24 January 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bagaimana Seorang Muslim Menghibur Dirinya?

...

  • portalsatu.com
  • 10 January 2019 11:00 WIB

Oleh Taufik Sentana*

Sering diingatkan bahwa menjadi muslim adalah nikmat terbesar, selain iman, waktu dan kesehatan. Selain karena Allah, kita menjadi muslim karena lingkungan keluarga kita juga menganut agama ini. Maka dianjurkan kita bersyukut atas nikmat kedua orang tua  dalam hal keislaman mereka, bila tidak, tentu kita tak tahu keyakinan apa yang kita anut saat ini.

Mendapatkan Islam sebagai agama sama halnya menikmati cahaya. Tapi, alangkah sulit menikmatinya bila kita tak "mengenal" gelap. Sehingga wajar bila seorang muallaf akan tersa sekali bahagianya ketika menjadi muslim. Karena ia mendapatkan agama ini setelah proses yang panjang dan dengan dasar ilmu yang lengkap pula.Sedang kita, yang dilahirkan dalam keluarga muslim hanya perlu bersyukur atas nikmat Islam sambil terus mempertebal amal dan keyakinan.

Sebagai manusia biasa kita selalu berhadapan dengan persolaan dan kemelut hidup. Mengalami masa gagal dan sukses, merasakan pahit dan senang, suka dan duka.

Jadi dalam menjalani kenyataan di atas, kita selalu dalam posisi yang tidak menentu, penuh keluh kesah dan mungkin saja keingkaran. Bagi seorang muslim yang menyadari fungsi kediriannya dengan baik, tentu akan mudah baginya untuk memosisikan diri dalam keadaan apapun. Sehingga ia tetap dengan merasa bahagia, tercukupi dan memberi manfaat bagi lingkungannnya.

Diantara kebiasaan baik yang dapat "menghibur diri" seorang muslim adalah hal-hal berikut:

Pertama, mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri (sehat dan kuat), duduk (istirahat dan santai) dan dalam keadaan berbaring (sakit dan lemah).

Kedua, memperhatikan ciptaan Allah dan mengambil pelajaran dari sifat, fenomena dan karakteristik ciptaanNya. Dengan demikian, saat ia susah, ia membawa dirinya agar tak terjebak dalam kegundahan, yaitu dengan melihat ke luar dirinya agar ia kembali menyadari bahwa  semua makhluk terikat dengan takdirnya masing masing, dan iapun tersadar akan kelebihannya dibanding makhluk lainnya.

Ketiga, memanfaatkan waktu akhir malam sebagai medium taqarrub dan membangun kekuatan baru sambil meminta Ilham dari Yang Memiliki Dirinya.

Keempat, tetap memelihara ketaatan dengan menjalankan kewajiban diri dan keluarga. Lalu memghiasi kewajiban tersebut dengan variasi amal yang lain seperti membaca Quran, memlelajari sejarah dan membangun interaksi yang lebih positif di tengah keluarga.

Kelima, melibatkan diri dalam kegiatan sosial. Yaitu dengan membuka diri terhadap orang lain. Belajar mendengarkan dan berusaha memberikan yang terbaik dari yang kita miliki. Walau hanya sekadar senyum tulus atau membantu mengangkat barang bawaan orang lain, atau berkunjung dan memperluas pergaulan secara positif.

Intinya, seorang muslim dapat menghibur dirinya dalam keadaan apapun dengan cara-cara yang tidak menjauhkannya dari Allah. Apalagi sampai bermaksiat dan melakukan hal kriminal. Sebab ia telah tahu betul bahwa ucapan " segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan" merupakan pesan terbaik yang pernah diwariskan Nabi kita Muhammad SAW.[]

*Taufik Sentana
Bergiat di Bid. Pengembangan SDM
Staf Ikatan Dai Indonesia.

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.