13 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Belajar Mitigasi Tsunami dari Manuskrip Aceh

...

  • PORTALSATU
  • 26 December 2018 13:10 WIB

Kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A. Hamid, mengumpulkan 600 manuskrip Aceh sejak tahun 1995. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A. Hamid, mengumpulkan 600 manuskrip Aceh sejak tahun 1995. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Tarmizi A. Hamid duduk di kursi bambu depan teras rumahnya. Pria 52 tahun itu menikmati kopi pagi sambil membaca kitab kuno bertulisan Arab-Melayu guratan tinta ulama Aceh terdahulu. Sesekali, kolektor manuskrip Aceh itu menggelengkan kepala saat menghayati beberapa kalimat di dalamnya yang berisi nasihat tentang bencana.

Kisah tentang peristiwa bencana yang pernah dialami para leluhur itu terus dibuka tiap lembarannya. Tarmizi begitu menghayati seolah diingatkan kembali pada peristiwa tsunami Aceh 14 tahun silam.

Kitab tanpa nama karya ulama dan pemikir sufi abad ke-18 tersebut, ternyata telah mencatat bencana alam yang melanda negeri Serambi Mekkah, jauh sebelum peristiwa gempa dan tsunami 26 Desember 2004 menewaskan ratusan ribu nyawa. Ilmuan Aceh terdahulu telah meninggalkan tradisi tentang kebencanaan yang dituangkan dalam sebuah karya tulisan.

Bencana yang kerap terjadi di Aceh menjadi bahan bagi pemikir mengumpulkan fakta-fakta dan menyusunnya dalam sebuah karya tulisan. Selain diceritakan turun-temurun, sesuai kondisi dan kemampuan leluhur pada masa itu. Mereka juga mewariskan pengetahuan dalam manuskrip dan bertutur sesuai dengan geografis wilayah di Aceh.

“Dengan membaca manuskrip, kita mengetahui apa yang telah dilakukan oleh orang-orang masa itu. Seandainya manuskrip ini tidak ada, kita tidak mengetahui apa yang terjadi di masa lalu. Kandungan di dalamnya memberi ilmu pengetahuan pada manusia sekarang ini terutama tentang kebencanaan,” kata Tarmizi, Selasa, 25 Desember 2018.  

Pada bab khusus menceritakan tentang kebencanaan ternyata ditemukan adanya literasi yang terputus mengenai kearifan lokal. Yaitu budaya mitigasi bencana masyarakat terdahulu seperti teriakan Ie Beuna (air laut akan naik ke darat) istilah di wilayah pesisir daratan Aceh dan Smong (tsunami) yang digunakan masyarakat kepulauan Simeulue.

“Pada masa lalu Aceh dikenal dengan teriakan Ie Beuna sebagai peringatan air laut akan naik, kalau di wilayah Simeulue ada namanya Smong. Kenapa ada dua bahasa ini, karena memang Aceh dari dulunya rawan akan bencana seperti gempa dan tsunami. Dulu saat gempa besar itu semua masyarakat berteriak Ie Beuna begitu juga di Simeulue ada istilahnya Smong, jika terjadi gempa maka warga saat itu langsung mencari tempat tinggi,” ujarnya.

Dua kata ini mengartikan tentang gelombang besar yang memiliki daya rusak hebat serta dapat memusnahkan apa saja yang didahuluinya ketika naik ke darat setelah terjadi gempa bumi. Kata ini menjadi salah satu sistem kearifan lokal untuk mengantisipasi dini ketika menghindari bencana alam tsunami.

Tarmizi menceritakan, Ie Beuna di Aceh dikenal di semua pesisir khususnya di Banda Aceh dan Aceh Besar sebagai pusat kerajaan Bandar Aceh Darussalam. Menurutnya, sebelum tsunami 14 tahun lalu pada masa Kesultanan Aceh tercatat 4 kali bencana besar pernah terjadi hingga mengakibatkan tsunami, di antaranya pada 1833 dan 1861.  

