18 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dari Titik Merah Aceh: Refleksi atas Dokumenter Ekskombatan

...

  • PORTALSATU
  • 29 November 2018 20:00 WIB

Sineas dan sutradara film Aceh, Teuku Abdul Malik bersama Amanda Yulvia saat shooting film 'The Triump and Role Model of Aceh Peace'. @Jamaluddin/portalsatu.com
Sineas dan sutradara film Aceh, Teuku Abdul Malik bersama Amanda Yulvia saat shooting film 'The Triump and Role Model of Aceh Peace'. @Jamaluddin/portalsatu.com

KONFLIK di Aceh sedianya menjadi catatan merah sejak Orde Lama, Orde Baru, bahkan pascareformasi. Ini menjadi penanda bahwa menjadikan Aceh sebagai "seteru" bukan suatu yang mudah.

Banyak analisa tentang konflik di Aceh. Dari faktor ekonomi, akses pendidikan yang minim saat itu dan rasa keadilan yang terkoyak. Bila kita memandang dari pihak yang berseteru, keduanya memiliki pembenaran dan logika sendiri.

Dalam sesi Film  Dokumenter yang menggambarkan sosok Thayeb Loh Angen disebutkan bahwa "Tidak banyak yang menempuh jalan terjal mendaki, tebing curam dan angin kencang untuk sampai ke puncak bukit".

Pada masa konflik saat itu, jalan terjal adalah pilihan berat untuk mengangkat senjata demi warga yang menetap di bawah bukit, atau demi ideologi "kemakmuran". Sosok Thayeb sendiri menjelma sebagai salah satu jurnalis dan novelis Aceh dengan kredonya untuk menjadikan "pena" sebagai senjata utama.

Dan kini saat konflik telah diredam, jalan terjal itu tetap ada, yang hanya dilalui oleh mereka yang bervisi kuat untuk sampai ke puncak. Di sana mereka ingin berbuat lebih banyak untuk lingkungan luas. Di puncak itu idealnya dicapai oleh orang-orang baik dengan tujuan yang baik pula.

Jalan terjal akan tetap ada

Lalu untuk sampai ke sana, tidak mesti hanya dengan jalan politik. Inilah kiranya satu pesan penting dalam sajian dokumenter yang dibidani Zhet Production. Bahwa masyarakat Aceh pada umumnya bisa lebih mudah mengakses "puncak keberhasilannya" saat perdamaian bisa terus dinikmati dan dimaknai.

"Dimaknai dan diisi dengan ide-ide kreatif yang menjadikan masyarakat Aceh bisa bersanding dan bersaing dengan masyarakat dunia". Demikian ungkap Tgk. Muharuddin pada awal dokumenter tersebut.

Ungkapan senada disampaikan Rahmatan yang kini memilih jalur pengembangan SDM  perempuan. Ia menuturkan bahwa perempuan selalu menjadi imbas yang paling fatal saat konflik terjadi, selain karena faktor sikap kriminal, seperti pelecehan, perempuan juga menjadi tulang punggung keluarga saat konflik terjadi.

Dari sisi ini, sajian dokumenter tentang perdamaian Aceh memberikan gambaran visual agar masyarakat ikut bertransformasi menjadi masyarakat yang  produktif dengan memanfaatkan ruang perdamaian. Dengan tetap mempertimbangkan nalar kritis bagi setiap kebijakan yang menyimpang dari cita-cita murni untuk memakmurkan Aceh yang pernah menjadi pilar peradaban Nusantara.

Adapun pertimbangan lain dalam mengisi perdamaian Aceh dapat direalisasikan juga lewat seni musik dan sejenisnya. Dalam dokumenter ini ditampilkan sosok Imum Jon yang telah berhasil eksis sebagai musisi dengan tetap membawa cita perjuangan Aceh.

"Ini saatnya untuk memberikan yang terbaik bagi Aceh dengan kapasitas kita masing-masing," ungkapnya.

Catatan di atas merupakan usaha kecil penulis dalam merefleksi visi ekskombatan (dalam konflik Aceh) yang tersaji lewat video dokumenter terbaru. Saat penulis mengakses link Youtube-nya, sehari lalu, sudah mencapai 600 pengunjung. Film ini merupakan prakarsa  Badan Kesbangpol Aceh, yang dikonsep dan diproduksi oleh Zhet Production dengan Sutradara Teuku Abdul Malik dalam tajuk "Keberhasilan dan Tauladan dari Perdamaian Aceh (The Triump and Role Model of Aceh Peace)". Silahkan akses: https://www.youtube.com/watch?v=NlphgtV2Pdg 

Seperti yang sudah penulis singgung di atas, inti dari dokumenter yang berbasis profil ekskombatan tersebut adalah sebagai penghubung masa depan masyarakat Aceh untuk memiliki visi dalam mengisi perdamaian dengan beragam sektor. Untuk bangkit dari titik merah menuju Aceh yang Hebat. Maka jangan sampai  hanya sibuk dengan intrik politik. Sebab, intrik adalah bagian dari tabiat politik itu sendiri.

Sehingga masyarakat tidak boleh lena dari mencapai tujuan umumnya dalam memperoleh hak-hak sebagai warga negara dan warga dunia dengan berlandaskan nilai lokal Aceh yang khas dengan Islam.[]

Oleh Taufik Sentana
Peminat kajian sosial budaya. Menetap di Aceh sejak 1996 dan sempat mengikuti perkembangan konflik Aceh secara langsung.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.