26 September 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Berpuasalah dengan Kesiapan Ilmu 

...

  • portalsatu.com
  • 13 May 2018 07:30 WIB

Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.Ag, Guru Besar Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. @Istimewa
Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.Ag, Guru Besar Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. @Istimewa

Oleh: Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.Ag

DALAM konteks kekinian, di Aceh, khususnya kota Banda Aceh, komunitas yang variatif sangat feonomenal dalam menyambut kedatangan Ramadhan. Sebut saja, misalnya, tadi sore (12/4/2018) generasi Millenial usia sekolah dasar bersama wali murid dan guru menyeruak di jalan protokol kota, di sisi jalan peserta didik menyapa dengan ramah pengguna jalan membagikan kurma yang telah disiapkan. Ini kultur baru di Aceh menjadi bagian integral dari rasa syukur menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Tentu disini, ada proses edukasi yang bersahaja, guru sukses memberikan pembelajaran keoada peserta didik untuk peduli baha saat ini telah tiba di ambang pintuk masuknya bulan ramadhan.

Prilaku generasi Millenial itu terlihat sederhan namun sangat inspiratif mengingatkan warga kota bahwa Ramadhan jelang tiba. Pembelajaran personal tidak hanya terbatas bagi mereka namun juga terdapat pembekajaran bagi segenap warga lainnya.

Suasana gembira serta ceria adalah cerminan sikap dan prilaku terpuji yang dapat membangun enerji posiitif antar sesama menjadi terjalin. Kondisi sosial seperti ini sangat diperlukan, paing tidak dapat mengikis kehidupan individualistik masyarakat modernitas.

Dimensi sosial sesuatu yang besar yang akan diperoleh oleh pelaku puasa bukan hanya berdampak pada dirinya tetapi juga bagi yang lainnya.

Untuk meraup dimensi sosial dari ibadah puasa yang ditunaikan setiap muslim tentu saja bukan sebatas wacana semata namun harus dipersiapkan sedemikian rupa.

Pesiapan ilmu

Seorang yang bijak dalam beribadah, langkah utama yang ditempuh adalah kesiapan pengetahuan terhadap ibadah yang akan ditunaikan. Terkait dengan ibadah puasa, tentu saja akan diperlukan kesiapan pengetahuan segala hal terkait dengan puasa. Paling tidak harus diketahui bahwa setiap muslim yang baligh serta mampu berpuasa dikenai kewajiban berpuasa di bulan ramadhan. Kewajiban berpuasa berdasarkan firman Allah SWT “hai orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kamu, mudahan kamu menjadi bertaqwa” (QS al-Baqarah: 183). Puasa itu substansinya menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak fajar hingga waktu maghrib (baca: berbuka) yang membatalkan itu secara dhahiriyah adalah makan, minum dan melakukan hubungan biologis. Setiap orang yang dapat menjalani puasa seperti itu maka kewajiabannya telah ditunaikan. Namun yang paling penting adalah seseorang itu berpuasa bukan hanya menahan makan, minum, dan jimak tetapi juga dapat puasa batiniah, yaitu mengendalikan hati dan pikiran agar selalu menggunakan enerji positif, tidak iri, tidak dengki, tidak memiliki sikap bermusuhan, dan juga mengendalikan seluruh anggota tubuh pada jalan yang diredhai Allah. Pada posisi ini merupakan tahapan puasa sfesifik (baca: khawasulkhawas) seperti yang dikonstruk imam alGhazali dalam kitabnya ihya Ulumuddin.

Sementara itu, amatlah patut diketahui pelerjaan sunat yang harus diperhatikan dalam konteks ibadah puasa. Di antaranya yang berhubungan langsung dengan ibadah puasa itu ada dua. Pertama, memperlambat waktu sahur yaitu di pemghujung jelang fajar. Hikmahnya berdekatan dengan waktu subuh sehingga kita lebih fresh bersiap shalat subuh. Kedua, menyegerakan berbuka di saat waktunya tiba. Maka sangat dianjurkan jelang berbuka puasa kita telah menghadapi hidangan sebagai bentuk rezeki dari Allah SWT. Disini hikmahnya akan tertanam kebersamaan sosial di keluarga dan atau komunitas. Berbukalah diwaktunya, meskipun seseorang masih sanggup menahan diri, tdk boleh diperpanjang sebagai bentuk kehebatannya. Demikian juga sebaliknya, ngak sanggup lagi lantas menyegerakan berbuka di luar waktunya juga membatalkan puasa itu sendiri. Disini diperlukan memang pengetahuan secara konprehensif sehingga untaian hikamah ibadah puasa dapat diraup oleh seseorang.

Merajut Taqwa

Destinasi akhir perjalanan ibadah puasa seseorang adalah dapat mengantarkan kepribadian seseorang ke dalam prerikat taqwa, sebuah entitas yang membentengi diri seseorang dalam redha Allah SWT.

Pembelajaran dari sepanjang puasa yang dilakukan sebulan penuh di bulan ramadhan itu sesungguhnya membentuk karakter pribadi yang peduli antar sesama (human interest), melahirkan sosok yang mau berbagi, melahirkan kepribadian yang berorientasi kepada kehidupan ukhrawi tidak terjebak dengan kehidupan hedonisktik dan bahkan menuhankan material yang menjadikan dunia materi itu ukuran segalanya.

Sejatinyq, ibadah puasa yang ditunaikan oleh setiap muslim itu harus mampu meberikan stimulus kreatif yang dapat menggiring mereka menjadi sosok yang bertaqwa. Namun demikian, puasa mentradisi tanpa disertai dengan pengetahuan tentu saja akan gagal memgantarkan seseorang menjadi taqwa. Rasulullah Saw bersabda “betapa banyak mereka yang berpuasa tidak memperoleh apa apa dari puasanya kecuali hanya menahan lapar dan dahaga” (hr Muttafaqun alaihi)

Oleh karena itu berpuasalah dengan kesiapan ilmu, disana ada hikmah terutama meraup ketaqwaan. Wallahu a’lam bi al-shawwab. 

Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.Ag, Guru Besar Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.