11 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
Belajar dari Hasan Tiro

...

  • MUDIN PASE
  • 03 June 2020 07:03 WIB

Hasan Tiro dan para pengikutnya setelah deklarasi GAM di Gunung Halimon, Pidie [Foto: IST]
Hasan Tiro dan para pengikutnya setelah deklarasi GAM di Gunung Halimon, Pidie [Foto: IST]

Hari ini sepuluh tahun lalu, Hasan Tiro mangkat. Dia adalah salah satu dari dua tokoh besar Aceh modern. Satunya lagi adalah Daod Beureu’eh. Dua tokoh ini saling terhubung. Daod Beureu’eh orang yang membantu dan mendorong Hasan Tiro untuk menempuh pendidikan.

Apa yang harus kita belajar dari Hasan Tiro? Beliau bukan sembarang manusia di awal Indonesia merdeka. Fragmen sejarah cukup memberi literatur. Dan ia melanjutkan pendidikan dengan biaya negara.

Tapi ia tidak memilih tunduk kepada rezim. Ketika orang-orang menyimpulkan kekuasaan di tangan Soekarno. Ia menawarkan federal di bukunya Demokrasi Untuk Indonesia. Betapa dia visioner melihat luasnya Indonesia. Dan kita lihat kini. Indonesia yang sentralistik dengan berbagai karut marut.

Ketika rezim terlihat zalim, memerangi rakyatnya karena perbedaan, dia memilih melawan. Mensomasi rezim Soekarno. Walau risikonya state less. Dia adalah segelintir orang yang mengambil risiko kehilangan banyak hal karena keyakinannya akan kebenaran. Padahal jika jadi anak baik, dia sangat mungkin mendapat posisi di rezim Indonesia

Nah, kemudian dengan kecerdasannya, ilmunya, pendidikan dan gelarnya, hidup mapan dan bahagia di Amerika Serikat dengan istri dan anak semata wayang. Namun ketika ia tergugah. Ketika cita-citanya memuncak. Ketika sesuatu ingin dia perjuangkan. Kesemua kenyamaan itu dia tinggalkan. Dia buang semua hal yang telah dia usahakan.

Istri dan anak semata wayang tidak pernah dia ganti sampai mati. Kemewahan hidup dan kehormatan ditanggalkan. Dia kembali ke tanah moyangnya. Padahal pasti dia tahu risikonya. Dan dia juga berhitung peluangnya. Tapi baginya lebih baik mengambil risiko demi idealisme walau kalah daripada menjadi mati karena memendam rasa.

Manusia mana di Indonesia atau di Aceh, yang “segila” Hasan Tiro? Yang mau menukar bagian bagian terindah, ternikmat dan bahagia dengan sebuah penderitaan yang amat panjang yang ia pasti menduga akan mengukir derita akibat idealisme.

Ia teguh bagai Seulawah. Apakah tidak mungkin jika ia mau menukar idealisme? Menawar berdamai atau menyerah dengan kompensasi? Tapi Hasan Tiro memilih hidup sepi di sebuah "bulukoh" di negeri asing nun jauh. Tidak ada tawar menawar untuk idealisme. Tak ada yang mampu meluluhkan hatinya. Bahkan anak dan istri semata wayang.

Tak ada harta yang diwariskan di akhir hayatnya. Dia wafat dalam sepi dan sunyi. Tapi dadanya penuh hikmah. Bahwa ia mati dalam teguhnya cita cita. Sehingga karenanya Aceh sampai di titik ini. Dia telah mengangkat harkat dan martabat Aceh. Ia bahagia Aceh damai dengan sejumlah konsensi.

Namun, apa kabar pelanjutnya? Lihat dan terjemahkan sendiri. Jika Anda para pengikutnya masih merasa sedang di jalan yang dirintisnya, jalan kesejahteraan dan kehormatan Aceh, maka Anda adalah manusia bebal, otak udang dan tolol. Anda telah jauh dari cita cita Hasan Tiro. Anda, kita kini tak lebih bagai hyena yang sedang rebutan bangkai sisa makanan tangkapan Hasan Tiro. Alfatihah.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.