13 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Anda ber-KTP Aceh, Maka Anda Orang Aceh

...

  • THAYEB LOH ANGEN
  • 04 November 2018 12:05 WIB

Wajah orang orang Aceh.@Istimewa/PuKAT
Wajah orang orang Aceh.@Istimewa/PuKAT

ACEH telah pernah maju sebagai sebuah komunitas besar yang hidup dalam budaya paling kuat dalam bidang menghargai hak semua bangsa sebagai suatu yang serupa. 

“Kami tidak peduli anda itu suku bangsa apa, apa aliran agama anda, anda lahir di mana. Jika anda Anda datang ke Aceh dan menetap di Aceh bersama keturunan anda, maka anda menjadi orang Aceh.” 

Orang Aceh memahami bahwasanya mengkultuskan sebuah suku adalah hal yang primitif, dan itu bertentangan dengan nilai Islam.

“Anda boleh datang dari Yaman, India, Turki, Portugis, Jawa, Batak, dan begitu anda dan anak cucu anda menetap di sini sampai mati, maka anda adalah orang Aceh.” 

Aceh memiliki konsep yang kuat untuk mendukung pola pikir yang maju tersebut. Aceh memiliki sekolah Aceh, yang kini tertinggal sisanya yang sakit-sakitan setelah dipreteli oleh Belanda, yaitu dayah. 

“Anda masuk dayah, maka anda menjadi orang Aceh. Tidak masuk dayah, maka anda hana jeuet keu ureueng (tidak menjadi orang).”

Tidak menjadi orang, artinya tidak menjadi orang Aceh. Aceh biasa menyebut ureueng sebagai satu bangsa. Orang yang sudah dididik di dalam dayah.

Di dunia modern, prinsip multietnis ini diterapkan dengan sempurna oleh Amerika Serikat. Setelahnya oleh Singapore atas ide dan perintah Lee Kuan Yew. Dua negara ini pun menadi model negara yang beradab dalam hal heterogen kosmoppolitan. Beberapa negara lain di Eropa melakukan hal yang sama.

Baru-baru ini, Turki melakukan hal yang spektakuler dalam hal itu. Negara Eurasia itu menampung lebih dua juta pengungsi Syam (Syria/Surah) dan bersedia mengakuinya sebagai orang Turki.

Oleh karena itu, ketika ada sisa-sisa orang berpikiran primitif yang mengangkat tentang suku apa paling awal menetap di Aceh, ditambah dengan khayalan pengeksklusifannya, maka orang itu kembali kepada zaman pra sejarah, saat orang-orang masih telanjang di atas pohon-pohon kayu di hutan. Orang-orang pengecut yang melarikan diri ketika ada orang lain datang dengan kapal dari seberang samudra.

“Anda ber-KTP Aceh, maka anda orang Aceh.”

Dalam bidang aliran kepercayaan dan agama, Aceh pun menganut sistem terbuka.

"Anda boleh beragama apa saja, anda boleh bermazhab apa saja, tetapi di negeri ini anda menjadi orang Aceh, dan hukum yang berlaku secara umum adalah hukum fikih Islam mazhab Syafi’i. Anda boleh menjalankan hukum Syi’ah, Kristen, Wahabi, di kalangan anda sendiri. Namun, jika suatu perkara menjadi hal umum dan antar golongan, maka hukum yang berlaku adalah hukum fiqih Islam mazhab Syafi’i. Jika Anda tidak suka ini, maka silakan keluar dari negeri ini. Anda tidak boleh membawa agama ke Aceh karena orang Aceh sudah beragama."

Aceh punya kuasa untuk bersikap tentang aturannya di masa silam karena memiliki pemimpin sekelas Sultan Malik Asshalih di zaman Samudra Pasai (Sumatra) dan Sultan Alaidin Riayatsyah Alkahar di zaman Aceh Darussalam. Keadaan yang mampu menjalankan hukumnya dengan stabil itulah yang membuat Aceh kuat. 

Di masa Aceh menjalin hubungan dengan Turki Utsmani, Turki yang bermazhab Imam Hanafi, jika ingin mengirim ahli agama, maka dikirim ulama dari mazhab Syafii. Mereka mengirimkan ulama dari Yaman. Sementara dalam banyak bidang, Turki banyak membantu Aceh, akan tetapi, Turki tidak membawa pengaruhnya dalam mazhab agama.

Ini berbeda dengan zaman sekarang. Orang-orang datang tidak membawa apa-apa, tidak membantu apa-apa, akan tetapi datang dengan sok suci, dengan pakaian dan penampilan aneh, membawa aliran agamanya yang picik ke Aceh yang telah berpikiran maju, dan sudah beragama dengan sempurna. 

Baru-baru ini, kebodohan dan kepicikan orang-orang yang datang ke Aceh memaksakan pendapatnya dalam agama telah menimbulkan pertikaian terus menerus. Mereka membawa permusuhan, memecah belah umat di Aceh yang telah ratusan tahun hidup damai yang menghormati banyak aliran agama.

Dalam tolerasnsi dan agama dan multietnis, Aceh telah modern sejak ratusan tahun lalu. Hanya dengan mempelajari sistem yang membuat Aceh maju itu lagi, kita selamat dari hasutan orang-orang-bodoh dan picik didikan negara aneh, sehingga kita memahami dan menjalankan persamaan hak semua suku bangsa.

"Anda ber-KTP Aceh, maka anda orang Aceh.".[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.