17 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


212, Kampanye Superioritas Islam?

...

  • portalsatu.com
  • 01 December 2018 17:30 WIB

Ilustrasi. Foto: inilahcom
Ilustrasi. Foto: inilahcom

SETELAH kasus yang menimpa Ahok mantan Gubernur DKI lalu, simbol 212 menjadi  bagian bahasa massa. Walau secara teknis, 212 identik dengan masyarakat muslim, tapi semangat dan efek sosialnya bisa membias ke kelompok siapa saja. 

Bila awalnya kegiatan demo 212 hanya sebagai bentuk demo massa dengan tujuan pembelaan atas hak keyakinan muslim, maka selanjutnya kegiatan massa berbasis momen 212 menjadi pembahasan sendiri. Diantaranya karena kegiatan 212 telah terkondisi dalam ritual sosial yang umum, seperti reuni dan berpadu dalam tradisi maulidan.

Untuk acara yang berlangsung esok  (2/12/18), pihak penyelenggara beranggapan bahwa kegiatan tersebut jangan terlalu dikhawatirkan apalagi diplintir ke arah politik. Dalam hal ini, kegiatas 212 hanya sebagai pengingat publik tentang persatuan, persaudaraan dan keteraturan (taat asas).

Di samping itu, menarik juga untuk meninjau lebih jauh ke dalam masyarakat muslim sendiri bahwa momen 212 muncul dari upaya membangun identitas , yang selama ini mungkin terpecah (terserak) dalam arus kepentingan yang tumpang tindih. 

Kenyataan itu menjadikan masyarakat muslim seakan inferior (rendah) dalam memengaruhi kebijakan umum bernegara. Sehingga dengan adanya momentum 212  akan terpolarisasi pula ikatan massa secara emosional dalam bahasa spiritualitas (agama), yang dengannya masyarakat muslim dapat membangun kembali identitas persatuan Islam tanpa menghilangkan nilai keindonesiaan: identitas yang memang sudah melekat jauh  sebelum kita bernama Indonesia.

Jadi, dari segi kebudayaan Islam, momen reuni 212 merupakan bagian dari "kampanye" superioritas Islam (dimana Islam memiliki nilai tawar yang tinggi) tanpa mesti takut akan terancamnya kebhinnekaan, sebab Islam sendiri merupakan agama yang paling majemuk penganutnya, baik dari jenis kulis, ras dan strata sosial.

Sehingga biarlah 212 terus diingat sebagaimana kita selalu mengingat momen momen besar lainnya.[]


Taufik Sentana
Peminat kajian sosial budaya.
Menetap di Meulaboh.

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.