23 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Menyambut Milad ke 58 Unsyiah 2 September 2019
Duri di Balik Nama Universitas Syiah Kuala

...

  • portalsatu.com
  • 01 September 2019 11:00 WIB

@unsyiah.ac.id
@unsyiah.ac.id

Oleh: T.A. Sakti

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) merupakan sebuah universitas besar di belahan barat Republik Indonesia. Usianya sudah lebih setengah abad serta gaungnya mendunia. Namun di balik nama besarnya, banyak orang luar Aceh yang salah paham terhadap nama lembaga pendidikan di Aceh ini. Namanya memang Universitas Syiah Kuala, tetapi orang luar Aceh menganggap kata “Syiah” itu sebagai aliran Syiah yang berkembang di Iran.

Dalam hal ini, saya pun punya pengalaman pribadi. Berkali-kali saya merasa ‘palak’ bahkan sakit hati, karena orang luar Aceh sulit mengenali universitas tempat kuliah saya pertama kali, yakni Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Kebanyakan mereka salah ucap atau salah sebut pada kata Syiah dengan sebutan Syah  dan  Syi’ah. Akibatnya, jika disebut secara penuh akan muncullah nama Universitas Syah Kuala atau Universitas Syi’ah Kuala. Akan menjadi lebih kesal lagi, jika mereka sempat mengajukan soal tambahan: ”Apakah  ada perbedaan antara Syi’ah Aceh dengan Syi’ah di negara Iran?.

Saya selalu bersiap diri dengan pertanyaan seperti itu dan biasanya mampu mengubah pandangan sang penanya terhadap Unsyiah. Akan tetapi dengan tampilnya pertanyaan serupa di mana-mana, tentu dapat membuat sang penjawab seperti saya merasa jengkel dan stres. Hal itulah yang saya alami selama kuliah di Yogyakarta, baik di kampus UGM maupun saat bertandang ke tempat-tempat teman di pelosok pulau Jawa.

Pengalaman pahit saya paling akhir, terkait nama Universitas Syiah Kuala adalah penulisan nama Universitas Syiah Kuala di sebuah jurnal  pada Fakultas Ilmu Budaya, (FIB), Undip, Semarang. Sang Redaktur jurnal menulis “Universitas S i y a h Kuala Banda Aceh” sebagai identitas asal saya yang ikut menulis dalam jurnal itu. Pengalaman serupa juga dialami seorang dosen Unsyiah yang kuliah di Malaysia. Gara-gara dianggap oleh dosen pembimbing sebagai orang Syi’ah, maka hasil bimbingan disertasinya  tersendat-sendat sampai empat semester belum selesai. 

Mengapa Syiah?

Dalam kehidupan saya yang kini telah berumur 60-an tahun, sebutan Syiah sudah menyelimuti saya sejak kecil. Di kalangan masyarakat awam sering terdengar kisah-kisah misterius tentang Syiah, atau yang mereka gelari Teungku Syiah. Syiah adalah ulama yang amat tinggi ilmunya dan setaraf dengan Aulia atau dalam istilah lain disebut Wali. Teungku Syiah dipercaya bertempat tinggal di gunung atau rimba raya dan kadangkala muncul di khalayak ramai untuk menguji ketaatan manusia kepada Tuhan.

Di suatu waktu tersiar desas-desus seorang pengemis aneh, yang secepat kilat melesap hilang sosoknya setelah minta sedekah pada seorang ibu rumah tangga. “Nyan sang Teungku Syiah” (mungkin dia Teungku Syiah), kata seorang kakek di suatu gampong.

Bagi masyarakat awam di Aceh, mereka juga punya kisah versi sendiri tentang Syiah Abdokade (Syekh Abdul Kadir Jailany), Syiah Kuala dan Syiah Plak Plieng. Syiah Abdokade adalah pengguna pertama alat seni Rapa-I dan beliau sering menabuhnya di pinto guha (pintu gua) pada malam jum’at, sedangkan Syiah Kuala dianggap orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Aceh. Sementara Syiah Plak Plieng merupakan ulama yang tidak sepaham dengan Syiah Kuala dalam hal cara menyebarkan Islam di Aceh.

