15 December 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Disbudpar, Aceh Punya Wisata Warisan Peradaban

...

  • THAYEB LOH ANGEN
  • 27 November 2017 10:20 WIB

Ilustrasi. Pameran berjudul 'Kehidupan Nelayan pasca Tsunami 2004' turut menampilkan Syahbandar Mu’tabar Khan (1734) dan Teuku Maharaja Teluk Samawi (1880), di Museum Tsunami Aceh, 3 Mei 2017. @Doc. PORTALSATU.COM/THAYEB LOH ANGEN
Ilustrasi. Pameran berjudul 'Kehidupan Nelayan pasca Tsunami 2004' turut menampilkan Syahbandar Mu’tabar Khan (1734) dan Teuku Maharaja Teluk Samawi (1880), di Museum Tsunami Aceh, 3 Mei 2017. @Doc. PORTALSATU.COM/THAYEB LOH ANGEN

MEDAN adalah kota pertama di Indonesia yang membangun jalur kereta api dari Bandara internasional ke pusat kota. Aceh tidak punya kereta api, malah yang ada dipindahkan.

Dan sekarang, dari Jakarta pesawat langsung ke Silangit, Toba. Dalam rangkaian wonderful indonesia, di Aceh dipromosikan Sabang Sail. 

Walaupun rekan rekan saya di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (disbudpar) Aceh, tapi saya harus mengkritisinya, bahwasanya, jenis wisata yang diangkat untuk rangkaian besar seperti wonderful indonesia, yaitu Sabang Sail, adalah jenis pemalas dan kurang kreatif.

Aceh memiliki kekayaan tanpa batas dalam bidang wisata sejarah dan warisan peradaban, akan tetapi itu tidak dimanfaatkan oleh Dinas kebudayaan dan pariwisata Aceh, sudah puluhan tahun.

Bahkan lucunya, kekayaan intelektual peradaban yang tidak ternilai harganya tersebut berkesan dianggap sebagai sesuatu yang tidak berharga. Kalau promosi wisata Aceh meniru tempat lain, Aceh akan kalah. Tapi Aceh harus punya ide yang berbeda. Orang orang di wilayah lain tidak mengangkat warisan peradaban yang tinggi sebagai tujuan wisata, karena mereka tidak punya itu. Tetapi kita punya.

Kita belum memanfaatkan itu, karena meniru orang lain yang tidak punya hal tersebut. Kreatiflah, kita perlu tahu bahwasanya wisata itu bukan sekedar melihat pantai atau permainan. Wisata itu banyak jenisnya.

Bahkan ada wisata yang menjadi sumber ilmu pengetahuan dan ibadah. Aceh punya itu, hanya perlu sedikit usaha untuk menjadikannya terwujud. Gubernur dan SKPA, parlemen, perlu melihat kekayaan ini. 

Kalau kita menjual pemandangan pantai dan alam dan aneka hiburannya, Aceh tentu kalah dengan Bali, kalah dengan Raja Ampat, kalah dengan Danau Toba, yang tidak memiliki aturan syariat Islam, dan lainnya. 

Akan tetapi, lain ceritanya kalau Aceh mengemas dengan baik warisan peradaban tinggalan kesultanan, seperti kandungan manuskrip, numismatik (logam), batu (nisan) Aceh, rangkaian kegiatan budaya, maka Aceh akan menjadi satu satunya tempat yang harus dikunjungi orang di Asia Tenggara.

Kita tidak perlu menarik minat pengunjung yang mencari hiburan dan pesta pora, itu sudah banyak ada di Singapore, dan banyak tempat di Indonesia juga punya itu. 

Kita punya khas sendiri yang orang tidak punya, yang dengan itu kita bisa menarik perhatian banyak orang. 

Dalam hal wisata, untuk saat ini, Turki adalah negara yang paling hebat. Mereka punya sumber kekayaan intelektual dan pariwisata budaya yang besar dan banyak, dan mereka mengemas itu dengan luar biasa. Bersama dengan itu mereka juga menjual wisata alam.

Kalau Aceh disebutkan pernah menjalin hubungan kuat dan akrab dengan Turki Utsmani (Ottoman) selama ratusan tahun, maka Aceh saat ini perlu belajar apapun dari Turki sekarang yang sudah membuktikan dirinya sebagai bangsa yang dapat memahami keberadaan zaman, termasuk industri pariwisata. 

Saya tahu bahwasanya tulisan ini belum tentu bisa dipahami atau diterima oleh orang disbudpar di Aceh, akan tetapi saya harus menuliskannya, siapa tahu keadaan bisa berubah.

Kalau kita mengunjungi tempat orang, itu jangan habiskan waktu sekedar jalan jalan, tetapi belajarlah sesuatu.

Kalau Aceh ingin konsisten dengan ide penerapan syariat Islam kaffah, maka itu juga termasuk pariwisata, perbankan, dan sebagainya. 

Kita jangan jadi munafik, misalnya mengumumkan hukum Islam kaffah, tapi bersamaan dengan itu juga mengadakan perlombaan yang biasanya menjadi ajang judi, seperti permainan permainan dan turnamen. 

Kita jangan jadi munafik, misalnya mengumumkan hukum Islam kaffah, tetapi bersamaan dengan itu, mengizinkan pariwisata hura hura dan menyediakan peluang maksiat. 

Mudah saja kita jawab pada pihak manapun jika memprotes hukum Islam kita. Kalau mereka ingin ke tempat wisata yang bebas telanjang, mereka bisa ke Bahama, atau setengah telanjang, boleh ke tempat di Indonesia yang kita sebutkan di atas.

Atau mereka boleh ke Singapore, Pattaya, dan lainnya. Kalau anda ke Aceh berarti Anda sudah setuju dengan hukum Aceh sejak mendarat di Bandara Blang Bintang atau Pelabuhan laut kami.

Kita perlu berkomitmen dengan hukum kita dan harus berani menghadapi tantangan. Bukankah kita bahkan berani berperang dengan penjajah selama ratusan tahun, kenapa mengembangkan pariwisata warisan peradaban saja tidak berani? Ini juga perang, perang ide, perang sistem, perang identitas, perang gaya pariwisata.

Kita ingin, disbudpar di Aceh mempromosikan pariwisata yang khas, yang kreatif, yang mencirikan Aceh Serambi Mekkah.[]

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan.

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.