25 May 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pemimpin yang Memburu Kekuasaan Dimurkai Allah

...

  • PORTALSATU
  • 03 December 2016 08:00 WIB

Ilustrasi. @Istimewa
Ilustrasi. @Istimewa

“Dan sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas “(Yunus: 83).

Setiap orang pasti mendambakan pemimpin yang dalam jiwanya mengalir nilai-nilai kemanusian, kebenaran dan keadilan. Sebab pemimpin merupakan penentu corak hidup masyarakat dan pola perilaku mereka. Di tangan pemimpinlah warna kehidupan bangsa sangat tergantung. Jika seorang pemimpin adil, keadilan akan dengan sangat gampang merayap.

Jika amanah mendarah daging dalam jiwa seorang pemimpin maka pengkhianatan akan surut. Jika cinta pada sesama mengakar dalam nurani seorang pemimpin maka damai akan terasa denyutnya.

Pemimpin adil adalah pemimpin yang senantiasa menjadikan kemaslahatan manusia di atas kepentingan dirinya. Dia senantiasa mengikuti semua perintah Allah dan meletakkan segala sesuatu tepat pada porsinya. Pemimpin adil memiliki posisi yang demikian tinggi di sisi Allah. Mereka akan berada di atas mimbar yang bertabur cahaya di sisi Allah Sang Maha Pengasih. Mereka akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat, saat manusia yang lain tidak mendapatkannya.

Doa pemimpin yang adil adalah doa yang akan diijabah oleh Allah. Semua itu didapatkan karena mereka telah mampu membendung arus hawa nafsunya, menahan rasa tamak dan angkara murkanya, padahal dia mampu untuk mencapai dan melakukannya. Dalam jiwanya tertanam rasa takut yang dalam kepada Allah. Jiwanya diliputi cahaya Allah yang menggerakkan semua gerak dan aksinya.

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa penghuni surga itu ada tiga: “penguasa yang adil, seseorang yang berhati lembut pada kaum kerabat dan kepada setiap muslim, dan seorang kaya yang menjaga kehormatannya serta rajin sedekah.”

Sebaliknya, setiap manusia pasti tidak akan pernah membayangkan, menginginkan dan mendambakan pemimpin yang keji, kejam, jahat, culas, khianat dan zhalim. Mereka senantiasa tidak diinginkan ketidakhadirannya. Kehadiran pemimpin model ini hanya melahirkan kekeruhan dan kekumuhan. Baik kekeruhan sosial, ekonomi, politik dan budaya serta peradaban. Mereka hanya menghadirkan kerusakan yang senantiasa bergulir semakin besar dari hari ke hari.

Sebab pemimpin yang semancam ini yang ada dalam degup jiwanya adalah unsur-unsur destruktif yang meremukkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Kehadiran mereka menjadi parasit terhadap unsur-unsur konstruktif. Pemimpin seperti ini adalah sejahat jahat manusia.

Fir’aun dalam kutipan ayat di atas adalah gambaran sosok pemimpin yang Allah murkai.. Dalam dirinya terakumulasi semua sifat dan sikap yang merusak. Sikap seweang-wenang dan melampaui batas adalah karakter paling merusak. Kesombongan, keangkuhan meliliti jiwanya. Pemimpin yang Allah murkai bukan menghamparkan jalan lurus pada pengikutinya, sebaliknya dia menunjukkan jalan sesat bagi mereka.

Allah berfirman:

“Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk “(Thaha : 79).

Tidaklah heran jika Rasulullah sering kali mengingatkan akibat yang akan diterima oleh para pemimpin yang zhalim, seperti Fir’aun. Rasulullah bersabda: “Ada empat golongan yang paling Allah benci: pedagang yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua yang berzina, dan seorang pemimpin (penguasa) yang zhalim” (HR. An-Nasai).

Kezhaliman adalah perbuatan paling berbahaya. Kebijakan dan kejernihan berpikir tidak mungkin ada tempatnya dalam kezhaliman. Keterbukaan tidak akan pernah didapatkan pada diri pemimpin zhalim. Objektivitas pasti tidak akan mendapatkan ruang, kebebasan berekspresi pasti akan disumbat. Kezhaliman adalah bencana dan musibah bagi setiap orang. Allah melaknat dan mengutuk mereka, memandang rendah mereka. Allah murka pada mereka. Kutukan pantas mereka terima..

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, disebutkan “Sesungguhnya orang yang paling Allah sukai dan yang paling dekat tempat duduknya di sisi-Nya adalah seorang pemimpin yang adil sedangkan orang yang paling Allah benci dan paling jauh tempat duduknya dari Allah adalah seorang pemimpin yang kejam"(HR. Ahmad).

Pemimpin adil menghadirkan manfaat, pemimpin zhalim menghadirkan mudharat. Pemimpin adil menghadirkan maslahat, pemimpin zhalim menghadirkan mafsadat. Pemimpin adil menghadirkan amanat, pemimpin zhalim menebarkan khianat. Pemimpin adil menghadirkan aman dan damai, pemimpin zhalim menghidangkan kekacauan dan keresahan. Pemimpin adil melahirkan cahaya, pemimpin zhalim menyuguhkan gulita.

Rasululullah mewanti wanti agar seorang pemimpin berlaku adil dan jangan menyimpang. Dalam Shahih Bukhari Muslim disebutkan: “Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk meminpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam melakukan penipuan terhadap rakyatnya, kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk surga.”

Kekuasaan memang demikian menggoda dan banyak orang yang tidak sanggup untuk mengendalikannya. Alih-alih dia menjadi pengendali kekuasaan, sering kali seorang penguasa menjadi budak kekuasaan. Kekuasaan yang sering mendorong seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan jahat dan kejam bukan dia lawan, malah dia turuti karena dianggap sebagai kesempatan.

Tak heran kiranya jika kemudian tangannya menjadi tangan yang berlumuran darah dan air mata rakyatnya yang dizhalimi. Tangannya menjadi tangan diktator yang mengubur semua aspirasi. Nepotisme menjadi kaidah kekuasaannya, kolusi menjadi kamus pemerintahannya. Penyimpangan menjadi menu sehari-harinya. Allah murka pada mereka, Allah marah pada mereka.

“Keadilan seorang pemimpin walaupun sesaat jauh lebih baik daripada ibadah tujuh puluh tahun “(HR. Thabrani). Sebuah negara akan senantiasa tetap tegak berdiri dengan keadilan dan akan runtuh punah bersama kezhaliman.

Salah satu ciri pemimpin yang sangat mungkin untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan adalah seorang pemimpin yang dengan sengaja dan ambisius berburu kekuasaan. Perburuan yang dilakukan bukan demi kebaikan umat dan bangsa, tapi terkonsentrasikan untuk kepentingan diri, kerabat, kelompok dan pendukungnya. Kepentingan pendek dan sempit yang akan berujung kebuntuan. Seluruh geraknya adalah tipu muslihat dan makar.

Makanya Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu akan dibantu oleh orang banyak “(HR. Muslim).

Pemimpin yang Allah murka akan memiliki pandangan pendek dan picik dan tidak akan memikirkan masa depan yang sesungguhnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran tentang Fir’aun:

“Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami”(Al-Qashash: 39).

Semoga Allah menghadirkan pemimpin adil di tengah kita dan menjauhkan pemimpin yang Allah murkai dari tengah-tengah kita.[] (Ustadz Samson/eramuslim.com)

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.