Bagi mereka yang pernah belajar Nadham dan Tambeh di Bale Teungku, tentu mengenal pula terhadap beberapa sosok Syiah lainnya, seperti Syiah Bal’am dan Syiah Barshisha. Kedua beliau adalah ulama yang sudah masuk taraf Aulia atau Wali karena ilmu yang dimiliki keduanya amat tinggi. Namun keduanya jatuh hina, karena takabur bin sombong akibat godaan syaitan.

Syekh Abdurrauf yang bergelar Syiah Kuala – dan sejak lebih setengah abad lalu menjadi label nama bagi Universitas Syiah Kuala – adalah ulama besar Aceh abad ke 17 yang juga menguasai ilmu yang amat dalam. Martabat beliau juga setaraf Aulia atau Wali. Setelah belajar pada beberapa Dayah/ulama di Aceh, pada berumur 20-an tahun, masih belajar lagi ke Timur Tengah selama 19 tahun, pada berpuluh-puluh ulama di sana. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf atau Syiah Kuala diangkat Sultanah Tajul Alam Shafiatuddin Syah menjadi Mufti Kerajaan dalam jabatan Kadli Malikul Adil. Berkat martabat ilmunya, yang disodorkan melalui fatwa; maka empat orang perempuan dapat menjadi Ratu atau Sulthanah(raja perempuan) di Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke 17 Masehi. Padahal sampai kini pun, para ulama masih memperdebatkan boleh-tidaknya sebuah negeri Islam dipimpin seorang wanita. Orang lain masih terus berdebat, sedangkan di Aceh sudah terlaksana dengan “manis?” hampir empat abad yang lalu.

Dalam Kamus Bahasa Arab dijelaskan, kata Syiah berasal dari kata Syaikh. Artinya maha guru. Bila dibawa ke tradisi ilmiah sekarang, maka berarti Guru Besar alias Profesor. Kesimpulan yang dapat dipetik dari uraian di atas, bahwa sejak awal tidak ada yang keliru atau salah dalam pemberian nama bagi Univeritas Syiah Kuala. Syiah adalah gelar bagi ulama besar, yang patut dicontoh dan ditiru berbagai segi kehidupan beliau. Soal masyarakat luar Aceh yang sering keliru mengucap kata Syiah menjadi Syah atau Syi’ah,  perlu dicari obat mujarabnya!.
 
Kenapa Mereka Salah?

 Sebutan  atau gelar tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara berbeda-beda menurut masing-masing wilayah dan negara. Gelar-gelar tersebut antara lain; makhdum, wali, sunan, maulana, imam, fakih, khatib, syekh dan syiah. Maulana, sunan dan wali terkenal di pulau Jawa, makhdum dan khatib di Filipina dan Kalimantan. Sementara di Aceh sebutan Syiah (Tengku Syiah) sebagai “ulama besar”  amat dikenal masyarakat luas. Bagi siapa pun warga Aceh tempo dulu yang gemar membaca hikayat, tentu menjumpai nama ulama yang digelar Syiah di berbagai hikayat.

Begitulah suatu masyarakat terwariskan ‘memory’ yang berbeda tentang tokoh ulama “keramat” di wilayah mereka. Karena itu tidaklah sulit memahami, bila masyarakat luar Aceh sering salah saat mengucapkan nama Univeritas Syiah Kuala. Akibat memory otak mereka tidak menyimpan “ kata Syiah”, maka melengkunglah lidah mereka kepada memory lain yang berdekatan bunyinya dengan ucapan Syiah itu. Akibatnya, meluncurlah  sebutan dari mulut mereka nama Universitas Syah Kuala atau Universitas Syi’ah Kuala. Kata Syah cukup popular dibandingkan Syiah. Para sultan di Dunia Melayu hampir selalu namanya diakhiri dengan sebutan Syah, seperti Sultan Muhammad Daud Syah sebagai sultan terakhir dari Kerajaan Aceh Darussalam atau Sultan Iskandar Muhammad Syah yang ditabalkan menjadi sultan pertama Kerajaan Malaka.

