13 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menyambung Silaturahmi, Memperkuat Ukhuwah di Bulan Muharram

...

  • PORTALSATU
  • 29 August 2019 22:10 WIB

Tgk. Habibi Muhibuddin Waly. Foto kwpsi
Tgk. Habibi Muhibuddin Waly. Foto kwpsi

PERSATUAN dan kesatuan bangsa Indonesia di awal-awal kemerdekaan masih belum kuat seperti sekarang. Selain gangguan dari luar, perselisilan juga datang dari dalam, khususnya di kalangan umat Islam, seperti pemberontakan DI/TII. 

Kondisi ini membuat Presiden pertama RI, Ir. Soerkarno mencari cara bagaimana memperkuat ukhuwah. Saat itulah, Soekarno meminta bantuan seorang ulama KH. Wahab Hasbullah mencari sebuah motode efektif untuk memperkuat ukhuwah antarsesama. 

Solusi yang diberikan saat itu harus saling bersilaturahmi. Namun Soekarno mengaku sudah cukup sering mendengar istilah silaturahmi. 

Dia lantas meminta metode lain yang lebih efektif untuk diadopsi untuk mempersatukan umat. KH Wahab Hasbullah akhirnya menjawab, kalau begitu kita buat acara yang diberi nama halal bihalal.

Demikian sekelumit kisah disampaikan Mudir (Pimpinan) Dayah Al Waliyah, Lamreung Darul Imarah, Aceh Besar, Tgk. Habibi Muhibuddin Waly, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Kantor LKBN Antara Biro Aceh, Rabu, 28 Agustus 2019, malam.

Tgk. Habibi menjelaskan, asal usul istilah halal bihalal sekarang diadakan oleh umat Islam di Indonesia, berasal dari KH. Wahab Hasbullah.

Bagaimana cara halal bihalal jatuh setelah Muharram. Ketika perjumpaan antara Soekarno dengan ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut itu pada bulan Ramadhan. Sehingga pada 1 Syawal dilaksanakanlah acara itu. 

Dalam perjalanan, halal bihalal menjadi tradisi umat muslim di Indonesia yang selalu diperingati setelah hari raya.

Makin ke sini, dirinya melihat peringatan halal bihalal mulai sepi. Kenapa demikian? Karena ada kelompok-kelompok sangat terang menjelaskan kegiatan tersebut bid’ah. Padahal itu penting sekali. 

Bahkan Jenderal Besar Sudirman pernah berkata “Jika engkau ingin kuat atau ingin menang engkau harus kuat. Jika  engkau harus kuat, harus bersatu. Jika ingin bersatu, hidup bersilaturahmi”.

Seorang Jenderal Sudirman, selaku pimpinan militer kala itu memberikan pernyataan khusus, kalau ingin bersatu, tidak ada cara lain, harus bersilaturahmi.

“Maka tidak perlu tunggu Muharram, kita mulai saja sekarang memperkuat ukhuwah. Semisal saya bertemu Anda di jalan. Apakah ada salam atau tidak,” terangnya.

Tgk Habibi mengungkapkan, Muharram salah satu bulan dimana banyak sekali peristiwa aneh dan besar dalam sejarah yang terjadi. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat At-Taubah Ayat 36 yang artinya, "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram".

Diantara 12 bulan dalam setahun, Allah SWT memuliakan beberapa bulan, yang oleh ayat Surat At-Taubah disebut sebagai arba'atun hurum (empat bulan yang suci). 

Nah ketika Sahabat bertanya, ya Rasululah apa maksud dari arba'atun hurum? Rasul menjawab, diantara empat bulan yang haram itu adalah  Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Maka Muharram adalah satu bulan yang disucikan oleh Allah.

Ketika kita membuka kitab I'anah Ath-Thalibin jilid dua, Syeikh Muhammad Binyati mengatakan pada bulan Muharram banyak sekali terjadi peristiwa sejarah. Salah satunya Allah mengampunkan dosa Nabi Adam AS, kemudian pada Muharram juga Allah menyelamatkan nabi Nuh AS dari perut ikan paus, pada bulan Muharram juga Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa AS.

Pada Muharram juga, Allah mengembalikan tongkat kekuasan kepada Nabi Sulaiman AS setelah beberapa tahun beliau dikuasai oleh Iblis, karena Nabi Sulaiman, dulu saat berkuasa cincinnya jatuh ke laut diambil oleh iblis dan iblis  menyerupai Sulaiman, karena bisa merubah tubuh seperti tubuh Nabi Sulaiman. Hanya satu yang tidak bisa diserupakan oleh Iblis yaitu Nabi Muhammad SAW. 

Pada Muharram juga Allah menyelamatkan kaum Nabi Nuh yang jumlahnya 14 orang. 

“Jadi bisa dikatakan Muharram ini bulan suci. Allah abadikan sejarah itu semua dalam Alquran. Semua sejarah itu Allah rekam, tinggal baca saja, cuma bahayanya, kadang kita ini diberikan peringatan oleh Allah, kita tidak mau mendengar. Semua  itu sudah Allah kisahkan dalam Alquran,” sebutnya.[] (KWPSI)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.