13 December 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Di Balik Bencana Banjir

...

  • portalsatu.com
  • 05 December 2017 13:00 WIB

DALAM beberapa hari ini banjir melanda Aceh. Kabupaten Nagan Raya, Aceh Jaya, Aceh Tenggara, Singkil, Aceh Barat dan Pidie tergenang. Di beberapa kabupaten, banjir membuat jembatan amblas ke sungai karena longsor, dan terganggunya aktivitas masyarakat setempat.

Salah satu penyebab banjir karena curah hujan yang tinggi di penghujung tahun.  Apabila hujan terus menerus tentu air tidak akan langsung mengalir, melainkan akan menjadi genangan. Genangan air tersebut lama-lama akan semakin menumpuk dan menyebabkan banjir serta mengikis badan jalan.

Sungai yang dangkal turut mempengaruhi volume banjir. Akibatnya air meluap dan merembes ke pemukiman warga yang dekat dengan sungai. Hal ini tentu sangat menakutkan karena dapat menyebabkan korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Hutan gundul akibat illegal logging juga menjadi pemicu banjir di Aceh. Apalagi pohon sangat berkontribusi dalam menjaga siklus air, melalui akar pohon menyerab air yang kemudian dialirkan ke daun dan kemudian menguap dan dilepaskan ke lapisan atmosfer. Ketika pohon-pohon ditebang dan daerah tersebut menjadi gersang, maka tidak ada lagi yang membantu tanah dalam menyerap lebih banyak air. Dengan demikian, akhirnya menyebabkan terjadinya banjir.

Sampah juga penyebab lainnya yang memperparah banjir di sebuah daerah. Sampah yang menumpuk akan menyumbat saluran-saluran air. Hal ini dipicu karena kekurangsadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya. Ini bisa dilihat dari banyaknya sampah yang berserakan di pingir jalan.

Faktor lain penyebab banjir adalah pembangunan di daerah aliran sungai. Pada umumnya, baik sengaja atau tidak, kita membuang sampah bangunan langsung ke sungai.

Dalam agama telah disebutkan bahwa terjadinya bencana sangat berkaitan dengan aktivitas manusia. Hal ini seperti ditulis oleh H Ismail Yacok, DKK, dalam bukunya yang berjudul “Fiqih Konservasi Alam."

Selain itu, Allah telah berfirman dalam QS An-Nisa' ayat 79. "Nikmat apa saja yang engkau peroleh adalah dari Allah, dan apa saja musibah yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri."

Keterkaitan terjadinya bencana akibat aktivitas manusia juga telah diterangkan dalam QS At-Taghabun ayat 11, yang artinya, “Tidak sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah”.

Islam telah menuntun manusia untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya. Hal ini ditegaskan dalam QS Al-A’raaf ayat 56, yang artinya, “Dan janganlah engkau membuat kerusakan di Bumi ini setelah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang baik."

Selain Al-Qur’an, kitab-kitab fiqih juga sangat banyak yang membahas tentang perlunya pelestarian terhadap alam dan lingkungan hidup. Tidak terkecuali apakah kelestarian terhadap hewan, tumbuhan, air, udara dan lain sebagainya. Menurut kacamata fiqih, semua jenis kekayaaan ini memiliki hak-hak yang wajib dipelihara dan dilindungi.

Penulis mengajak kita semua untuk merenungi perbuatan-perbuatan apa yang sudah kita lakukan terhadap alam ini, sehingga Allah mengarunia bencana ini untuk kita semua. Mari kita sama-sama kembali dekat kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya untuk menjauhkan bencana ini. Lakukanlah perbuatan yang dianjurkan oleh Allah SWT dan jauhilah larangannya.

Selain berdoa, kita juga harus mengiringi dengan usaha untuk mengantisipasi terjadinya musibah ini. Mencegah banjir harus kita lakukan sedini mungkin dan memerlukan keseriusan dari para pihak.

Sebenarnya, ada beberapa faktor dalam usaha pencegahan banjir. Pertama, perlu membagun kesadaran dan kedisiplinan masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya, dan dari pihak pemerintah juga menyosialisasikan pentingnya hidup bersih dan sehat.

Kedua, pemerintah harus mengucurkan dana untuk mengeruk sungai yang dangkal, sehingga saluran-saluran air yang sudah dibuat juga bisa menjamin air hujan akan disalurkan ke tempat yang lebih rendah.

Ketiga, reboisasi tanaman khusus yang bisa menyerap lebih banyak air seperti pohon Terambesi, Mahoni, Angsana, Akasia, Beringin, Asam Jawa, Cemara Bundle, Johar, Matoa, Bungur, Kiara Payung, Tanjung, Dadap, dan juga menanam bambu di pinggir-pingir sungai.[]

Penulis adalah Munawir, mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat / Sosiologi Agama UIN Ar Raniry Banda Aceh.

Editor: BOY NASHRUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.