19 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Antara Ilmu Komunikasi vs Komunikasi

...

  • portalsatu.com
  • 25 May 2019 15:00 WIB

Kamaruddin Hasan
Kamaruddin Hasan

Oleh: Kamaruddin Hasan

Mengapa komunikasi acapkali menjadi kambing hitam kesalahan dalam era digital? Terutama ketika bermunculan wacana kejahatan komunikasi, kesalahan komunikasi, miskomunikasi, merebaknya hoax, masifnya post trush, merebaknya kebohongan nihil kejujuran, ketika pembenaran lebih dicari dari pada kebenaran, ketika pengetahuan mengalahkan ilmu pengetahuan. Ketika ketidaksiapan era revolusi industry 4.0, era disruption, nihilliterasi  dan sebagainya. 

Boleh jadi, karena gagal paham tentang perbedaan komunikasi dan ilmu komunikasi. Pemahaman komunikasi hanya sebatas pengetahuan, belum sampai pada tahap komunikasi sebagai ilmu pengetahuan. Proses komunikasi menjadi Ilmu pengetahuan, tentu membutuhkan syarat-syarat ilmiah; jelas secara ontologinya, epistemologi, human nature dan metodologinya. Ketika proses komunikasi tidak dilandasi dengan ilmu, acapkali menimbulkan berbagai kekacauan dan sering disalahgunakan. 

Ketika komunikasi diterapkan sebagai sebuah ilmu pengetahuan, kemungkinan besar tidak ada lagi istilah muncul fitnah, hoax, post trush, false news, fakenews dan lain-lain. Banyak orang mengklaim sudah menjalankan komunikasi dengan baik dan benar, tapi hasilnya masih menimbulkan fitnah, ketidaknyamanan, ketidakharmonisan secara individu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ketika itu masih terjadi, maka hal tersebut belum tersentuh dengan ilmu komunikasi. Komunikasi yang dijalankan belum berbasis Ilmu. Maka, jangan pernah mengklaim sudah menjalankan proses komunikasi berbasis ilmu secara baik dan benar, ketika masih menimbulkan efek kekacauan, kejahatan, hoax, post trush dan lain-lain. Bisa jadi, proses komunikasi tersebut belum berlandaskan ilmu baru sebatas komunikasi.
Kondisi komunikasi di media sosial saat ini rentan terhadap konflik, sehingga beberapa media mengatakan Indonesia "Darurat Hoax". Kemajuan teknologi memberikan kemudahan terhadap akses informasi yang lebih beragam dan cepat, namun kelemahannya berdampak pada akurasi dari informasi tidak menjadi prioritas. Tantangan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk kembali menata pengelolaan komunikasi dan informasi.

Seperti halnya dengan ahli komunikasi atau seorang komunikolog adalah ketika sudah menjadi ahli komunikasi, yang menjalankan proses komunikasi berbasis ilmu, bukan sekedar pengetahuan tapi sudah menjadi ilmu pengetahuan. 
Penerapan dan implementasi Ilmu Komunikasi; komunikasi intrapersonal, antarpribadi, interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi sosial, komunikasi politik, komunikasi  budaya, komunikasi massa, komunikasi bermedia, media konvensional maupun  media baru dan lain lain dalam kehidupan secara baik dan benar. Biasanya membawa efek serta pengaruh pada kebahagiaan, kesejahteraan jiwa, matap jiwa, keharmonisan, keselarasan, kecerdasan komunikasi, keseimbangan, kesejukan baik secara individu, bermasyarakat dan bernegara.

Ilmu komunikasi sebagai suatu kegiatan dalam pertukaran pesan sesuai dengan pertumbuhan isu atau informasi yang baik dan benar dalam kehidupan. Pertukaran informasi yang baik dan benar akan menimbulkan suatu ketenangan, ketentraman dalam kehidupan. Komunikasi yang sudah berlandaskan ilmu, tentu besic utama adalah agama, moralitas, etika, Filsafat, kejujuran, tanggungjawab social, kode etik dan keilmiahan. 

Namun, jika hanya komunikasi tanpa dilandasi ilmu, dengan mudah dapat disalahgunakan. Dapat terjadi, isu atau informasi yang dikembangkan dalam berinteraksi tidak seirama dengan apa yang terjadi maka timbul konflik dalam setiap proses pertukaran pesan, baik yang bersifat individu, kelompok, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Benturan sosial, politik,  budaya, ekonomi bahkan etnis, agama tidak dapat dihindari, baik dalam bentuk fisik maupun penekanan setiap ide yang berkembang dalam setiap komponen kehidupan.

Ilmu komunikasi itu adalah sebagai sebuah proses segala produksi, dan pengaruh dari sistem tanda dalam kehidupan manusia. Sebagai fenomena komunikasi, pernyataan antarmanusia. 

