21 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tempat yang Menjadikan Laki-laki Jadi Pemberani

...

  • PORTALSATU
  • 11 January 2018 18:40 WIB

Foto: Ilustrasi. @ArchDaily
Foto: Ilustrasi. @ArchDaily

Ciri pertama kedewasaan seorang laki-laki adalah memakmurkan masjid. Hati mereka selalu terpaut pada-Nya. Di masjid, laki-laki menyucikan diri, bersujud, berzikir dan shalat. Perdagangan, jual beli dan macam-macam urusan duniawi tak menggoyahkan hati mereka untuk mendatangi masjid. Masjid bukan sekadar tempat untuk "numpang pipis".

Ibnu Hajar menjelaskan, “Sebagaimana disebut dalam hadits shahihain, makna “tergantung pada masjid” adalah menempel atau melekat seperti sesuatu yang tergantung di masjid semisal lampu sebagai bukti dari ketergantungan hatinya meskipun jasadnya tidak berada di dalam masjid.

Nabi SAW., mengingatkan tentang keutamaan masjid sebagaimana sabdanya, “Tempat yang paling aku sukai di sebuah negeri adalah masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.”

Perhatikan, sebesar apapun ketergantungan Rasulullah SAW., pada masjid dan sekuat apa Rasulullah SAW., menjaga shalat berjamaah di masjid? Rasulullah sampai tiga kali jatuh pingsan dan setiap kali tersadar, Rasulullah kembali berwudhu kemudian berusaha bangkit untuk pergi ke masjid meskipun pada akhirnya Rasulullah SAW., mendapati dirinya tak mampu lalu mengutus Abu Bakar mengimami shalat.

Para ulama salaf telah memberikan teladan yang indah dan tepat dalam hal mencintai masjid dan menjaga shalat berjamaah. Sebab, mereka meyakini bahwa masjid merupakan membentuk laki-laki pemberani yang sebenarnya.

Seorang tabiin, Said bin al-Musayyab pernah berkata, “Aku tidak pernah melewatkan shalat berjamaah selama empat puluh tahun.” Dia menambahkan, “Aku tidak pernah takbiratul ihram selama lima puluh tahun karena itu aku tidak pernah melihat siapa yang ada di shaf (barisan) paling akhir.”

Barad, pembantu Said al-Musayyab, pernah berkata, “Tak ada shalat yang kami lakukan selama empat puluh tahun, kecuali Said sudah ada di dalam masjid.”

Para ulama senantiasa shalat berjamaah di masjid meski mereka mendapat keringanan untuk tak shalat berjamaah di masjid.

Adalah ar-Rabi bin Khutsaim yang tetap melangkahkan kakinya pergi ke masjid meski dalam keadaan sakit.

Orang-orang menasihati, “Wahai Abu Yazid–panggilan ar-Rabi bin Khutsaim, engkau shalat di rumah saja!”

Ia menjawab, “Sesungguhnya aku ingin mengikuti saran kalian, akan tetapi mendengar panggilan Hayya ‘ala alfalah. Siapa saja mendengar itu, dia wajib menjawab panggilan itu, meski harus merangkak atau merayap.”

Beda dengan Abu Abdurrahman As-Silmu yang digotong karena sakit untuk pergi ke masjid, bahkan ia tetap menyuruh orang-orang untuk mengangkatnya meski cuaca sedang hujan dan berlumpur.

Masjid merupakan tempat pembentukan laki-laki pemberani yang sebenarnya. Seorang penyair Islam mengatakan, “Tiada pahlawan dicetak kecuali mereka itu lulusan masjid-masjid, yang di dalamnya ada taman Alquran dan di bawah naungan hadits-hadits shahih.”

(Paramuda)[] Sumber: bersamadakwah.net

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.