25 June 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia

Hikmah Ramadan
Mengungkap Malam Qadar Dalam Perspektif Al-Hadist

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 16 June 2017 12:30 WIB

ilustrasi @nu.or.id
ilustrasi @nu.or.id

Salah satu kelebihan Ramadan adalah adanya lailatul qadar. Mengenai tanda malam tersebut ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa salah satu ciri datangnya lailatul qadar adalah melihat segala sesuatu yang ada di bumi ini tertunduk dan sujud ke hadirat-Nya.

Sebagian lain mengatakan pada malam itu dunia terang benderang, kita dapat melihat cahaya di mana-mana sampai ke tempat-tempat yang biasanya gelap. Ada juga yang mengatakan orang yang mendapatkan lailatul qadar dapat mendengar salam dan khutbahnya malaikat, bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu ciri tersebut adalah dikabulkannya do'a orang yang telah diberikannya taufik.

Sangat banyak argumen yang semisal dengan pembahasan tersebut, tetapi marilah kita simak ungkapan hadist nabi seputar tanda lailatul qadar. Di antaranya disebutkan dalam sebuah hadist dengan bunyinya: Sesungguhnya matahari yang keluar pada hari itu tidak begitu bercahaya (suram). (HR. Muslim).

Pernyataan yang mendukung juga dipaparkan dalam hadist lainnya dengan bunyinya: “Sesungguhnya tanda-tanda lailatul qadar, bahawa malamnya bersih suci seolah-olah padanya bulan yang bersinar, tenang sunyi, tidak sejuk padanya dan tidak panas, tiada ruang bagi bintang untuk timbul sehingga subuh, dan sesungguhnya tanda-tandanya matahari pada paginya terbit sama tiada baginya cahaya seperti bulan malam purnama tidak membenarkan untuk syaitan keluar bersamanya pada hari itu. (HR. Imam Ahmad )

Sementara itu dalam Mu’jam At-Tabarani Al-Kabir daripada Waailah bin Al-Asqa’ daripada Rasulullah S.A.W telah bersabda yang artinya : Malam lailatul qadar bersih, tidak sejuk, tidak panas, tidak berawan padanya, tidak hujan, tidak ada angin, tidak bersinar bintang dan daripada alamat siangnya terbit matahari dan tiada cahaya padanya(suram).

Memperkuat hadist di atas, dalam hadist lain juga telah meriwayat Al-Barraz dalam musnadnya daripada Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAW telah bersabda “Malam lailatul Qadar bersih tidak panas dan tidak pula sejuk.”

Salah seorang ulama terkemuka bernama Qadhi ‘Iyad telah mengatakan ada dua pendapat mengenai matahari yang terbit tanpa cahaya yaitu: pertama, dia merupakan tanda penciptaan Allah SWT. kedua, Menunjukkan bahwa karana terlalu banyak para malaikat yang berzikir kepada Allah pada malamnya dan mereka turun ke bumi yang menyebabkan sayap-sayap dan tubuh mereka yang halus menutupi dan menghalangi matahari dan cahayanya.

Berdasarkan hadist di atas dapat disimpulkan bahwa di antara tanda-tanda malam yang mulia lailatul qadar yaitu :

Pertama, pada malamnya keadaan bersih dengan cuaca tidak sejuk dan tidak pula panas. Kedua, malamnya tenang yang mana terang dan angin tidak bertiup sebagaimana biasa dan awan agak nipis. Ketiga, malamnya tidak turun hujan dan bintang pula tidak bercahaya seolah-olah tidak timbul. Keempat, pada siangnya pula matahari terbit dalam keadaan suram.

Walaupun malam kadar itu masih rahasia, namun tugas kita mengisi setiap malam Ramadan dengan rangkaian ibadah, baik tarawih, qiyamul lail, bersedekah dan lainnya. Jangan hanya memperbanyak ibadah pada malam tertentu saja, siapa tahu saat kita giat beribadah di situlah malam lailatul qadar, benarkah demikian? Maka raihlah sepuluh akhir Ramadan ini dengan meningkatkan produktivitas amal saleh dan kebaikan menuju ridha Allah.[]

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.