23 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menyegarkan Kembali Makna Puisi

...

  • portalsatu.com
  • 03 February 2019 07:30 WIB

 

Seorang Zakir Naik pun beranggapan bahwa puisi telah kehilangan daya pikatnya. Sebab zaman kita yang saintifik, industrialis dan digitalis telah menakar kembali fungsi keindahan, semula dari kata lalu beranjak ke rupa dan suara.

Walaupun demikian puisi tetap memiliki ruangnya sendiri dalam simbol ekspresi bagi kebudayaan yang dikepung nilai instan dan gairah pop. 

Untuk itu puisi puisi tetap ditulis. Puisi puisi selalu tercipta. Dan puisi puisi akan tetap menjadi saksi dari realitas kita: Terlepas apakah ia laku dijual atau sekadar pemantik rasa dan akal. 

Terkadang puisi sangat personal dan invidual. Tapi puisi mesti bisa melompat ke arena perubahan. Tanpa melulu tersedu, merintih-malu dan bersolek di kamar. Rendra (Alm) menyebutnya puisi "anggur dan rembulan".

Puisi hendaknya menjadi alternatif ekspresi yang paling masuk akal, lembut dan bahkan frontal. Puisi mesti hadir di ruang tamu dan di meja makan. Atau di halaman sekolah saat jam jam istirahat berlangsung. 

Meskipun puisi menghendaki pra syarat diksi yang ketat, tapi puisi bisa menjadi lentur tanpa kehilangan keindahan dan maknanya.[]

 

Taufik Sentana
Mengelola Prog. Menulis Kreatif.
Antologi pribadinya:  Doa Dua Jiwa, Agar Langit dan Bumi Menjadi Teduh, Seni Menikmati Hidup, Jejak Ma'rifat dan (dalam proses) Password Kebahagiaan. Sedang berinovasi dengan layanan Puisi Instan untuk Pernikahan.

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.