13 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aba Asnawi: Hindari Taklid dan Selektif Memilih Guru Mendalami Ilmu Tauhid Kalamiah

...

  • Jamaluddin
  • 05 November 2018 12:00 WIB

Tgk. Heru Saputra bersama Aba Asnawi di Balee Lhok Pawoh, Lambaro, Ingin Jaya, Aceh Besar. 4 November 2018. @istimewa
Tgk. Heru Saputra bersama Aba Asnawi di Balee Lhok Pawoh, Lambaro, Ingin Jaya, Aceh Besar. 4 November 2018. @istimewa

JANTHO - Pimpinan Dayah Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI) Lamno, Syekh H. Aba Asnawi Ramli, mengisi pengajian kajian rutin bulanan  alumni Dayah BUDI, di Balee Lhok Pawoh, pimpinan Tgk. Heru Saputra, Lambaro, Ingin Jaya, Aceh Besar, 4 November 2018.

Alumni Dayah BUDI Lamno, Tgk. Mustafa Husen Woyla, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan beberapa ringkasan dari hasil kajian itu. Di antaranya, tidaklah mencukup diri dengan merasa aman dan suci dari bahaya taklid yang masih diperselisihkan dan memperkeruh iman, kecuali orang berjiwa rendah dan ber-himmah (kemauan) hina. Seyogianya Muslim itu masuk ke orang-orang berilmu.

Sebagaimana Allah menyatakan dalam firman-Nya, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah). (QS. Ali 'Imran: 18)

Sabda Rasulullah SAW., dari Abu Umamah ra., "Akan datang fitnah di akhir zaman, di pagi hari orang berstatus mukmin dan sorenya sudah menjadi kafir, kecuali orang yang dijaga oleh Allah dengan ilmu." (HR. at Tabrani)

Oleh karena itu, kata Tgk. Mustafa Husen Woyla mengutip penjelasan Aba Asnawi, hindari sebisa mungkin taklid (mengikuti pendapat  tanpa mengetahui sumber atau dalilnya) dalam akidah atau lebih makruf disebut ilmu kalam.

"Maka hati-hatilah dalam segala urusan yang ditempuh oleh orang berakal, apalagi terkait dengan keimanan yang merupakan modal utama manusia, yang di atasnya semua kebaikan dibangun," demikian antara lain isi kajian yang disampaikan Aba Asnawi saat membahas muqaddimah kitab Hasyiyah ad-Dasuqi 'ala Ummil Baraahin, karya Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi.

Tgk. Mustafa menambahkan, saat kajian itu, Aba Asnawi juga berpesan tentang harus selektif dalam memilih guru untuk mendalami Ilmu Tauhid Kalamiah.

Di masa Imam as Sanusi sudah memperingatkan hati-hati dalam memilih guru dalam ilmu akidah. Pilih guru yang sudah dikukuhkan cahaya hatinya, zuhud hatinya dari dunia. Punya perhatian kepada orang yang miskin ilmu (awam yang baru belajar) dan orang mukmin yang lemah pemahamannya. Dan di zaman ini (masa Imam as Sanusi, 9 H/15 M) sudah jarang guru punya kriteria seperti dimaksud. Jika ada, maka dekati dan belajarlah kepadanya.

Jika ada guru yang tidak mampu menguraikan peliknya ilmu kalam maka jauhi, karena lebih besar kerancuan dan kesesatan (mafsadah). "Juga, wajib hindari, mempelajari ilmu akidah yang penuh dengan kalam filosuf, para penulisnya mengantungkan diri dengan mengutip kegilaan mereka yang merupakan kekufuran yang nyata, yaitu akidah-akidah yang kenajisannya mereka tutupi dengan berbagai istilah dan ungkapan yang samar- samar, sulit dipahami dan hanya merupakan istilah-istilah tanpa subtansi, seperti kitab al Fakr ar-Razi tentang ilmu kalam, kitab Thawali' karya al Baidhawi dan yang sepaham dengan mereka".

"Mereka jarang mendapat petunjuk karena menekuni ilmu kalam yang penuh dengan pendapat para filosuf yang belum mendapat cahaya keimanan di hati atau lisan," ujar Aba Asnawi bersemangat men-syarah teks kitab Muktabarah yang menjadi rujukan utama tauhid asy'ariyyah, ahlussunah wal jamaaah itu.

"Bagaimana beruntung, orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya yang membakar haibah kepada Allah (haibah: rasa takut disertai rasa hormat), membuang syariat di belakang punggungnya, dan mengajak orang lain dengan cara memoles dengan istilah-istilah yang sulit dimengerti orang".

"Sungguh sebagian orang telah terlalaikan, sehingga Anda lihat mereka memuliakan pendapat para filosuf yang dimurkai Allah dengan mengutip berbagai kebodohan mereka karena cinta pangkat dan agar menjadi populer dan dianggap intelektual, padahal hanya memcampuradukkan kegilaan dan kekufuran".

"Terkadang, orang awam juga ikut menyibukkan diri mengikuti kajian para filosuf itu, dan meninggalkan metode kaum as-Salaf ash- Shalih. Semua ini karena mereka telah (tertutup) mata hatinya dari pintu anugerah Allah dan dibuka pintu murka. Mereka benar-benar bodoh karena melihat kegelapan sebagai cahaya dan cahaya sebagai kegegalapan," demikian pesan Aba Asnawi di akhir bahasan mukadimah kitab yang penuh dengan yang sangat asasi dan mendasar.[](rel)
 

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.