22 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bersikap Lebih Kaya Setiap Hari

...

  • portalsatu.com
  • 06 March 2019 10:30 WIB

Oleh Taufik Sentana*

Kita batasi kata kaya dengan rasa cukup, kesesuaian antara kebutuhan, keperluan dan keinginan. Dari banyak literatur tentang kaya, kata "sikap" sering sekali muncul sebagai penanda dan pembeda bagi perilaku orang kaya. Sikap inilah yang  kemudian merefleksikan kondisi mental dan keseharian seseorang. 

Bila merujuk kata kaya dari sisi kepemilikan, maka inilah pandangan umum dan  lazim dalam  sistem sosial kita. Terutama kepemilikan yang sifatnya bendawi dan semua yang bisa dieksplor, ekspos dan ditampakkkan dengan konkret.

Maka berlatih dan kembali menghayati makna  kepemilikan akan membantu kita dalam mempersepsi kaya dalam laku sehari hari. Dalam hal ini, kata aset menjadi hal penting. Ekonomi modern telah sampai pada pengertian bahwa aset, bisa berupa apa saja yang dibangun dan dikembangkan atau didistribusikan untuk kemudian menjadi bagian dari milik (merek/brand) kita.

Pada poin ini berlaku kejelian, ketekunan dan daya tahan serta kata turunan lainnya yang sejenis. Dan semuanya tampak berpijak pada sikap dan bermuara pada sikap pula. Artinya, seseorang bisa saja beruntung dalam kondisi kaya menurut pandangan umum, tapi tanpa sikap mental yang baik, kondisi kaya tadi bisa bermakna kehinaan, kerendahan dan kekalahan, bahkan menyisakan ruang hampa serta putus asa.

Untuk itu,  dalam upaya meningkatkan kualitas diri dan sampai pada tingkatan kaya, kita bisa memulainya dari perspektif terhadap kepemilikan.  Yaitu dengan menilik dari berbagai unsur yang menjadi milik kita, baik diperoleh melalui usaha ataupun berwujud secara kodrati. Seperti waktu, potensi diri, bidang yang kita tekuni, orang yang dicintai, relasi, pengalaman (nilai nilai mulia), lingkungan, alam sekitar dan seterusnya adalah bagian dari unsur yang kita "miliki", yang bisa menaikkan level kita ke  tingkatan kaya dengan pandangan baru, tidak rakus, tidak hina, penuh ridha dan ringan dalam berbagi.

Sikap inilah yang perlu dipupuk setiap hari dan dikenalkan dalam pandangan hidup generasi muda dan anak anak kita. Agar mereka tidak fokus pada kata "miskin" yang tidak pada tempatnya. Serta bisa saling membahu untuk sampai pada level memakmurkan kehidupan (khalifatullah fil arhi) dalam kapasitas masing masing hingga "kemiskinan/kelemahan" tidak terwariskan.[]

*Bergiat dalam pendidikan Islam dan Pengembangan SDM dengan program ceramah, seminar dan pelatihan. Bisa dikunjungi di Linkedin.com

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.