22 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kandungan Makna Cinta

...

  • portalsatu.com
  • 12 February 2019 13:00 WIB


Oleh Taufik Sentana


Dalam literatur Islam, cinta dirangkum dalam kata Rahman dan Rahim, yang merupakan bagian dari nama nama Allah yang baik. Motif dan  efek dari cinta tersebut telah menjadi cerita utama dalam sejarah perdaban manusia. Sejak Nabi Adam hingga zaman kita sekarang. Bahkan mungkin ada yang menjadikan cinta sebagai mazhab hidup dan falsafah, namun hanya berujung pada pengertian cinta menurut akal dan asumsi saja. Artinya golongan ini tidak sampai pada si Pemilik Cinta yang telah Memberikannya dalam hati manusia dan makhluk lainnya.

Sebagai motif nafsani, cinta bisa berwujud dalam tindakan kepatuhan ataupun keingkaran. Atau cinta yang terjebak dalam wadah bendawi dan hanyut dalam hempasan duniawi yang akan sirna.

Walaupun cinta berkaitan dalam aspek ritus keislaman, tapi umumnya cinta (biasa dikenal mahabbah), lebih sering dikupas dalam dunia tashawuf (ajaran yang secara konteks merefleksikan sikap ihsan dalam beramal).

Maka untuk mengenal watak cinta yang muncul itu dan menakar sejauh mana manusia dan orang orang yang saling mencintai menunjukkan cintanya, sedikitnya menurut falsafah sufi, cinta yang sejati akan merangkum muatan berikut ini:

Pertama, Kebaikan. Setiap kebaikan yang tampil berarti itu bersumber dari cinta yang benar, dalam segala hal. Bila cinta tidak mengarah pada kebaikan maka itu bukanlah cinta, itu hanya nafsu semata. Dalam kaidah fiqih, kebaikan dimaknai sebagai bentuk ketaatan, yang ditampakkan melalui pelaksanaan kewajiban.

Kedua, Pengabdian. Yaitu dorongan untuk terus memberi arti dan memaksimalkan pengorbanan. Baik dalam urusan rumah tangga(suami-istri), pekerjaan dan pelaksanaan ibadah khusus bagi seorang muslim. Semuanya tentu menuntut pengorbanan sesuai harapan dan hasil yang ingin dicapai. 

ketiga, Keikhlasan. Dua poin di atas tadi bila tanpa dasar keikhlasan maka akan sirna seperti ladang dan kebun yang habis terbakar api. Keikhlasan memuat sikap ridha dan puas serta kemurnian niat. Dalam hal ini, seorang pencinta sejati mestilah memiliki keyakinan yang penuh terhadap Allah (Tuhan yang Esa) sebagai satu-satunya Awal dan Akhir dalam semangat mencintai.[]

*Peminat kajian keislaman klasik dan sufistik.
Praktisi pendidikan Islam.

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.