31 March 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dialog Imajiner dengan Pak Nadiem

...

  • portalsatu.com
  • 12 December 2019 09:03 WIB

Mendikbud dan Dikti Nadiem Makarim. - Twitter @Kemdikbud_RI
Mendikbud dan Dikti Nadiem Makarim. - Twitter @Kemdikbud_RI

Sebelumnya penulis teringat dengan menteri pada periode di belakang Pak Nadiem, yaitu Pak Muhadjir, Pak Anis dan Pak M. Nuh. Kesemuanya menurut penulis mencerminkan generasi konservatif-moderat. Walau pada prinsipnya era Pak Nuh telah diletakkan dasar capaian pendidikan kita hingga 2035 setidaknya lewat kurikulum yang dikenal sekarang, dari cikal bakal berbasis kompetensi, lalu KTSP dst. Pak Nuh juga diingat sebagai "Bapak Bidik-Misi".

Sedang Pak Anies, lebih menekankan pada aspek pembelajaran dan kompetensi guru dalam merealisasikan tujuan pendidikan disamping faktor lainnya. Adapun Pak Muhadjir agaknya hanya mempertahankan stabilitas "maknawi" dari rekan menteri sebelumnya.

Lalu Pak Nadiem muncul sebagai ikon baru dalam pendidikan nasional, karena mungkin kiprah Anda telah diakui secara praktik-ekonomis. Sebab inilah tujuan praktis pendidikan secara awam, mampu bekerja mandiri secepat dan semaksimal mungkin. 

Apalagi zaman sekarang sangat akrab dengan era milenial dan digital. Anda dianggap bisa mengembangkan "ide di luar kotak" yang diperlukan Pak Jokowi. Maka Anda telah melampaui semua pakar (profesor) pendidikan secara eksekutif, walau anda tetap menganggap diri sebagai siswa yang senantiasa belajar cepat. 

Mungkin inilah era kualitatif dari gagasan Anda untuk perombakan pendidikan kita agar sesuai pasar, investasi dan tujuan bernegara. Anda butuh seratus hari minimal untuk memutuskan hal besar yang dimaksud. Dan itu tentu tak mudah, dalam memetakan semua problematika kependidikan kita secara komprehensif.

Jadi menurut penulis, era sebelum Bapak, para menterinya mewakili sosok kuantitatif bila ditinjau dari aspek pengkuran lengkap ala UN. Sedangkan yang bergulir sekarang, untuk UN 2021 mengambil pola asesmen kompetensi dan survei keberbakatan, yang tentu Anda sesuaikan juga dengan tradisi online dan digitalisasi. Dan kabarnya pun Anda akan merampingkan kurikulum agar lebih efisien dan efektif.

Memang disamping tradisi belajar siswa  dan sistem yang melingkupinya, Anda juga mesti mendorong dan berkoordinasi ulang agar citra sekolah keguruan menjadi favorit Kelas Utama dan ini bersinergi dengan Menristekdikti. Ini penting karena departemen anda menjadi jembatan ke dunia kampus, bukan sebagai "bursa" kerja semata.

Hal di atas tadi perlu juga dikaitkan dengan penghasilan khusus bagi guru (mereka di bawah link Anda) yang tidak berstatus ASN agar relevan dengan kinerja dan tanggung jawab mereka. Kiranya nanti  ada payung hukum yang menjadikan gaji guru tadi tidak lebih rendah dari buruh/karyawan di pabrik.

Jadi di penghujung tulisan dialog imajiner ini, penulis memberi penekanan bahwa capaian pendidikan tidak semata diukur secara materiil atau vocation skill,namun mesti terpaut pada soft skill (kecakapan lunak) yang berbasis pada karakter positf dan sikap spiritualitas.[]

Taufik Sentana, Praktisi pendidikan Islam.
Bergiat sejak 1996. Kini berbakti di SMP IT Teuku Umar dan Mts.S Harapan Bangsa Meulaboh.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.