19 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ketika Ahmad bin Khudriya Kedatangan Pencuri

...

  • PORTALSATU
  • 23 October 2018 23:00 WIB

Ilustrasi. @twicopy.org
Ilustrasi. @twicopy.org

Dalam Tadzkirah al-Auliya’, Fariduddin Attar mencatat salah satu kisah sufi besar dari Balkh. Di kitab itu diceritakan:

Ada pencuri masuk di rumah Imam Ahmad bin Khudriya. Ia mencari ke setiap sudut rumah tapi tidak dapat menemukan apa-apa. Ia memutuskan pergi meninggalkan rumah (dengan kecewa), kemudian Imam Ahmad berkata kepadanya:

Wahai pemuda, ambillah ember dan timbalah air dari sumur. Berwudulah, lalu laksanakan shalat. Tinggallah di sini. Jika Allah memberikan rizki kepadaku, akan kuberikan kepadamu, agar kau tidak keluar dari rumahku dengan tangan hampa.

Pencuri itu mengikuti saran Imam Ahmad bin Khudriya. Di pagi harinya, datang seorang laki-laki membawa seratus dinar dan memberikannya kepada Imam Ahmad. Kemudian Imam Ahmad bin Khudriya berkata kepada pencuri itu:

Ambillah ini. Sesungguhnya, ini adalah upah untuk shalatmu malam tadi.”

Pencuri itu terkejut kagum. Tubuhnya bergetar dan air matanya tumpah. Ia berucap:

Aku telah mengambil jalan yang salah. Aku hanya bekerja satu malam untuk Tuhan, dan Tuhan memuliakanku dengan ini.”

Pencuri muda itu bertaubat dan kembali ke jalan Allah berkat kehalusan pekerti Imam Ahmad bin Khudriya rahimahu Allah. (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 372).

Orang-orang saleh adalah orang-orang yang menyembah Tuhan dengan cita rasa tinggi. Cita rasa yang hadir dari penyisihan kelalaian (ghaflah) dalam mengingat dan menghadirkan-Nya di hati dan gerak kehidupan. Dengan menyisihkan lalai, manusia selalu teringat tujuan Tuhan mengutus nabi-Nya, “makarim al-akhlaq” atau “mashalih al-akhlaq”, yang keduanya bermakna hampir sama, “menyempurnakan kemuliaan akhlak” dan “memperindah kebaikan akhlak.” Selama manusia menggenggam teguh hal itu, di mana pun dan kapan pun ia berada, tujuan diutusnya Nabi Muhammad akan selalu membaur dalam kehidupannya.

Ketika seseorang telah sampai pada keluhuran pekerti, ia tidak akan takut pada apa pun. Kepasrahan adalah jalan hidupnya. Seperti yang dilakukan Imam Ahmad bin Khudriya (145-240 H), ia tidak takut pencuri itu akan menyakitinya. Ia memutuskan keluar dan menyapanya, merasa bersalah karena tidak bisa memberikan apa-apa pada pencuri muda itu (orang yang membutuhkan).

Kemudian, tanpa keraguan sedikit pun, ia menyuruh pencuri muda itu mengambil wudu dan salat, memintanya tinggal di rumahnya hingga ia mendapatkan rezeki untuk diberikan kepadanya. Seorang tamu yang membutuhkan, tidak layak pulang tanpa membawa apa-apa.

Apa yang dilakukan Imam Ahmad, bukan hal mudah. Perbuatannya mengandung banyak arah kebaikan. Yang pertama, tidak dapat membantu orang yang membutuhkan adalah bercak hitam bagi keluhuran pekerti. Ia sering mengatakan: “man khadama al-fuqara’ ukrima bi tsalatsah al-asya’a, bi al-tawadlu’ wa husn al-adab wa sakhawah al-nafs—orang yang melayani orang-orang miskin pasti dimuliakan dengan tiga hal: ketawadluan, kebagusan pekerti dan kemurahan hati.” (Ibnu Mulaqqin, Thabaqat al-Auliya, Kairo: Maktaba al-Khaniji, 1994, hlm 37). Andai ia gagal memuliakan pencuri yang membutuhkan itu, ia akan kehilangan tiga kemuliaan tersebut.

Kedua, menjanjikan pemberian dengan syarat tertentu, membuat pencuri itu merasakan ibadah saat menanti anugerah. Apa yang dilakukannya berdasarkan kalkulasi yang jelas. Ia yakin betul akan mendapatkan rezeki dari Allah, jika tidak hari ini, masih ada besok dan besoknya lagi.

Dengan membiarkannya tinggal di rumahnya, pemuda itu mendapatkan makanan darinya, melihat kehidupannya, dengan syarat ia menjalankan salat seperti yang diperintahkan Imam Ahmad. Hal ini mempermudah pemuda itu dalam membuka hatinya, menjamu kehadiran hidayah dari yang Maha Suci, Allah SWT.

Ketiga, tanpa rasa berat sedikit pun, Imam Ahmad bin Khudriya memberikan semua uangnya, seratus dinar. Hal ini membuat pencuri muda itu kaget sekaligus terharu. Tubuhnya gemetar dan air matanya mengalir deras. Wajah Imam Ahmad yang menampakkan keberlepasannya terhadap harta benda menjadi pembuka bagi keharuan pencuri itu. 

Ditambah pemilihan bahasanya yang menarik, dengan mengatakan: “Ambillah ini. Sesungguhnya, ini adalah upah untuk shalatmu malam tadi”. Dengan kalimat itu, Imam Ahmad hendak memberikan pelajaran bahwa menyembah Tuhan adalah kenikmatan tiada tara, melebihi dunia beserta isinya, apalagi sekadar uang seratus dinar.

Pendekatan akhlak dalam menyentuh hati seseorang mengalahkan berbagai macam pendekatan lainnya, termasuk mengalahkan pendekatan mukjizat. Banyak nabi yang dianugerahi mukjizat luar biasa tapi keberhasilan dakwahnya tidak seperti Nabi Muhammad Saw., seorang nabi yang jarang menampakkan keajaiban mukjizat, tapi menampilkan akhlak mulia yang sukar disanggah oleh suara hati.

Hal inilah yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Khudriya dalam menjalani kehidupannya, yaitu meneladani Nabi Muhammad Saw. Dan,kisah di atas adalah bukti keluhuran pekertinya. Karena itu, wajar saja jika Fariduddin Attar memandang taubatnya pencuri itu oleh sebab, “bi barakati husn khuluq Ahmad—berkat kehalusan pekerti Ahmad bin Khudriya.” Pertanyaannya adalah, sudahkah kita memperhalus budi pekerti kita? Wallahu a’lam...

(Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen).[]Sumber: nu.or.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.