15 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Yusril Ihza Mahendra: Pergantian Kekuasaan Politik di Aceh Tidak Menggugurkan Niat dan Ikrar Muwaqif Baitul Asyi

...

  • portalsatu.com
  • 10 March 2018 22:00 WIB

BANDA ACEH - Pergantian kekuasaan politik di Aceh tidak menggugurkan niat dan ikrar muwaqif (orang yang berwakaf). Hal ini termasuk posisi tanah wakaf milik masyarakat Aceh yang berada di Mekkah, Arab Saudi. 

Demikian kesimpulan yang disampaikan pakar Hukum Tata Negara, Prof Yusril Ihza Mahendra, menyikapi rencana Pemerintah Indonesia mengambil alih pengelolaan tanah wakaf milik masyarakat Aceh di kawasan Masjidil Haram, Arab Saudi. 

"Kalau itu merupakan tanah wakaf yang diserahkan oleh muwaqif (orang yang bewakaf) dengan niat yang dilafazkan untuk kepentingan orang Aceh, dan sepanjang keberadaannya tanah tersebut dikelola oleh nazir yang telah berganti generasi, namun tetap dimanfaatkan untuk tujuan semula, maka menurut pendapat saya niat asal dari muwakif tetaplah harus berlaku. Artinya kemanfaatan tanah tersebut tetaplah untuk kepentingan orang Aceh yang menunaikan ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya," kata Yusril kepada awak media, Sabtu, 10 Maret 2018. 

Dia mengatakan keberadaan masyarakat Aceh dapat digolongkan sebagai kesatuan masyarakat adat, yang hingga kini keberadaannya masih ada sebagaimana dimaksud oleh UUD 1945. Pada waktu wakaf diikrarkan, menurut Yusril, Kesultanan Aceh masih eksis. Namun, kesultanan ini runtuh akibat peperangan dengan Belanda. 

"RI kemudian berdiri dan wilayah Aceh menjadi bagian dari wilayah RI. Pergantian kekuasaan politik di Aceh, dalam pandangan saya, tidaklah menggugurkan niat dan ikrar muwaqif semenjak awal bahwa tanah yang diwakafkan adalah untuk kepentingan orang Aceh, terlepas dari kekuatan politik mana yang berkuasa di Aceh," kata Yusril lagi. 

Menurut Yusril keberadaan masyarakat Aceh sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang masih eksis, dituangkan dengan jelas, baik dalam UU Tentang Nanggroe Aceh Darussalam maupun dalam UU Pemerintahan Aceh yang berlaku sekarang. Inilah dasar keberadaan Wali Nangroe yang menjadi simbol adat dan budaya Aceh. 

"Saya sekarang sedang berada di Papua Barat. Jika ada waktu yang cukup, saya akan bahas masalah wakaf ini agak mendalam, baik dari sudut hukum Islam maupun dari sudut hukum Indonesia. Saya siap membantu masyarakat Aceh menyelesaikan masalah ini, sebagaimana di waktu-waktu yang lalu, saya tidak pernah absen membantu masyarakat Aceh sebagai amanat langsung almarhum Tengku Daud Beureuh kepada saya, dan juga amanat guru saya Alm Prof Osman Raliby," ujar Yusril Ihza Mahendra.[]

Editor: BOY NASHRUDDIN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.