25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menangkal Kenakalan Remaja

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 11 September 2017 09:40 WIB

ISLAM adalah agama yang berisi petunjuk dan pedoman hidup agar manusia secara individual menjadi manusia yang baik, beradab (bermoral) dan berkualitas. Dalam upaya menciptakan manusia yang baik dan beradab, maka aktivitas seorang agen komunikasi harus dilakukan dengan cara atau metode yang tepat sasaran serta terpadu bersama segenap lapisan masyarakat, untuk membina moral manusia (terutama kalangan remaja).

Salah satu fase yang sangat berkesan dan berpengaruh dalam kehidupan setiap orang adalah ketika memasuki usia remaja, karena masa remaja merupakan masa yang tidak mempunyai tempat yang jelas dalam rangkaian proses perkembangan seseorang. Model kehidupan remaja yang kita lihat dewasa ini terdapat perbedaan yang khas dengan cara hidup kelompok lain. Pada dasarnya, cara hidup merefleksikan kesadaran kelas kelompok masyarakat tertentu (termasuk masyarakat remaja), sehingga remaja juga merupakan suatu bentuk ideologi.

Berbagai kasus kenakalan remaja akhir-akhir ini semakin memperlihatkan fenomena yang cukup mengkhawatirkan, bahkan telah mengancam kehidupan dan masa depan para remaja itu sendiri, yang pada akhirnya juga memberikan dampak terhadap pembangunan bangsa.Dekadensi moral yang semakin memburuk itu sepertinya sudah tidak dapat dibendung lagi, karena permasalahannya sudah cukup rumit dan bersifat universal.

Permasalahan sosial yang timbul akibat dekadensi moral ini tidak hanya berdampak pada individual saja, tetapi keluarga dan masyarakat bahkan negara juga ikut menanggung beban psikologis yang sangat berat. Karena dekandensi moral (khususnya para remaja) dapat mengakibatkan meningkatnya tindakan kriminalitas dalam berbagai bentuk, seperti tawuran, pencurian, perampokan, penjarahan, free sex, dan lain sebagainya.

Kenakalan remaja – dalam bahasa Latin – sering dikenal dengan istilah Juvenile delinquencyJuvenile memiliki arti adalah anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja; sedangkan delinquency (delinquere) berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas pengertiannya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, peneror, durjana dan lain sebagainya.

Dengan demikian, Juvenile delinquency(kenakalan remaja) secara bahasa diartikan sebagai perilaku jahat atau kenakalan anak-anak muda. Sedangkan menurut istilah, Juvenile delinquency merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.

Adapun istilah “kenakalan remaja” mengacu pada suatu proses yang panjang, mulai dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindakan kriminal. Dalam studi masalah sosial, kenakalan remajadapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang, masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial.

 Mussen, mendefinisikan kenakalan remaja, sebagai perilaku yang melanggar hukum atau suatu tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh remaja yang biasanya berusia 16-18 tahun, dimana tindakan tersebut dapat membuat seseorang individu yang melakukannya masuk penjara.

Dalam hal ini, Sarwono menyatakan bahwa kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana. Sedangkan Fuhrmann menyebutkan bahwa kenakalan remaja merupakan suatu tindakan anak muda yang dapat merusak dan menggangu, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Adapun Santrock menyebutkan bahwa kenakalan remaja adalah sebagai kumpulan dari berbagai perilaku, dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial sampai tindakan kriminal.

Kenakalan remaja atau dekadensi moral yang terjadi dalam kalangan remaja merupakan suatu permasalahan yang sangatlah penting dan menarik untuk dibahas. Karena remaja merupakan bagian dari generasi muda yang termasuk aset negara, dan juga merupakan tumpuan harapan bagi masa depan bangsa/negara dan agama.

Untuk mewujudkannya, maka sudah menjadi kewajiban dan tugas kita semua untuk mempersiapkan generasi muda menjadi generasi yang tangguh dan bermoral, dengan jalan membina, membimbing dan mengarahkan mereka sehingga menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab secara moral.

Dalam rangka menyelamatkan generasi muda bangsa sebagai investasi yang tidak ternilai, perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan. Dalam hal ini, peran serta dari setiap lapisan masyarakat terutama orang tua dan para penyuluh agama/da’i (agen komunikasi) sangat diharapkan.

Pencegahan yang dimaksudkan adalah dengan melakukan pembinaan moral yang mendalam kepada remaja, sehingga dapat mengurangi tingkatdekadensi moral para remaja dan meminimalisir tindakan yang bersifat kriminalitas

Referensi:

1.       Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta: Kencana, 2004), h. 1.
2.       F. J. Monks, Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya(Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1991), h. 215.
3.       Ideologi adalah cara berfikir seseorang atau kelompok yang teratur. Lihat Kamus Besar., h. 417.
4.       Kartono, Potret Kenakalan Remaja Indonesia (Jakarta: Insan Madani, 2003), h. 23.
5.       Arif Gunawan, Remaja dan Permasalahannya (Yogyakarta: Hanggar Kreator, 2011), h. 29.
6.       Mussen Umar, Kenakalan Remaja Diitnjau dari Sudut Pandang Hukum Positif (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994), h. 12.
7.       Ahmad Mustafa, Kenakalan Remaja  (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 192.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.