17 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Kesan Tarawih di Malam Terakhir
Cerita Nenek Bersujud Hingga Menangis

...

  • PORTALSATU
  • 06 June 2019 13:30 WIB

Ilustrasi. Foto: istimewa/net
Ilustrasi. Foto: istimewa/net

Oleh: Nursalmi, S.Ag (Da’iyah Kota Banda Aceh).

Alhamdulillah, syukur kepada Allah yang telah memberikan kesehatan serta hidayah bagi orang orang yang masih mampu shalat tarawih pada malam 30 Ramadhan, yang merupakan tarawih terakhir. Di kebanyakan mesjid atau surau, biasanya pada penghujung Ramadhan jamaahnya sudah mulai surut, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih semangat, itupun nenek nenek yang sudah sepuh. 

Saya ingin mengangkat sebuah cerita sekitar 14 tahun yang lalu, ketika saya menetap di suatu kota kabupaten. Saat itu usia saya sekitar tiga puluhan dan masih tergolong muda. Waktu itu saya dan suami suka shalat tarawih keliling, tidak hanya pada satu mesjid, karena kami tergolong perantau, maka kami berkeinginan melihat kondisi mesjid dan keadaan jamaah di kalangan masyarakat daerah tersebut. Saya tertarik dengan sebuah mesjid yang shalatnya lebih nyaman dari pada mesjid yang lain. Meskipun waktu itu belum ada yang mengadakan i’tikaf dan qiamullail di mesjid. Namun disana imamnya bagus dan sudah mulai ada hafizh 30 juz yang waktu itu masih jarang kita temukan. Setiap malam ada ceramah Ramadhan, yang waktu itu tidak semua mesjid mengadakannya setiap malam. Jamaahnya pun selalu saja ramai, meskipun sudah di penghujung Ramadhan. 

Pada malam terakhir kami shalat tarawih, sangat terharu saya melihat beberapa orang nenek melakukan sujud syukur setelah selesai shalat tarawih. Sujudnya agak lama, mungkin banyak doa yang dipanjatkan dalam sujudnya,  karena saat yang paling dekat antara hamba dengan Allah adalah saat sujud. Dan dianjurkan untuk memperbanyak doa di dalam sujud. Saya menunggu sampai mereka selesai sujud, karena ingin bersalaman pamit. Mungkin besok tidak bertemu lagi karena ini malam terakhir tarawih. Setelah puas berdoa, mereka bangkit dari sujud dengan mata yang sudah basah dan memerah.

Saya ambil kesempatan untuk mengobrol. Saya bertanya kepada salah seorang nenek. Maaf nek, kalau boleh saya tau, kenapa nenek sujud tadi dan lama sekali, selesai sujud nenek kenapa menangis. Nenek itu menjawab, saya sujud syukur, karena Allah telah memberikan banyak sekali nikmat kepada saya di usia yang sudah tua ini. Saya diberikan umur panjang, kesehatan, kesempatan dan kekuatan, sehingga saya mampu melaksanakan shalat tarawih penuh hingga malam terakhir tanpa absen satu malam pun. Hal ini tidak pernah saya dapatkan ketika saya masih muda. Kemudian saya telah mengkhatamkan Al-Quran selama Ramadhan ini sebanyak empat kali. Ini juga tidak pernah berhasil saya lakukan pada waktu saya masih muda dulu. 

Tidak hanya itu saja, selama Ramadhan saya tidak pernah disibukkan oleh urusan dunia. Dan tidak lagi punya keinginan untuk kenikmatan dunia. Berbuka puasa cukup hanya makan kurma saja dan segelas teh hangat. Kemudian shalat maghrib berjamaah di mesjid. Disana sudah disediakan kue untuk jamaah yang menunggu shalat isya dan tarawih. Pulang dari tarawih saya makan beberapa potong buah-buahan dan sedikit sayur. Sementara sahur cukup makan quaker oat yang dicampur dengan segelas susu. Makanan itu saja sudah membuat saya sehat. Dari pada waktu saya muda, menu berbuka puasa berbagai macam makanan dan minuman, yang membuat kita sakit dan tidak kuat beribadah, karena yang kita makan adalah sampah semua, sehingga membuat lambung kita sesak dan kewalahan mencernanya. 

