24 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Debat Pertama Calon Presiden RI, Belum Menggigit

...

  • PORTALSATU
  • 18 January 2019 10:00 WIB

Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin bersalaman dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno usai Debat Pertama di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin bersalaman dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno usai Debat Pertama di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Oleh: Taufik Sentana

Selepas menyaksikan dan menyimak rangkaian debat pasangan calon Presiden RI tadi malam, penulis hanya terpikir dua hal. Pertama, apakah nantinya setelah seluruh rangkaian tema debat digelar akan mengubah persepsi calon pemilih?

Kedua, debat pertama ini masih menampakkan suasana grogi (semacam demam panggung), itu terindikasi dari gestur masing-masing pasangan calon presiden. Misal, dari pihak Jokowi-Maaruf, lebih mengandalkan poin-poin yang telah disiapkan oleh timses, bahkan saat menyampaikan pernyataan penutup pun masih mengandalkan poin-poin yang telah disiapkan (padahal panitia mengharapkan statement yang spontan sambil memberikan apresiasi ke rekan debat). Rasa grogi itu makin tampak manakala, kedua paslon (diawali oleh Jokowi-Ma'aruf) menyalami Prabowo-Sandi di tengah podium, padahal moderator belum mempersilakan. 

Gestur grogi dan sedikit tertekan tersebut memang wajar muncul dalam suasana debat yang ditonton oleh khalayak ramai. Apalagi ini merupakan debat yang pertama dengan tema seputar hukum. Hanya saja, kandungan narasi yang disampaikan kedua pasangan masih terasa dangkal, sebagian beralasan karena waktu yang sangat terbatas. Kedangkalan itu tergambar dalam solusi-solusi yang ditawarkan, yang terkesan normatif. Semisal, menaikkan gaji penegak hukum dengan jaminan sanksi yang berat bila korupsi. Atau merevisi kembali kebijakan yang lebih mengarah pada penyederhanaan layanan masyarakat. Dari pihak Prabowo-Sandi, akan memetakan potensi terorisme dengan skala daerah dengan memperkuat jaringan intelijen, dengan catatan, bisa saja terorisme itu muncul karena "ketidakadilan atau pesanan" dari luar. Sedangkan Jokowi-Maarif, menilai penanganan terorisme dari sudut pencegahan dan pembinaan. 

Bila kembali ke poin pertama di paragraf atas, apakah debat yang terkesan masih formalitas ini dapat mengubah persepsi masyarakat pemilih? Maka asumsinya, bila debat dan narasi debat yang disampaikan hanya sebatas normatif dan kurang "menggigit", bisa jadi pengaruhnya tidak signifikan, kecuali sekadar penakar indikasi demokrasi kita.[]

*Taufik Sentana, peminat kajian sosial budaya.

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.