25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menikah di Bulan Safar

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 05 November 2017 17:20 WIB

ilustrasi
ilustrasi

Waktu terus berlalu dalam rotasi bulan yang mulia ini. Bulan Safar telah mampu menujukkan keasliannya terkadang oleh sang jomblo alias lajang terus digilas. Walaupun ada sebagaian orang menganggap bulan 'sial', ini disebabkan paradigma agama yang dianut agak 'keliru'. Namun solusinya menikah di bulan Safar ini, beranikah anda?

Bulan Safar merupakan bulan kedua setelah Muharam dalam kalender Islam (Hijriyah) yang berdasarkan tahun Kamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi). Safar artinya kosong atau nol. Dinamakan Safar karena dalam bulan ini orang-orang Arab dulu sering meninggalkan rumah untuk menyerang musuh.

Telah menjadi kepercayaan yang keliru oleh sebagian umat bahwa Safar adalah bulan sial atau bulan bencana. Padahal, mitos Safar bulan sial ini sebenarnya sudah dibantah oleh Rasulullah Muhammad saw. yang menyatakan bahwa bulan Safar bukanlah bulan sial.

Telah disebutkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”

Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Rasulullah saw. juga bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa.” (HR. Bukhari)

Kita lihat di sebagian daerah kita penduduk meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan yang sial. Maka dari itu jarang sekali orang tua menikahkan anaknya di bulan ini. Dengan keyakinan bahwa kebanyakan orang yang menikah di bulan ini, pernikahannya tidak akan berlangsung lama atau cepat meninggal dunia atau cerai.

Padahal keyakinan tersebut adalah tidak benar dan dilarang oleh syariat, karena itu termasuk (Atthirah) yang dilarang oleh syariat sebagaimana dalam hadis Nabi saw.: “Tiada Kesialan” dalam hadis lain: "Barangsiapa menanggalkan suatu perjalanan karena pesimis (bekeyakinan akan sial) maka telah melakukan perbuata syirik.”

Dalam sejarah Islam, bulan Safar menempatkan peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan Islam dari zaman Rasulullah hingga kejayaan dan keruntuhunnya. Untuk menepis anggapan Safar bulan sial, bahkan tidak baik untuk para lajang mengakhiri stutusnya di meja “pernikahan”.  Dalam hal ini baginda Nabi juga melakukan pernikahan di bulan yang mulia ini.

Hasil penelusuran sejarah menunjukkan bahwa Rasulullah saw. menikahi khadijah r.a pada bulan Safar. Menurut Sirah Nabawiyah yang ditulis Syeikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Rasulullah muda menikahi Khadijah atas prakarsa Nafisah binti Munabbih.

Mahar yang diberikan Rasulullah saw. berupa unta 20 ekor dengan jarak usia lebih tua khadijah 15 tahun. Sekali lagi mari kita perangi “jomblo” dan jangan lupa pesan Rasulullah saw. yang berbunyi: “Orang yang paling buruk di antara kalian ialah yang melajang (membujang), dan seburuk-buruk mayat (di antara) kalian ialah yang melajang (membujang).” (HR Imam Ahmad).

Marilah terus kita kibarkan bendera kebaikan dan perbaikan di bulan Safar ini untuk meraih rida sang ilahi menuju hari esok yang lebih baik. Semoga.[]

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.