20 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia

Ramadhan Mubarak (I):
Niat Puasa Malam Pertama Untuk Sebulan, Sahkah?

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 17 May 2018 15:30 WIB

ilustrasi puasa ramadhan. @Ist
ilustrasi puasa ramadhan. @Ist

Salah satu hal terpenting dalam sebuah ibadah termasuk puasa adalah niat, seperti halnya puasa Ramadhan sebagai ibadah wajib setiap muslim. Terkadang dalam masyarakat problema niat Ramadhan salah ditafsirkan oleh segelintir masyarakat awam.

Penulis mencoba merangkupkan beberapa kutipan dan penjelasan dari berbagai sumber. Setidaknya menjadi renungan dan pencerahan serta ulangan untuk pribadi penuis, mungkin juga untuk masyarakat lainnya

Seseorang yang berpuasa boleh meniatkan sejak mulai malam untuk esoknya berpuasa, tidak mesti berniat menjelang akhir fajar. Tentu saja dalam hal ini syariat melihat adanya kesukaran (masyakkah) untuk dilakukaknnya, maka dibolehkan.

Niat adalah bermaksud untuk melaksanakan puasa, seperti: “Saya bermaksud untuk melaksanakan puasa esok hari sebagai pelaksanaan kewajiban puasa di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Swt”. 

Berniat dilakukan di dalam hati, dan dianjurkan untuk dilafazkan dengan lisan hukumnya sunah. Namun tidak cukup hanya dengan berniat secara lisan saja, tanpa berniat di hati. Apabila ada yang berniat hanya di lisan dan tidak dibarengi dengan berniat di hati, maka ia tidak dianggap berniat.

Hukum

Berniat adalah wajib dan tidak sah puasa wajib ataupun puasa sunah kecuali berniat. Berdasarkan hadis, sesungguhnya hanyalah diterima amalan sesuai dengan niat.

Syarat niat

Syarat niat ada tiga macam yaitu:

Pertama, tabyit (diniatkan pada malam hari). Oleh karena itu, orang-orang yang melaksanakan puasa wajib; puasa Ramadhan, puasa nadzar, puasa kaffarah, puasa fidyah, dll., wajib berniat melaksanakan berpuasa dari malam hari dan tidak sah puasa mereka jika tidak diniatkan dari malam hari. Berdasarkan hadis, “Orang-orang yang tidak berniat melaksanakan puasa sejak malam hari sebelum fajar, maka ia tidak berpuasa”.

Berniat bisa dilakukan sepanjang malam, sejak terbenam matahari sampai terbit fajar. Agar tidak lupa, sebaiknya seorang muslim segera berniat untuk pelaksanaan esok harinya mulai setelah berbuka puasa atau setelah melaksanakan shalat tarawih.

Apabila seseorang telah berniat puasa sejak malam hari, ia tetap dibolehkan untuk makan, minum, bergaul suami istri dan tidur pada malam.

Jika seseorang yang akan berpuasa baru berniat setelah masuknya waktu fajar, maka niatnya tidak sah. Adapun puasa sunah tidak dimestikan berniat sejak malam hari, ia boleh berniat siang hari sebelum waktu zawal (tergelincirnya matahari ke arah barat), selama masih menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai saat ia berniat.

Kedua, ta`yin (menentukan jenis puasa yang dilaksanakan). Seseorang yang menunaikan puasa wajib, mesti menentukan jenis puasa wajib yang dilaksanakannya. Meskipun seseorang berada di bulan Ramadhan dan ia hanya bisa melaksanakan puasa wajib Ramadhan, ia tetap wajib  berniat puasa wajib di bulan Ramadhan, seperti halnya seseorang yang berniat menunaikan shalat zuhur di waktu zuhur masih ada atau shalat Ashar, dll. Berdasarkan hadis: (Dan hanyalah seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya).

Ketiga, takrar (mengulangi berniat setiap hari). Apabila niat di malam pertama Ramadhan untuk berpuasa selama sebulan penuh, maka puasanya hanya sah untuk puasa pada hari pertama dan tidak sah untuk hari selanjutnya. Untuk hari kedua dan hari selanjutnya, ia wajib mengulangi niat kembali pada malam harinya. Karena ibadah puasa setiap harinya adalah ibadah terpisah, yang berdiri sendiri, dengan bukti; pertama,  masuk waktunya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Ada pembatas waktu antara ibadah puasa pada suatu hari dengan hari sebelum dan sesudahnya, yaitu malam hari, sebagai waktu tidak melaksanakan puasa. Kedua, apabila puasa batal satu hari, tidak menyebabkan batal puasa seluruh hari yang dilaksanakan, sebelumnya atau sesudahnya.

Niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa ramadlan hukumya disunahkan. Sedangkan hukum niat untuk puasa hari-hari setelah hari pertama, ulama berbeda pendapat (khilaf). Pertama, menurut madzhab syafi'iyah niat puasa untuk sebulan penuh tersebut cukup untuk puasa satu hari yang pertama, sehingga stiap hari puasa ramadhan wajib niat, jika tidak diniati maka tidak sah puasanya sebulan tersebut kecuali puasa ramadhan hari pertamanya.

Kedua, menurut imam Malik niat puasa ramadhan untuk sebulan penuh sudah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali, yang artinya jika tidak niatpun sudah sah karena niatnya sudah sebulan penuh pada malam hari pertama awal puasa Ramadhan tersebut.

Apabila seseorang berniat pada awal malam bulan Ramadhan untuk melakukan puasa keseluruhannya (sebulan) maka menurut Madzhab Syafii tidak cukup. Kewajiban niat harus dilakukan pada tiap malamnya. Tetapi menurut pendapat madzhab Maliki niat jamak puasa 1 bulan adalah sunah hal ini untuk menjaga puasa yang lupa tidak diniati. Hal senada juga dikemukakan oleh Madzhab Hanafi.

Tapi yang perlu menjadi catatan adalah kita tidak boleh mencampur adukan madzhab (talfiq Mazhab). Bila ini dilakukan maka yang terjadi adalah kerusakan ibadah. Kita mazhab Imam Syafi’i tetap mengikuti atas manhaj (metode) Imam Syafii, tidak boleh talfiq mazhab (kitab Kasyifatus Sajaa , 117)

Referensi: Kitab Hasyiya Qulyubi Wa 'Umairah 2/67, Kitab Al Majmu' Syarah Muhadzab 6/303, Kitab Hasyiyah Al Bajuri 1/288, Kitab Kasyifatus Sajaa.[]

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.