20 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Umar bin Khattab Bingung dengan Keluwesan Penduduk Madinah

...

  • REPUBLIKA
  • 10 October 2018 21:00 WIB

Miniatur Masjid Nabawi dengan bangunan Makam Rasulullah masih di luar masjid lada masa Khalifah Utsman bin Affan di Museum Dar Al Madinah. @Republika/Fitriyan Zamzami
Miniatur Masjid Nabawi dengan bangunan Makam Rasulullah masih di luar masjid lada masa Khalifah Utsman bin Affan di Museum Dar Al Madinah. @Republika/Fitriyan Zamzami

Keramahan masyarakat Madinah dikenal di seantero dunia Islam. Inilah salah satu keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepada mereka, di samping sejumlah keistimewaan kota Madinah sendiri.

Hati penduduk Madinah dibuka oleh Allah SWT untuk segera mendekap dan memeluk risalah Nabi SAW ketika mendengar keagungan Islam. Bahkan, itu semua dilakukan dengan pengorbanan darah, pikiran, harta, dan tenaga.

Mengapa penduduk Madinah punya karakter terbuka, sementara orang-orang Makkah kaku dan keras hati? Muhammad Musthofa Mujahid punya penjelasan tentang hal ini. Dalam bukunya Abqariyatu ar-Rasul fi Iktisab al-'Uqul (Rasulullah Sang Jenius), ia mengungkapkan bahwa faktor utama pembentuk karakter penduduk Madinah adalah pekerjaan mereka, yaitu bertani.

Masyarakat petani terbiasa hidup dalam suasana tolong-menolong, baik dalam tingkat keluarga ataupun masyarakat. Kegiatan pertanian menuntut kerja sama antarindividu, terutama pada musim tanam dan panen.

Pada masa penantian panen pun, menurut Mujahid, mereka mempunyai aktivitas lain, seperti menjaga tanaman, memerah susu, atau bersosialisasi dengan sesama petani. Kondisi seperti ini membentuk karakter masyarakat Madinah yang terbuka, baik untuk berdialog ataupun kerja sama.

Keadaan sebaliknya terjadi pada masyarakat Makkah yang umumnya berprofesi sebagai pedagang. Cara berpikir pedagang lebih bersifat transaksional. Berpedoman pada hukum untung dan rugi. Oleh karena itu, mereka sulit diajak berdialog.

Orang sehebat Umar bin Khaththab pun terheran dengan keluwesan penduduk Madinah. Namun, ia segera menyadari bahwa watak mereka terbentuk karena pola kerja keseharian yang digeluti.

Penulis: Syahruddin el-Fikri.[]Sumber: republika.co.id

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.