17 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Urgensi Takhrij Hadist

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 22 July 2017 12:40 WIB

DALAM Islam perintah “ta’atilah Allah”, maksudnya untuk diambil al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam yang utama dan pertama. Perintah ini diikuti oleh perintah “ta ‘atilah Rasul-(Nya)”, maksudnya apapun dipahami tak akan keluar dari diambil hadist-hadistnya sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an.

Kedudukan Al-Hadits merupakan sumber hukum islam kedua setelah Al-Qur’an, karena ia mempunyai peranan penting, terutama sebagai hujjah dalam menetapkan hukum. Oleh karena itu validasi sebuah hadits harus menjadi perhatian. Hadits mempunyai tiga unsur penting yakni, sanad, matan dan perawi. Sebuah hadits belum dapat ditentukan apakah boleh diterima (maqbul) secara baik atau ditolak (mardud) sebelum keadaan sanadnya, apakah mereka muttashil ataukah munqathi’.

Di samping itu  sanad berperan menentukan nilai hadits, karena sanad adalah mata   rantai para perawi yang mengantarkan sebuah matan. Sedangkan matan merupakan lafadh yang menunjuk pada isi sebuah hadits. Dari segi periwayatannya, posisi dan kondisi para perawi yang berderet dalam sanad sangat menentukan status sebuah hadits, apakah ia shahih, dla’if,atau lainnya. Sebuah Hadis dapat diterima sebagai dalil atau hujjah di dalam Islam adalah apabila Hadis tersebut telah memenuhi kriteria Hadis sahih atau Hadis Hasan. Kriteria tersebut terdapat pada sanad dan matn sebuah hadis. Untuk mengetahui status sanad dan matn suatu hadis apakah telah memenuhi kriteria Hadis yang dapat diterima sebagai dail ( maqbul ), yaitu sahih atau hasan, dapat dilakukan melalui penelitian hadis, yaitu penelitian sanad dan matn Hadis.

Dengan demikian bila kita melihat pendapat diatas maka kita dapat mengambil kesimpulan yang bahwa kea’dalahan, ketsiqahan dan kedlabithan setiap perawi sangat menentukan status hadits. Diantara kita terkadang memperoleh atau menerima teks, baik dalam buku-buku agama bahkan dalam sebagian kitab karya Ulama’ Klasik, yang dinyatakan sebagi hadits tetapi tidak disertakan sanadnya bahkan tidak pula perawinya. Maka untuk memastikan apakah teks-teks tersebut benar merupakan hadits atau tidak, atau jika memang hadits maka perlu diketahui statusnya secara pasti, siapa perawinya dan siapa-siapa sanadnya.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka teks tersebut harus diteliti atau dilacak kembali, dari mana teks tersebut diambil (menunjuk pada kitab sumbernya sekaligus siapa perawinya), dan bagaimana keadaan para perawi dalam sanad setelah ditemukan sanadnya. Hasilnya akan diketahui sumber teks (kitab dan penulis atau perawi), maupun sanadnya jika teks pun diketahui apakah sahih atau tidak. Maka proses Pelacakan hadis seperti itulah namanya penelitian hadits (takhrij al-hadits ).

Pengertian Takhrij Hadis

Takhrij Hadis adalah merupakan bagian dari kegiatan penelitian Hadis. Sebelum mengenal pengertian takhrij ada baiknya juga dikenal terlebih dahulu dua kata lain yang mempunyai kata dasar yang sama dari kata kha-ra-ja, yaitu ikhraj, yang penggunaannya sedikit berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Kata ikhraj dalam terminologi Ilmu Hadis berarti,Yaitu, periwayatan Hadis dengan menyebutkan sanad-nya mulai dari mukharrij-nya dan perawinya sampai kepada Rasul SAW jika hadis tersebut Marfu’, atau sampai kepada Sahabat jika Hadis tersebut Mawquf, atau kepada Tabi’in jika Hadis tersebut Maqthu’.

Sedangkan istikhraj dalam istilah Ilmu Hadis adalah,seorang hafiz ( ahli Hadis ) menentukan ( memilih ) satu kitab kumpulan Hadis Karya orang lain yang telah di susun lengkap dengan sanad-nya, lalu dia men-takh-rij Hadis-Hadisnya dengan sanad-nya sendiri tanpa mengikuti jalur sanad penyusun kitab terse-but. (Akan tetapi) Jalur sanad-nya itu bertemu dengan sanad penulis buku tersebut pada gurunya atau guru dari gurunya dan seterusnya sampai tingkat Sahabat sebagai penerima Hadis pertama, dengan syarat bahwa hadis tersebut tidak datang dari Sahabat lain, tetapi mestilah dari Sahabat yang sama.

Adapun takhrij, secara bahasa berarti:Berkumpulnya dua hal yang bertentangan dalam satu masalah. Selain itu, takhrij secara bahasa juga mengandung pengertian yang bermacam-macam, dan yang populer di antaranya adalah: pertama, al-istinbath ( mengeluarkan ), kedua, al-tadrib ( melatih atau membiasakan ), ketiga, al-tawjih ( memperhadapkan ).

Al-Tahhan, setelah menyebutkan beberapa macam pengertian takhrij di kalangan ulama Hadis, menyimpulkannya sebagai berikut:Menunjukkan atau mengemukakan letak asal Hadis pada sumber-sumbernya yang asli yang di dalamnya dikemukakan Hadis itu secara lengkap dengan sanad-nya masing-masing, kemudian, manakala diperlukan, dijelaskan kualitas Hadis yang bersangkutan.[]

Referensi:

1.       Mohmd Kalam Daud, “Implementasi Takhrij dan Kritik Sanad”, ( Banda Aceh, Dinas Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2004 ), hal. 1
2.       Nawir Yuslem, Metodelogi Penelitian Hadis, ( Bandung : Citapustaka Media Perintis.2008 ) hal. V
3.       Mahmud al-Thahhan, Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid ( Riyadh: Maktabat al-Ma arif, cet. Kedua, 1412 H/1991 M ), hal.7
4.       Nawir Yuslem, Metodelogi Penelitian Hadis ( Bandung: Citapustaka Media Perintis.2008), hal.16

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.