19 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Agar Tak Bangkrut Selepas Ramadan

...

  • portalsatu.com
  • 25 May 2019 08:00 WIB

Anak puasa. Ilustrasi. @Republika/ Prayogi
Anak puasa. Ilustrasi. @Republika/ Prayogi

(setiap amal diukur dengan cara mengakhirinya)

Ramadan akan tak istimewa bagi yang tak menganggapnya istimewa. Seperti kita memberikan butir butir emas pada ayam di belakang rumah, tentu akan ia abaikan saja. Sebagian lagi menjalani ramadan dengan apa adanya, dengan rasa seadanya, tanpa ada getaran di qalbu. Tanpa ada pengharapan baru atau perspektif baru dalam menapak hari hari selanjutnya. Di bagian ini, seseorang masih mengindahkan ramadan dengan berpuasa,  beramal seperti biasa, termasuk tarawih.

Tipikal yang di awal penulis singgung, kemungkinan akan termasuk dari golongan yang merugi. Walau mereka tak merasakan kerugian itu. Karena sifat kebendaan dan pandangan hidup yang materiil atau memperturutkan keinginan nafsu telah membinggkai perilakunya. 

Sebab sejatinya ramadan yang datang ini bagai "bara api" (arti kata ramadhan adalah membakar)yaitu, membakar karatan pada nafsu dan perilaku keseharian kita. Keduanya "dibakar" dalam ketaatan dan kelelahan dalam beribadah di sepanjang waktu ramadan.

Adapun tipikal kedua, walau tampak lebih baik dari yang pertama, tapi bila benar meneliti diri kita sendiri dengan menimbang amal yang minim dalam sebelas bulan di belakang, agaknya amal yang ditunjukkan oleh tipe yang kedua ini masih rawan dan minim. Karena bisa saja, hasil akhir "timbangan amal baik" dirinya pada ujung ramadan masih setingkat atau sama  beratnya dengan "timbangan amal buruk yang telah diperbuat dulu. Artinya, seorang yang dengan tipe amal seperti ini masih berpeluang merugi atau bangkrut setelah melewati ramadhan.

Maka untuk menghindari keminiman amal ini dan mempercepat laju berat timbangan amal personal kita, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.

Pertama, Menyadari makna ramadan dan memaksimalkan sepuluh malam yang terakhir. Biarlah kita relakan diri kita lebih lelah dalam menjalankan ragam ibadah (wajib dan sunnah) di waktu waktu akhir ini. Karena amal biasanya diukur dengan bagaimana ia diakhiri atau dituntaskan.

kedua, Bergabung dalam kelompok i'tikaf. Kegiatan ini dapat mendorong kita untuk fokus beribadah dan mengerjakan semua amal yang bernilai tinggi, dari tilawah, qiyamullail, infaq, belajar, menjaga lisan dan seterusnya. Untuk yang belum terbiasa bisa mengambil model i'tikaf yang tidak full selama sepuluh hari. Ia bisa ambil selang seling atau memilih waktu malam atau siangnya saja.

Ketiga, Taubat dan beristighfar. Ritus ini menjadi sangat penting karena menjadi kunci utama bagi terikatnya semua kebaikan yang kita perbuat. Karena taubat dan istighfar yang kita tunaikan akan menghapus kesalahan kita terdahulu, dan Allah akan menggantinya dengan kebaikan serta kemudahan urusan di masa depan.

Keempat, bersikap ihsan sepanjang waktu. Yaitu dengan mempertimbangka "kehadiran" Allah dalam setiap amal yang dikerjakan. Lalu kitapun memperhatikan dengan teliti kualitas amal kita dan memilih amal-amal yang utama, atau setidaknya melazimkan zikir lisan pada setiap waktu yang dilalui pada akhir-akhir Ramadan. Hal terbaik lainnya adalah dengan meninggalkan pekerjaan sia-sia yang tidak mendatangkan nilai apapun selain kelalaian dan mubazir waktu. Walau hanya kegiatan mubah, tapi bila kita alpa dalam mengingat Allah (berzikir padaNya) akan memberikan kerugian yang besar dalam Timbangan Allah.

Kelima, Melazimkan amalan khusus. Yaitu semisal membaca surat ikhlas dan alfatihah, beristighfar dan bertasbih. Adapun yang utama adalah memanfaatkan waktu sepertiga malam yang akhir untuk bersimpuh di atas sajadah sambil beristighfar dan mengharap  rahmat dan Ridha dariNya.

Semoga dengan gambaran kecil di atas, kita dapat melalui malam-malam terakhir ramadan dengan penuh ihtisab (ihsanul amal) agar kita tidak menjadi bangkrut saat tiba di bulan syawal.[]


Taufik Sentana,
Dari Ikatan Dai Indonesia. Kab. Aceh Barat

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.