18 December 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia

Fiqh Ramadan
Meraih Iktikaf Sepuluh Akhir Ramadan

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 19 June 2017 14:20 WIB

ilustrasi @harian terbit
ilustrasi @harian terbit

Bulan Ramadan hanya tinggal beberapa hari lagi di fase sulus (sepertiga) terakhir. Setidaknya dalam sepuluh terakhir ini kita terus meningkatkan produktivitas ibadah salah satunya 'itikaf di mesjid. Perbuatan ini merupakan ibadah yang sangat giat dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Penjelasan tersebut sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam karya beliau Bulughul Maram, tentang hadist permasalahan i’tikaf.

Diungkapkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat.. (HR. Muslim no. 1172).

Dalam pelaksanaan ibadah iktikaf ini, boleh berbicara perkara yang bukan ibadah, tapi kadang-kadang dan bukan terus-menerus. Sesuai dengan kebutuhan tidak berlebih-lebihan. Namun esensial iktikaf tetap menggunakan waktunya untuk memperbanyak doa, dzikir, salat dan ibadah lainnya.

Setidaknya dengan beriktikaf di masjid kalaupun jatuh malam lailatul qadr yang hanya satu malam saja, dan itupun hanya saja ia malam yang tidak bisa dipastikan kita telah berada pada malam itu dalam ibadah.

Korelasi iktikaf Rasulullah SAW dengan sepuluh terakhir Ramadan itu kemungkinan terjadinya lailatul qadar pada fase sepuluh akhir. Hanya saja yang paling diharapkan dan terkhusus malam-malam ganjil, baik 29, 27 atau lainnya. Maka hendaknya untuk bersungguh-sungguh pada malam-malam ini. Penjelasan ini dapat dipahami sebagaimana praktek Nabi Saw:

Barangsiapa menghidupkan malam kemuliaan (lalilatul qadr) didasari keimanan dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dari dosanya yang telah lewat.”

Dan berdasarkan ini jika seseorang ingin menemukan lailatul qadr maka disarankan untuk menghidupkan semua malam di bulan Ramadan dengan ibadah. Dan mengutamakan sepuluh hari terakhir dengan kesungguhan, dan mengkhususkan malam ganjil dengan kesungguhan yang lebih. 

Sementara itu dalam hadist lain juga disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan iktikaf di sepuluh terakhir Ramadan, bunyinya: “Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari no. 2018 dan Muslim no. 1167).

Juga hadist lain yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa r.a. bahwa  beberapa orang sahabat Nabi  SAW bermimpi melihat malam lailatul qadr pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah SAW bersabda,”Menurut dugaanku, kalian bermimpi pada tujuh hari terakhir. Barang siapa ingin mencari malam tersebut, maka carilah pada tujuh malam terakhir." (Muttafaq Alaihi)

Pernyataannya, “pada tujuh malam yang terakhir” yakni pada  tujuh malam yang tersisa dari akhir Ramadan. Dengan demikian permulaannya adalah malam 23. 

Namun para ulama berbeda pendapat dalam menentukan malam tersebut dengan berkesimpulan bahwa lailatul qadar pada malam ganjil di sepuluh terakhir. Setidaknya sisa bulan Ramadan ini kita pergunakan untuk beribadah, baik iktikaf maupun ibadah lainnya.[]

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.