Bagi Ilmu Komunikasi senantiasa dan selalu menanyakan apakah penyebaran ide atau tanda yang menggunakan suatu proses komunikasi akan mengganggu proses sosial menuju keharmonisan atau apakah akan menjauhkan masyarakat dari tujuannya untuk mencapai kondisi harmoni. Ilmu Komunikasi akan mengawal agar proses komunikasi dapat menjadi dan atau membentuk norma-norma, etika, moralitas baik individu, komunitas, masyarakat berbangsa dan bernegara. Hakikatnya adalah keharmonisan, merupakan situasi di mana sistem tanda diproduksi dan disebarkan untuk mewujudkan kesamaan makna antara pengirim dan penerima terhadap citacita bangsa dan negara secara harmonis.
Dalam komunikasi bermedia misalnya dapat memelopori terwujudnya norma edukasi, perilaku maupun pola pikir yang dapat menuju kondisi harmoni, keseimbangan dan kebahagiaan.  Namun, jika produk komunikasi bermedia menimbulkan fitnah, rasa curiga, stereotipe negatif, dan merendahkan martabat kemanusiaan, maka komunikasi itu telah menjauhkan diri dari objek formalnya sebagai ilmu.

Dalam komunikasi bermedia, sepertinya mendesak dilakukan proses memetakan permasalahan informasi dan komunikasi. Sepertinya, saat ini media sedang bermetamorfose dengan perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi. Perkembangan politik,  sosial, budaya, ekonomi dan lainnya yang pada akhirnya mengubah budaya berkomunikasi, terutama dalam kehidupan dunia maya yang berdampak pada relasi kehidupan nyata. Tentu memberikan efek pada kepentingan-kepentingan berbangsa dan bernegara.  

Konflik sangat mungkin terjadi di media sosial yang dapat berdampak pada dunia nyata. Dalam hal ini, tentu, perlunya edukasi literasi secara terus menerus yang harus dilakukan, termasuk menciptakan individu, masyarakat yang produktif dalam berkomunikasi yang baik dan benar berbasis ilmu. Termasuk, komunikasi inklusif dan beradab di ruang publik. 
Ilmu Komunikasi berupaya menilai pola-pola komunikasi individu, komunitas, kelompok, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Termasuk pendapat-pendapat umum yang merupakan refleksi dari kebutuhan maupun keinginan-keinginan didalamnya untuk kemudian diarahkan pada harmonisasi, keseimbangan dan kebahagiaan. 

Proses Ilmu komunikasi lebih mengutamakan nilai-nilai keseimbangan, serasi selaras dalam semua kehidupan, materi maupun spiritual. Meniadakan nilai-nilai antagonis antarindividu, kelompok dan golongan. Proses komunikasi yang terjadi menempatkan kepentingan bangsa dan negara atau kepentingan nasional di atas kepentingan individu, kelompok, dan golongan. 

Ilmu Komunikasi berupaya menilai pengaruh-pengaruh proses komunikasi terhadap pola pikir maupun pola komunikasi, apakah semakin menuju harmoni, keseimbangan dan kebahagiaan atau tidak. Dalam proses komunikasi, terjadi komunikasi yang harmonis, bila nalar pemberi simbol dan penerima simbol terdapat saling pengertian, saling mengajak, menyuruh, mengarahkan menuju individu, komunitas, kelompok, masyarakat, bangsa, negara bahkan global kearah harmonisasi, keseimbangan, keselarasan, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Maka bagi komunikolog atau ilmuwan komunikasi senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai agama, mutu profesi, etika, moralitas, kejujuran, berpegang pada objektivitas ilmiah, dan norma-norma masyarakat, serta bebas dari kepentingan pribadi atau golongan serta mengabdi pada kepantingan masyarakat, bangsa dan negara sesuai dengan keahliannya. 
Selanjutnya mempraktikkan Ilmu Komunikasi sesuai dengan standar profesional terbaik yang berlaku, sesuai dengan yang telah dirumuskan dalam kode etik, dan selalu melakukan pemikiran kritis, sebagai bentuk kajian Filsafat keagamaan, filsafat moral, terhadap aturan-aturan moral atau kode etik tersebut. Termasuk melakkan proses penelitian untuk perkembangan Ilmu Komunikasi, karena ilmu bersifat tentatif dan tidak bersifat dogmatis disesuaikan dengan sifat dinamis manusia. Mampu mengkoordinasikan penelitian agar tidak terjadi duplikasi, menjadikan penelitian sebagai titik awal pengembangan keilmuan dan kemampuan profesi.

Ilmu komunikasi, selalu berupaya membumikan sikap empati atau toleran terhadap ilmu yang lain, dan tidak marasa superior. Menghindari penyalahgunaan keilmuannya untuk kepentingan pribadi dan golongan yang merugikan.  Selalu berpijak pada tuntutan menuju harmoni, menuju keseimbangan, menuju kebahagiaan dan kesejahteraan jiwa. Setiap langkah Ilmu Komunikasi selalu dilandasi keinginan mencapai kondisi ideal kehidupan tersebut.[]

Kamaruddin Hasan, Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unimal.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.