita harapkan ini tidak terjadi di Lhokseumawe,” ujarnya.

Suaidi mengakui status eks-SMP 1 Arun itu masih aset di bawah LMAN. “Punya LMAN, tapi pengelolaannya kita,” pungkas Wali Kota Lhokseumawe itu.[](nsy)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.