13 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Apakah Keberuntungan Itu Ada?

...

  • PORTALSATU
  • 07 November 2018 19:00 WIB

ilustrasi. Foto: ist/net
ilustrasi. Foto: ist/net

Oleh Taufik Sentana*

Dari pengalaman hidup sehari-hari dan beberapa peristiwa yang sempat kita amati, akan selalu ada sisi pahit dan manis, susah dan senang, atau untung dan rugi. Bila kita memandangnya dari satu sisi saja dan tanpa landasan perspektif yang tepat, akan membuat kita sombong atau putus asa.

Mendapatkan musibah dan berada pada kondisi yang sulit, bila ditilik agaknya seperti bukan keberuntungan. Tapi sebagai mukmin, kita di antara rangkaian ikhtiar terus menerus. Kita hanya melakukan yang semestinya dilakukan oleh hamba dan manusia yang baik.

Semua hasil yang kemudian disebut rezeki, nikmat dan keberuntungan hanyalah bagian dari takar yang telah disesuaikan. Berada dalam pandangan ini, kita akan selalu awas diri, tidak sedih secara berlebih dan tidak pula berbangga-bangga diri.

Bila rezeki umumnya identik dengan yang kita usahakan, dan nikmat sebagai pemberian Allah secara lahir dan batin, maka keberuntungan adalah pertimbangan dari akumulasi keutamaan yang tampak. Bisa jadi yang kita anggap sebagai keberuntungan, bukanlah keberuntungan. Apalagi bila hal tersebut tidak membuat kita lebih baik. Terlahir dalam keluarga kaya di kondisi masyarakat yang  damai, tampaknya keberuntungan (materil) dan sekaligus nikmat (spiritual). Tapi apakah akan selalu begitu? Nikmat dan keberuntungan bisa berganti petaka dan kerugian.

Saat Qarun membawa pundi-pundi emas di hadapan masyarakat, mereka merasa beruntung bila berada dalam kondisi si Qarun. Tapi tatkala menyadari akan apa yang terjadi pada Qarun kemudian, mereka pun tersadar.

Begitu pula dari kondisi "sosiologis" kita terkini, perihal mengikuti tes ASN (sebagian belum), ada unsur keberuntungan yang diukur dalam takaran-Nya yang tidak kita ketahui, hingga ada yang justru lulus adalah ia yang biasa-biasa saja secara akademik dan status sosial. Sementara yang lain mengeluhkan soal-soalnya yang terlalu berat dan mekanisme penilaiannya yang tidak adil.

Jadi, untuk menjadi beruntung sepertinya cukup dengan mengamalkan semua kebaikan yang kita ketahui lewat syariat yang diyakini, walau hasilnya bisa saja tidak kontan ditakar/ditukar oleh-Nya berupa bendawi.[]

*Taufik Sentana
Guru dan Anggota Ikatan Dai Indonesia Kab. Aceh Barat.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.