“Banda Aceh lama itu terletak di kampong Pande dan dihilangkan oleh tsunami. Kini wajah Banda Aceh baru berada di wilayah bekas arena Istana Kerajaan Aceh,” kata Tarmizi, yang telah mengumpulkan 600 manuskrip sejak 1995.

Dari beberapa hasil penelitian lain tsunami juga pernah terjadi sejak 7.400 tahun silam. Hal itu dibuktikan dengan adanya hasil temuan peneliti terhadap bekas gua tsunami purba di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Endapan dan kandungan pasir di dalamnya menunjukkan tsunami pernah terjadi di sana.

Dalam kitab kuno ramalan gempa yang dibaca Tarmizi, tsunami Aceh 14 tahun lalu juga ditemukan sinkronisasi dengan apa yang tertulis dalam manuskrip. Seperti tsunami Aceh Minggu 24 Desember 2004 yang terjadi pada waktu Dhuha (pagi). Dalam naskah tersebut tertulis jika pada ketika Dhuha alamat bala akan datang kepadanya Ie Beuna.

Literasi kebencanaan yang terputus
Menurut Tarmizi, terputusnya kearifan lokal tentang peringatan bencana di tengah masyarakat Aceh disebabkan beberapa faktor. Mulai dari pengaruh konflik berkepanjangan hingga pengaruh teknologi seiringan perkembangan zaman. Sehingga budaya mitigasi kearifan lokal masyarakat Aceh dahulu serta cerita-cerita rakyat di dalamnya terlupakan.

Konflik menjadi salah satu pengaruh besar hilangnya kearifan lokal ini. Mulai dari perang dengan Belanda hingga pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dampaknya hasil rekaman peradaban buah tangan para indatu dulu jadi berkurang dan terputus.

“Hasil tulisan tangan ini tidak sempat diteruskan kembali. Seperti ada pakar yang ahli menulis dengan Arab Jawi, Bahasa Melayu Kuno, Jawi Melayu. Mereka tidak mengajarkan lagi kepada muridnya karena takut keluar malam. Kemudian mereka yang ahlinya juga banyak yang meniggal dunia,” ujar Tarmizi.

Membangun mitigasi bencana dari dua generasi
Tarmizi tak menampik seiring berkembangnya zaman dan teknologi, budaya mitigasi bencana masyarakat Aceh dulunya semakin tergerus. Kendati demikian, dengan lahirnya para ilmuan dan pakar di era sekarang ini serta ragam ala-alat modern untuk mitigasi bencana tak boleh melupakan budaya masa lalu.

“Kita mengakui keilmuan dan teknologi tentang bencana yang berkembang sekarang ini adalah sesuai dengan kapasitasnya. Dulu tidak ada sirine atau alat sejenisnya untuk mendeteksi bencana. Akan tetapi kita tidak boleh melupakan budaya leluhur, sebab jika berbicara pada abad terdahulu malah teknologi itu belum ada, kita bisa mengambil ilmu yang diajarkan oleh mereka.”

Tarmizi mengajak para ilmuan dan peneliti sekarang ini untuk menelusuri kembali isi yang ditulis oleh ilmuan Aceh dahulunya. Para pakar itu diminta untuk bisa menggabungkan dua keilmuan masa lalu dan sekarang untuk menciptakan mitigasi bencana demi mengurangi korban saat bencana tiba.

“Jadi dua zaman ini digabungkan kalau dulu tidak ada teknologi zaman sekarang penuh dengan teknologi. Kita gabungkan dua hasil karya intelektual untuk menciptakan sebuah konsep mitigasi bencana. Jadi dua zaman ini dipadukan untuk melahirkan suatu hasil penelitian yang bisa disampaikan ke tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

“Kita tidak bisa melupakan warisan masa lalu. Orang dulu dengan caranya tersendiri walaupun sangat terbatas, tapi sudah berbuat. Kita sekarang baru memikirkan bagaimana cara menciptakan konsep mitigasi bencana,” kata Tarmizi.

Reporter: Zuhri Noviandi.[]Sumber: kumparan.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.