18 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mengerikan, Ternyata Ini Menu Makan Penduduk Neraka (Bagian II)

...

  • PORTALSATU
  • 16 January 2018 10:00 WIB

ilustrasi
ilustrasi

Baca tulisan sebelumnya di sini: Mengerikan, Ternyata Ini Menu Makan Penduduk Neraka (Bagian I)

Ketiga, Ghassaq

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Penduduk neraka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain hamim dan ghassaq” (QS. An-Naba’: 24-25).

Kita telah mengenal hamim sebagai minuman yang sangat panas, maka kali ini kita akan mengenal ghassaq.

Apa itu ghassaq?

Terdapat dua tafsiran untuk makna ghassaq:

Pertama, ghassaq adalah minuman super dingin yang disuguhkan untuk penduduk neraka.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma menerangkan makna ghassaq,

“Minuman yang sangat dingin, benda ini membuat takut penduduk neraka karena kedinginannya.”

Mujahid rahimahullah menyatakan,

“Es yang dingin, sampai pada puncaknya suhu dingin.”

Dari sini kita mengetahui, bahwa siksaan di neraka tidak selamanya berupa api yang panas, ternyata ada jenis azab yang bentuknya dingin yang amat mematikan.

Betapa mengerikannya keadaan di neraka, penghuninya menjalani siksaan dengan ditemani api yang membakar, makanan yang mendidih di perut, lalu disuguhi minuman ghassaq yaitu minuman yang super dingin, menyebabkan tubuh mereka rusak dan semakin merasakan perihnya siksaan.

Kedua, cairan menjijikkan yang keluar dari tubuh penduduk neraka.

Salah seorang ulama tafsir bernama Athiyyah bin Sa’id rahimahullah menjelaskan,

“Ghassaq adalah cairan yang keluar dari kulit-kulit penduduk neraka.”

Ikrimah rahimahullah menerangkan,

“Cairan nanah dan darah yang keluar dari mata penduduk neraka.”

(Lihat: tafsir At-Thabari, pada tafsiran surat An-Naba’ ayat 25-26).

Keempat, Dhari’

Dalam surat Al-Ghasyiyah ayat ke 6 dinyatakan,

“Mereka tiada memperoleh makanan selain dhari’.”

Apa itu dhari’?

Dhari’ adalah sejenis tumbuhan berduri yang tumbuh di wilayah Hijaz. Penduduk Hijaz biasa menyebutnya syibriq, ketika sudah mengering, mereka menamainya dhari’.

Tumbuhan ini sangat beracun, sampai hewanpun tak ada yang berani mendekatinya, karena ketika memakan daun atau buah dari tumbuhan ini, seketika itu dia akan mati. (lihat: tafsir Ibnu Katsir pada tafsiran surat Al-Ghasyiyah ayat ke 6).

Persamaan nama dhari’ di akhirat dengan dhari’ yang ada di dunia, tidak mengharuskan persamaan hakikat. Sebagaimana disinggung dalam makna perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma,

“Tidak ada sesuatupun yang serupa di dunia ini dengan yang di surga, kecuali hanya serupa pada nama saja.”

Hakikat dhari’ di akhirat, tentu lebih mengerikan dari wujudnya di dunia. Di dalam tafsir Ibnu Katsir diterangkan,

Dhari’ di dunia adalah tumbuhan kering berduri yang tidak memiliki daun lebar, orang-orang arab biasa menyebutnya dhari’. Adapun di akhirat, dhari’ adalah tumbuhan yang memiliki duri dari api.

(lihat tafsir Ibnu Katsir pada tafsiran surat Al-Ghasyiyah ayat ke 6).

Kelima, Ghisliin

Allah Ta’ala berfirman,

“Tiada pula makanan sedikitpun bagi penduduk neraka itu kecuali ghisliin” (QS. Al-Haqqah: 36).

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma menafsirkan makna ghisliin,

“Nanahnya penduduk neraka.”

Dalam riwayat lain, beliau menjelaskan,

“Cairan yang keluar dari daging penduduk neraka.”

(lihat : Tafsir At-Thobari untuk tafsiran surat Al-Haqqah ayat 36).

Takutnya Salafusshalih Ketika Mengetahui Makanan Penduduk Neraka

Syu’bah meriwayatkan dari Sa’id bin Ibrahim, beliau mengatakan, “Sahabat Abdurrahman bin Auf datang memenuhi undangan makan malam di hari beliau berpuasa. Lalu beliau membaca sebuah ayat,

“Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan serta azab yang pedih” (QS. Al-Muzammil: 12-13).

Sai’id bin Ibrahim melanjutkan cerita,

“Abdurrahman bin Auf terus-menerus menangis sampai hidangan makan diberesi dan beliau tidak sempat makan malam, padahal seharian beliau berpuasa.”

Imam Ahmad bin Hambal pernah mengatakan,

“Rasa takut menghalangiku untuk makan dan minum, aku tidak nafsu untuk makan.”

(Lihat: At-Takhwif min An-Naar, hal. 155).

Demikian yang bisa kami sampaikan. Semoga Allah menyelamatkan kami dan pembaca sekalian dari siksa neraka serta mengumpulkan kita semua di surga-Nya.

Wallahu a’lam bis shawab.

Sumber : muslim.or.id

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.