26 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Sifat Dunia: Takatsur dan Tafakhur

...

  • PORTALSATU
  • 09 January 2019 10:00 WIB

Ilustrasi. Foto: istimewa/net
Ilustrasi. Foto: istimewa/net

Oleh Taufik Sentana*

Ada yang berpendapat bahwa secara harfiyah, kata "dunia" berakar dari kata "dana-yadni", yang bermakna rendah,tak bernilai. Maka wajar bila disebutkan dalam riwayat Hadis bahwa dunia dan seisinya ini hanyalah setitik air dari tetesan jarum setelah dicelup dari lautan luas. Disebutkan pula bahwa sebelah sayap nyamuk lebih berat dari dunia ini. Sedang dalam Alquran, kata dunia sering dinisbahkan pada kata "kesenangan yang melenakan" dan "ujian atau fitnah". 

Dari poin ini kita bisa menyadari bahwa dunia dan segenap ornamen dan perhiasannya akan membuat kita terpedaya dan akhirnya menyangka seakan dunia menjadi akhir perjalanan diri, sehingga jiwa kita yang murnipun terjebak dalam "rangka" dunia yang menyebabkan sang jiwa semakin berat mencintai dan mencengkeram dunia.

Takatsur dan Tafakhur

Selain digambarkan sebagai sesuatu yang melenakan, penuh senda gurau dan permainan. Dunia juga digambarkan sebagai wahana "bertakatsur". Yaitu dorongan manusia untuk saling menunjukkan kelebihannya ( siapa yang lebih banyak ) dari yang lain dari segi harta,  kepemilikan dan bahkan anak. 

Kemudian dunia juga menjadi wahana dalam hal "tafakhur". Yaitu dorongan diri untuk saling membanggakan dalam hal apapun. Baik membanggakan kekuatan, jabatan, pengaruh, pengikut (follower)  dan manifes kebanggaan lainnya.

Disini kita tidak ingin meninggalkan dunia dan melupakan tugas utama kita di dalamnya, melainkan menjadikan kita lebih berhati-hati, tidak bangga berlebihan dan tidak pula sedih berlebihan. Sebab di dalamnya kita hanya berlomba untuk mencapai nilai yang utama dalam mengarungi kebadian. Nilai utama itu bisa saja karena pengaruh baik yang kita tularkan atau karena amal kita yang tulus  sesuai kapasitas dan fungsi sosial yang kita emban. Bahkan (pada ayat 20-21 surat Alhadid),  digambarkan bahwa pengampunan Allah dan kesabaran kita (dalam susah dan senang) akan cukup sebagai bekal untuk sampai ke alam Akhir.

Maka sudah semestinya pula para pelaku pendidikan agar menghayati pula makna dunia ini, sebagaimana kami cantumkan di atas, agar menjadi bagian dari  materi dalam membentuk watak peserta didik dalam mengaplikasikan fungsi kekahalifahannya di dunia ini.[]

*Taufik Sentana

Anggota Ikatan Dai Indonesia Kab. Aceh Barat. Praktisi Pendidikan Islam

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.