Setiap malam antara shalat isya dan tarawih selalu mendapat ilmu dari ustadz penceramah yang diundang silih berganti, baik berupa siraman rohani maupun ilmu tentang hukum hukum Islam yang perlu diketahui dan diamalkan.   Ada juga tambahan taushiah setiap selesai shalat shubuh. Setelah shalat shubuh kami berkumpul melaksanakan tadarus bersama ibu ibu yang lain. Yang semua itu tidak bisa saya dapatkan di waktu saya masih muda karena sibuk kerja dan urusan dunia lainnya. Di samping itu selalu ada kesempatan bersedekah lewat kotak amal yang disodorkan setiap malam di saat ceramah berlangsung di mesjid. 

Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah atas semua ini. Saat sujud saya menangis haru karena banyaknya nikmat yang saya dapatkan. Juga menangis karena ini malam terakhir tarawih di bulan Ramadhan ini. Saya berfikir, apakah saya masih bisa bertemu dengan Ramadhan yang akan datang. Akankah saya masih bisa melaksanakan tarawih penuh satu bulan tanpa absen seperti yang saya laksanakan sekarang. Masih adakah umur saya untuk bisa bertadarus bersama teman teman di Ramadhan yang akan datang. Saya bermohon kepada Allah agar diberikan keberkahan pada sisa sisa umur saya yang sudah tua ini. 

Saya terkesima mendengar curahan hati nenek tersebut, beliau berbicara panjang lebar dan sangat sistematis. Saya heran mendengar seorang nenek mampu berbicara sebagus itu. Ternyata beliau adalah seorang pensiunan guru. Setelah ngobrob panjang lebar, kami bersalaman dan saya pamit mohon diri, dan saya minta kepada beliau untuk mendoakan saya agar bisa seperti beliau ketika tua nanti. Saat itu beliau sempat berpesan kepada saya, karena beliau tau kalau waktu itu saya ditugaskan berdakwah ke barak barak tsunami, dan beliau tau saya selalu pindah tempat ke berbagai daerah. Maka berliau berpesan, “kemanapun dipindah, di daerah manapun berdomisili nanti, terus saja berdakwah ya, karena sangat jarang ada ustadzah yang berdakwah, yang banyak hanya ustadz”. (Itu waktu itu, namun sekarang sudah banyak ustadzah yang berdakwah). Pesan itu tidak pernah saya lupakan, dan insya Allah sampai sekarang saya masih berdakwah, semoga sampai akhir hayat. 

 Dari kisah di atas, mari kita bermuhasabah, merenungkan tentang diri dan amal ibadah kita. Khususnya bagi yang masih muda, masih sehat dan kuat. Pergunakan yang lima sebelum datang yang lima. Di antaranya muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, waktu luang sebelum sempit, hidup sebelum mati. Manfaatkan waktu muda dan masih sehat untuk memperbanyak ibadah kepada Allah, karena waktu tua nanti belum tentu mampu melaksanakannya. Mungkin saja sudah sakit sakitan, ibadah sudah tidak kuat. Lagi pula Rasulullah mengatakan bahwa ibadah di masa muda lebih banyak pahalanya di banding dengan ibadah di masa tua. Karena ibadah di masa muda lidahnya masih fasih, gerakannya masih sempurna, dan melaksanakan ibadah dalam kondisi penuh godaan, tetapi dia mampu melawan semua godaan tersebut untuk memperoleh ridha Allah. Kemudian dari pada itu, jika di masa muda malas beribadah, belum tentu umurnya panjang sampai tua, mana tau di usia muda sudah dijemput malaikat Izrail untuk kembali kepada Allah, sementara amal sebagai bekal yang hendak dibawa masih sangat minim.  

Semoga Allah SWT memberikan kita umur panjang dan berkah, sehat selalu agar mampu memaksimalkan ibadah kepada-Nya, diberikan istiqamah selalu berada pada syari’at-Nya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, dan bisa bertemu lagi dengan Ramadhan yang akan datang.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.