25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Meluruskan Persepsi Safar Bulan 'Malang'

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 07 November 2017 20:20 WIB

Sebagian kalangan ulama menyebutkan bahwa nama Safar diambil dari nama suatu jenis penyakit sebagaimana yang diyakini orang-orang Arab jahiliyah pada masa dulu. Yakni penyakit safar yang bersarang di dalam perut, akibat dari adanya sejenis ulat besar yang sangat berbahaya. Maka sangatlah wajar, sebagian orang menganggap bulan Safar sebagai bulan yang penuh dengan kejelekan. Pendapat lain menyatakan bahwa Safar adalah sejenis angin berhawa panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit.

Para ulama juga menjelaskan, ketika amalan kebaikan dan kejahatan telah dinaikkan ke langit, ekses dari amalan baik di dunia ini adanya rahmat dan ada juga yang ditandon di langit. Sedangkan amalan kejahatan dan dosa dilampiaskan dengan berbagai bentuk penyakit, musibah dan bencana yang semua itu secara seerempak dan total terjadi pada hari rabu terakhir bulan safar.

Sunanatullah selalu menjadikan sesuatu di dunia ini berimbang. Kala pada bulan tertentu adanya musibah dan bencana, pada bulan yang lain Allah juga menurunkan rahmat dan berkah dan sejenisnya. Hal ini diturunkan pada bulan Ramadan, Rajab, Syakban, Muharam, dan Zulhijah. Jelaslah Allah telah mengatur perimbangan dengan sangat sempurna. Nampak dan jelaslah sifat rahman dan rahim Allah untuk makhluk-Nya.

Kejahatan atau keburukan yang dimaksud terjadi di muka bumi ada beberapa macam. Di antaranya, kejahatan yang turun dari langit seperti wabah penyakit, udara buruk, topan, petir, rihul ahmar, kuman, penyakit yang berterbangan di udara dan sebagainya. Kejahatan yang naik ke langit, seperti catatan amal buruk yang dibawa oleh malaikat ke langit, ruh-ruh orang orang jahat, iblis serta anak buahnya yang mencuri berita d langit yang kemudian menyebarkannya dengan ditambah berbagai berita bohong.

Sedangkan bentuk kejahatan yang terjadi di muka bumi seperti gangguan setan, jin dan manusia, binatang buas, kezaliman, hasut, fitnah, niat jahat, kecelakaan, peperangan dan sebagainya. Kejahatan yang keluar dari bumi seperti gempa bumi, gunung meletus, gas beracun, binatang-binatang yang keluar dari bumi (ular, kalajengking dan lainnya).

Sebagai perimbangan diturunkan rahmat dan berkah pada bulan tertentu. Lebih jelasnya dalam setahun Allah menurunkan kebaikan dan keburukan dibagi dalam bulan-bulan tertentu yang mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Antara lain pada bulan Rajab kelebihannya ada pahala puasa sunah dan istighfar Rajab.

Kejadian pada waktu itu adalah Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad saw. Sedangakn di bulan Syakban terkenal dengan Nisyfu Sya’ban. Puasa Ramadan dan lailatul qadri pada bulan ini. Ibadah haji dan sepuluh pertama awal pada bulan Zulhijjah dan berbagai kelebihan di dalamnya. Sedangkan bulan Muharam terkenal dengan doa akhir dan awal tahunnya, sepuluh awal pertamanya serta hari Asyuranya.   

Allah telah menjelaskan hal tersebut dalam banyak firman-Nya, di antaranya dalam surat al-Hadid ayat 22 berbunyi: “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan apa yang menimpa dirimu sendiri semuanya telah tertulis di dalam kitab (lauh Mahfudh) sebelum Kami meujudkannya”. (QS. Al-Hadid: 22).

Dalam hadis Rasulullah saw. juga menyebutkan: “Allah telah menulis semua makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun”.(HR. Muslim no. 2653). Sedangkan ungkapan Rasulullah “la haamata” (tiada mati penasaran) untuk menolak argumentasi kaum jahiliyah yang berasumsi bahwa mereka yang telah meninggal dunia, para arwah bergetanyangan karena penasaran sehingga berterbangan laksana burung. Dan menganggap arwah mayit berpindah pada tubuh binatang serta akan mengalami reinkarnasi (dihidupkan kembali).

Tentu saja pemahaman semacam ini sangat kontradiksi dengan penjelasan Rasulullah dalam  hadis lain yang berbunyi: “Allah menjadikan ruh mereka dalam bentuk seperti burung berwarna kehijauan. Mereka mendatangi sungai-sungai surga, makan dari buah-buahannya, dan tinggal di dalam kindil (lampu) dari emas di bawah naungan ‘Arasyi.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).[]

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.