Demikian pula dengan istilah Syi’ah, bahkan lebih dikenal daripada Syah apalagi Syiah. Sejak munculnya kasus aliran Syi’ah di Sampang Madura, persoalan Syi’ah bukan lagi hak paten negara Iran dan Irak, tetapi juga sudah menjadi salah satu sumber konflik politik di Indonesia. Perkembangan ini mempertebal selubung yang menutup nama Unsyiah yang seharusnya semakin tampil  itu. Mengenai berkembangnya aliran Syi’ah khususnya di Aceh, telah “disampaikan” Syekh Abdus Samad alias Teungku Di Cucum dalam sebuah kitab beliau yang ditulis tahun 1269 H.

Solusi Mencabut Duri!

Secara kasat mata, duri yang menusuk di tapak kaki nama Universitas Syiah Kuala terlalu kecil nampaknya. Namun racun bisanya dapat membuat komunitas Unsyiah kecewa berat, sakit hati bahkan koma. Bagaikan duri dari pimpingan gelas yang pecah, biar pecahan sekecil jarum pun yang menusuk anggota badan, pasti lukanya dalam dan banyak mengeluarkan darah. Namun,  di era canggih sekarang, telah tersedia berbagai jenis obat ampuh untuk mengobatinya.
 (1) Salah satu sandungan  berat yang mencegat Unsyiah bebas melangkah  adalah  terkait namanya yang salah diucapkan orang, umumnya orang di luar Aceh. Yaitu Universitas Syiah Kuala, namun sewaktu keluar dari mulut orang luar; lantas berubah bunyinya menjadi Universitas Syi’ah Kuala. Hal ini termasuk persoalan lebih baru. Sewaktu cara penulisan kata aliran Syi’ah masih menggunakan huruf ‘ain dengan tanda ( ‘) saat menulis Syi’ah, maka kesalahan itu jarang terjadi. Akan tetapi ketika cara penulisan Syi’ah sudah sama dengan cara menulis Syiah, yaitu S y  i a h  juga, mengkibatkan kekeliruan mengucapkan Universitas Syiah Kuala menjadi Universitas  S y i a h Kuala, justru semakin sering terjadi. Saya kira, upaya Redaktur Jurnal – yang tersebut di awal tulisan ini – yang menuliskan identitas saya berasal dari Universitas S i y a h Kuala, juga dalam usaha menghindari salah baca antara Syiah dengan S y i a h tadi,
Kita yang tak punya wewenang apa-apa dalam hal bahasa, tentu tak dapat membalik jarum sejarah, agar cara penulisan kata aliran Syiah dikembalikan seperti cara lama, yaitu Syi’ah. Oleh karena itu cara lebih mudah mengatasi kesalahan orang menyebut nama Universitas Syiah Kuala adalah dengan menambah huruf ( y ) pada tulisan Syiah, sehingga tertulislah Universitas Syiyah Kuala.  Menurut saya,  penambahan huruf ( y )  itulah jalan termudah menghapus tuduhan-tuduhan yang sudah  berkarat terhadap nama besar Universitas Syiah Kuala. Walaupun upaya ini mungkin juga membutuhkan SK Presiden (Kepres).

(2) Promosi, kini tersedia berbagai jalur canggih untuk memperkenalkan diri. Salah satunya adalah melalui “iklan tampil” di televisi. Keunggulan media ini terutama dalam hal mampu menampilkan fisik dan vokal suara secara terang-benderang. Khusus buat membetulkan sebutan atau panggilan terhadap sesuatu yang salah, maka media televisilah sarana yang paling ampuh.

Dewasa ini kita dapat menyaksikan beberapa acara televisi Jakarta melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas sebagai peserta, bahkan pelakunya. Sebut saja acara “Empat Pilar dan Rumah Perubahan di TVRI”. Begitu pula, sejumlah studio TV swasta Jakarta juga menayangkan acara serupa. Selain acara-acara yang telah/sedang berjalan, masih banyak acara lain yang dapat melibatkan Perguruan Tinggi, seperti acara kuis, kuliah subuh; di samping dalam bentuk iklan khusus tersendiri. Mungkin gara-gara  jauh dari Jakarta dan biaya pendaftaran peserta yang tinggi, maka kita jarang menyaksikan universitas/mahasiswa dari luar pulau Jawa yang turut melibatkan diri.[]

*Penulis, adalah peminat  manuskrip, sejarah  dan sastra Aceh.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.