15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tarekat Naqsyabandiah (IV): Abuya Muda Waly Sosok Pelopor Naqsybandiah Aceh  

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 10 October 2016 11:20 WIB

Alm Abuya Syaikh Muda Waly Al-Khalidy (Abuya Muda Waly). @darussalamalwaliyyah.blogspot.co.id
Alm Abuya Syaikh Muda Waly Al-Khalidy (Abuya Muda Waly). @darussalamalwaliyyah.blogspot.co.id

SYEKH Muda Waly nama aslinya adalah Muhammad Waly, beliau dilahirkan pada tahun 1337 H (1917 M) di Desa Blang Poroh, Kecamatan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Ayahnya bernama Teungku Syekh Haji Salim bin Malim Palito yang berasal dari Kota Baru, Batu Sungkar, Sumatera Barat. Ibunya bernama Janadat binti Keucik bin Nyak Ubid yang berasal dari Blang Poroh, Labuhan Haji.[1] Semenjak kecil beliau mendapat pendidikan dari orang tuanya sendiri, beliau mempelajari pokok-pokok ajaran Islam. Pada tahun 1926, beliau dimasukkan orang tuanya pada sekolah desa (Volk School) di Kuta Trieng. Selanjutnya beliau pindah ke sebuah dayah yang bernama ”al-Jamiatu al-Khairiah”.

Hampir dua tahun lamanya belajar di sini, kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke Dayah Bustanul Huda di Blang Pidie. Pesantraen ini dipimpin oleh seorang ulama besar yang berasal dari Aceh Besar, yaitu Syekh Mahmud. Di sini beliau mendalami ilmu bahasa Arab, Tasawuf, Tafsir dan lain-lain. Dalam tempo yang tidak seberapa lamanya menempuh pendidikan di Dayah Bustanul Huda Aceh Selatan ini, kemudian beliau melanjutkan pendidikan di beberapa dayah terkenal di Aceh Besar. Di sinilah beliau lebih mendalami ilmu tajwid dan al-Qura’an pada seorang ahli qiraah yang sangat terkenal pada masa itu.[2]
           

Singkat cerita pada akhir tahun 1934 Syekh Muda Waly di kirim ke Padang untuk belajar di beberapa pusat pendidikan agama. Di sini di samping menuntut ilmu, beliau juga berusaha melakukan dakwah Islamiah dan pengajian-pengajian dari mesjid ke mesjid dan sering mengadakan muzakarah dengan ulama-ulama setempat untuk mempertajam ilmu yang beliau miliki. Usaha yang beliau lakukan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat setempat. Sejak saat itu nama beliau mulai kesohor dengan sebutan Teungku Muda Waly.[3]

Sebagai seorang muslim yang taat beragama. Beliau mengambil inisiatif untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 1939 dan di sana berkesempatan pula belajar pada seorang ulama besar Masjidil Haram yaitu pada Syekh Ali Maliki. Belajar pada ulama Mekkah Al-Mukarramah sudah menjadi kebiasaan para ulama terdahulu sambilan menunaikan rukun Islam yang ke lima tersebut. Disinilah beliau mendapat pembendaharaan ilmu dari ulama kenamaan di jazirah Arab ini. Beliaupun mendapatkan ijazah dari ulama tersebut.[4]

Sekian lamanya menuntut ilmu di negeri Haramain tersebut. Akhirnya beliau pulang ke tanah air. Syekh Haji Muda Waly sekembali dari menunaikan ibadah haji, mengambil Tarekat Naqsyabandiyah pada seorang ulama besar tarekat Naqsyabandi yaitu Syekh Haji Abdul Ghani Al-Kamfari di Batu Basurek, Kampar Sumatera Barat. Beliau juga mengembangkan tarekat tersebut di tanah Padang dalam tempo beberapa tahun di pesantren yang ada di wilayah Sumatera Barat itu. Akhir tahun 1939 beliau mengambil inisiatif untuk mengakhiri musafir ilmu dengan kembali ke Aceh Selatan.[5]

Di Gampong Blang Poroh, Labuhan Haji, kabupaten Aceh Selatan di tempat inilah beliau mendirikan sebuah dayah yang sekarang ini dikenal dengan Dayah Darussalam, beliau mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah di pesantren tersebut. Adapun pelaksanaan tarekat tersebut dalam bentuk: pertama disebut dengan suluk. Yang kedua disebut dengan tawajjuh. Kegiatan amalan suluk dan tawajjuh masih berlangsung sampai sekarang ini.

Beliau begitu bersemangat dalam menyebarkan tarekat ini. Berkat kerja keras dan bantuan murid serta anak beliau sendir, akhirnya tarekat Naqsyabandi berkembang hampir di seluruh Aceh sampai saat ini. Dalam usia tergolong masih muda sebagai seorang ahli tarekat dan pendakwah. Akhirnya pada tahun 1961 tepatnya pada tanggal 20 Maret 1961 (11 Syawal 1318 H) Syekh Haji Muhammad Waly al-Khalidi di panggil kehadirat ilahi rabbi untuk selamanya. Kuburan beliau di semanyamkan dalam komplek dayah.[6]
 

[1]Muhibbudin Waly, Maulana Syeikh Haji Muhammad …, h. 53.

[2]Tim Penulis IAIN al-Raniry, Ensiklopedi pemikiran ulama Aceh, cet. I, (Banda Aceh: al-Raniry Press, 2004), h. 318.

[3]Muhibbudin Waly , Ayahhanda Kami Maulana Syekh Muhammad Waly …, h. 57-64.

[4]Shabri A. dkk. Biografi ulama-Ulama Aceh Abad XX, jilid I, Cet. II, (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, 2003), h. 82.

[5] Shabri A. dkk. Biografi ulama-Ulama…, h. 83.

[6] Muhibbudin Waly , Ayahhanda Kami Maulana …,  h. 138.[]

*Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Staf Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga dan Sekretaris LP2M IAI Al-Aziziyah Samalanga.

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.