14 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
Aceh Kuliner Festival Ibarat 'Tôh Geuntôt Lam Limbôt Droe'

...

  • MUDIN PASE
  • 06 July 2019 11:30 WIB

Ilustrasi festival kuliner. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Ilustrasi festival kuliner. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Aceh Kuliner Festival digelar di Banda Aceh, 5 sampai 7 Juli. Sepertinya ini event pariwisata bila merujuk pada penyelenggara. Yaitu Dinas Pariwisata Aceh. Uniknya, kegiatan ini dilaksanakan di Banda Aceh. 

Kalau tamsil Aceh "tôh geuntôt lam limbôt droe (kentut atau buang angin dalam selimut sendiri)". Jika event ini bertujuan untuk memperkenalkan kuliner Aceh, atau bertujuan menarik wisatawan. Apakah lokasi penyelenggaraan sudah tepat?

Menjadi aneh dan lucu. Festival makanan Aceh dilaksanakan di Aceh. Soalnya Aceh jelas beda dengan Bali atau Jogja, yang wisatawannya memang sudah melimpah. Sehingga event seperti ini memang dipadukan untuk memperkuat branding bagi pariwisata mereka.

Nah, Aceh? Wisatawan minim. Apa guna event ini bila ditinjau dari kepentingan pariwisata? Patut diduga ini digagas buat menghabiskan anggaran. Hanya mengacu pada pelaksanaan program. Bukan pada output dan esensi kegiatan ini.

Seharusnya event ini dilaksanakan di Jakarta, luar negeri atau kota besar lainnya. Ini akan lebih bermanfaat. Di samping memperkenalkan kuliner kita, bisa disanding dengan pameran pariwisata atau tampilan budaya.

Ada yang positif memang semalam dari sesi pembukaan. Bahwa nuansa Gayo sangat mengemuka. Ini bagus untuk memepertegas bagi kita Aceh soal etnis bukan pembatas. Namun, harus diingat para penyelenggara, untuk tahun-tahun berikutnya menampilkan dominasi etnik lain.

Ini akan mendorong tampilnya ke permukaan kebudayaan- kebudayaan lokal Aceh. Sehingga event semalam tidak dituding sebagai "cari muka". Sebab, kebetulan Plt. Gubernur Aceh adalah putra Gayo. Bila ini tujuan sekadar "menjilat" agak kurang efektif. Pasalnya, Plt. Gubermur tak hadir semalam.

Saya setuju Aceh menyelenggara berbagai event. Terutama yang menonjolkan sisi positif Aceh. Memang ini jalan terbaik untuk membuka Aceh ke dunia luar. Tapi kembali soal efektivitas. Bahwa sebuah event yang dibiayai rakyat, harus benar-benar maksimal mencapai tujuan yang dituju. "Bek tet panyet lam tayuen (menghidupkan lampu dalam kukusan)". 

Aceh kuliner festival jika digelar di Banda Aceh jelas "mubazir". Maka kedepannya kegiaatan ini harus diubah. Bayangkan bila dibuat di kota lain. Kemudian terkenal, akan sangat bagus bagi Aceh. Misalnya, kini yang sedang booming kopi Gayo atau mie Aceh.

Kuliner ini menjadi brand kuat bagi Aceh di luar. Bayangkan bila beragam makanan Aceh menasional. Maka di samping keuntungan ekonomi bagi perantau Aceh, juga akan sangat mempositifkan Aceh.

Kuliner kita jelas lebih kaya rasa. Dibanding ayam penyet atau bubur ayam. Kita setara dengan masakan Padang. Tapi kita kalah nama. Sehingga penikmat pun masih "kita kita saja".

Pemerintah Aceh sudah saatnya bervisi besar. Uang melimpah harus benar-benar bermanfaat memajukan Aceh. Jangan kira pembangunan cuma fisik. Promosi amatlah penting di zaman ini. Sebuah produk tidak hanya ditentukan bagaimana bagus kualitasnya. Tapi termasuk hal pokok bagaimana Anda menjualnya.[]

*Penulis adalah jurnalis portalsatu.com. Opini ini pandangan pribadi penulis.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.