22 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Tentang Jalan Tol

...

  • portalsatu.com
  • 27 March 2019 11:30 WIB

Taufik Sentana

Sebenarnya jalan tol bukanlah cerita yang baru. Pada awal tahun 90an, jalan tol telah dibangun di wilayah Belawan menuju Medan- Tanjung Morawa, dan begitu juga di beberapa kota "metropolis" lainnya di Indonesia.

Jalan tol itu akhirnya membelah perkampungan (dihubungkan kemudian dengan terowongan dan jembatan), membelah perkebunan dan persawahan serta dianggap dapat mempercepat distribusi dan terhindar dari kemacetan.

Yang paling saya ingat, bahwa jalan itu bukan milik kita, bukan milik Jasa Marga. Tapi milik si pemberi utang. Kiranya saat itu dengan dana dari Jepang. Kisaran waktunya sekitar 25 tahun, barulah beralih menjadi milik kita. Kita bisa bayangkan, dengan perawatan yang kadang dikorupsi, apa yang terjadi dengan jalan yang telah berusia selama itu. 

Kini cerita jalan tol itu terus berkembang, bahkan seakan menjadi primadona sekarang. Setiap daerah agaknya akan dilintasi jalan bebas hambatan ini. Dengan maksud yang sama: mempermudah jalur ekonomi dan mengurai kemacetan. Apa bedanya? Yang berbeda adalah zaman dan pemerintahnya. Mekanismenya sama, lewat utang negara, konon dengan pengusaha Cina (bukan Pemerintahan Cina, bukan G to G). Pola bayarnya pun lewat "saldo tol", yang (kabarnya) langsung terhitung dalam rekening si pemberi modal.

 Dan kita tidak tahu berapa lama jangka pelunasannya serta prioritasnya saat ini. Sebab, bila semata hanya sebagai "jalan tol" kepentingan dari si pengusaha dan pemilik modal (atau jangan sampai menjadi siklus "penjajahan baru" guna mengangkut bahan baku untuk dibawa ke pelabuhan). Sementara itu kita pun tidak akan tahu apakah cerita jalan tol ini akan berlanjut sesuai maksudnya yang paling luhur. Lalu kemudian menjadi milik kita. Dan bila sudah menjadi milik kita apakah semakin murah?[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.