21 April 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Masya Allah, Inilah Keutamaan Berbaur dengan Majelis Ulama

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 11 January 2018 13:00 WIB

Dalam hidup ini kita dianjurkan mendekatkan diri dengan ulama atau ahli ilmu. Setidaknya, jika tidak bisa menghimpun seluruh ulmu dari ahli ilmu tersebut, kita bisa membaurkan diri dalam majelis-majelis ilmu yang menghadirkan mereka.

Penjelasan ini disebutkan dalam kitab Irsyad-ul ‘Ibad karya Syaikh Utsman bin Shihabuddin al-Funtiani. Beliau mengatakan biasakanlah atas diri kamu dengan bersama duduk [dengan] ulama’ yang berbuat ‘amal dengan ilmunya dan menuntut mendengar perkataan aulia Allah yang mempunyai ilmu hakikat. Maka bahwasanya Allah Taala menghidupkan ia akan hati yang mati dengan nur hikmah, (berkata qaum –sufi) seorang berhimpun bersama-sama ahlullah mendapat ia kelakuan yang mulia dan lagi sebenar memberi manfaat dengan berhimpun bersama-sama mereka itu terlebih memberi manfaat daripada lafaz lidah) maka bahwasanya Allah menghidupkan ia akan hati yang buta dengan nur ilmu yang memberi manfaat seperti menghidupkan ia akan bumi yang mati dengan air hujan. (Syaikh Utsman bin Shihabuddin al-Funtiani, Kitab Irsyadul 'Ibad: 4)

Lantas bagaimana ahli ilmu (ulama) yang kita maksudkan di sini, dalam hal ini Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani atau lebih populer dengan sebutan Imam Nawawi Al-Bantani memberi penjelasan bahwa yang dimaksudkan dengan ulama ialah orang-orang alim yang mengamalkan ilmunya hukama’ yakni orang-orang yang mengetahui atau mengenal zat Allah Taala, yang betul dan tepat dalam perkataan dan perbuatan mereka. (Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nasha-ihul Ibad: 4).

Syaikh Nawawi al-Bantani juga mengklasifikasikan ulama kepada tiga kategori. Pertama, Ulama yang alim tentang hukum-hukum, mereka adalah ashhab al-fatwa, yakni mempunyai hak untuk memberi fatwa. Kedua, Ulama yang alim dan arif akan dzat Allah (ulama tauhid) saja . Mereka ini adalah golongan hukama. Bergaul, berdamping dengan mereka menjadikan akhlak kita terdidik, karena dari hati mereka bersinar cahaya ma’rifatullah dan terbit dari sirr mereka cahaya keagungan Allah.

Ketiga, ulama yang memiliki kedua sifat di atas, mereka itu kubara’. Maka bergaul dengan ahlullah mendatangkan ahwal yang mulia.

Kelebihan Duduk dan Bergaul Dengan Ahli Ilmu

Syekh Muhammad bin Umar An Nawawi al-Bantani, dalam kitab berjudul “Tanqihul Qaul al hadits”, menerangkan beberapa kelebihan duduk dengan ahli ilmu (ulama), beliau dalam kitab tersebutkan menyebutkan beberapa hadis, di antaranya:

Pertama, Nabi saw. bersabda kepada ibnu Mas'ud r.a : " Hai ibnu Mas'ud, dudukmu sesaat di majlis ilmu tanpa menyentuh pena dan tanpa menulis suatu huruf lebih baik bagimu daripada membebaskan seribu hamba sahaya. Pandangan kepada wajah orang alim lebih baik bagimu daripada menyedekahkan seribu ekor kuda fi sabilillah (dijalan Allah). Ucapan salammu kepada orang alim lebih baik bagimu daripada ibadah seribu tahun".

Kedua, Nabi saw. bersabda : "Barangsiapa memandang kepada wajah orang alim dengan pandangan yang menggembirakannya, maka Allah Ta'ala menciptakan dari pandangan itu seorang malaikat yang memohonkan ampun baginya hingga hari Kiamat."

Ketiga, Nabi saw. bersabda : "Barangsiapa menuliskan seorang alim, maka ia telah memuliakan aku. Dan siapa yang memuliakan aku, maka ia telah memuliakan Allah. Dan siapa yang memuliakan Allah, maka tempat tinggalnya adalah surga".

Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahwa sangat besar pahala dan keutamaan duduk dan bergaul dengan ahli ilmu (ulama).

Allah SWT juga menjekaskan kedudukan ahli ilmu sebagaiman terpahami dalam firman-Nya, berbunyi: “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim tersebut sesudah teringat (akan larangan itu)” [QS. Al-An’aam: 68].

Mengomentari ayat di atas, salah seorang ulama bernama Imam asy-Syaukani, beliau berkata :“Dalam ayat ini terkandung nasihat yang agung bagi mereka yang membolehkan duduk bermajelis dengan ahlul bid’ah, yaitu dengan orang-orang yang suka mengubah-ubah perkataan Allah, mempermainkan kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman Alqurandan as-Sunah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak. Maka, jika seseorang tidak mampu mengingkari atau mengubah kebid’ahan mereka, paling tidak dia harus meninggalkan majelis mereka, dan tentu ini mudah baginya, tidak susah. Dan terkadang orang-orang yang menyimpang tersebut menjadikan kehadiran seseorang bersama mereka (meskipun orang tersebut bersih dari kebid’ahan yang mereka lakukan) sebagai syubhat, dengannya mereka mengaburkan (permasalahan) atas orang-orang awam. Jadi, dalam kehadirannya (di majelis mereka) terdapat tambahan mudharat dari sekedar mendengarkan kemungkaran” [lihat Tafsir Fathul Qadir II/185].

Sementara itu dalam pandangan Imam al-Auza’i bahwa ahli bid'ah yang sesat itu akan lebih dicintai oleh syaitan bahkan dalam beribadahpun mereka akan terasa lebih khusyuk dan menangis. Ini disebutkan dalam kitab Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad, beliau berkata :

“Telah sampai kepadaku bahwa barangsiapa mengada-adakan satu bid’ah yang sesat, maka syaitan akan membuatnya cinta untuk beribadah atau meletakkan rasa khusyu’ dan mudah untuk menangis agar ia dapat memburunya” [ Kitab Ushuulus-Sunnah oleh Imam Ahmad bin Hanbal hal 30-37]

Beranjak dari kupasan dan paparan di atas menunjukkan Islam melalui hadis nabi juga ayat Alquran bahkan perkataan ulama Shalafus Shalih menganjurkan kita untuk bergaul dan duduk dengan ahli ilmu (ulama).

Sangat besar faidah dan kelebihannya dan apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu bukan sia-sia. Begitu juga untuk menghidarkan diri duduk dengan para ahli bid'ah yang sesat menyesatkan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ditunjukki jalan yang benar dan diridhai-Nya. Amin.[]

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.