23 May 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dyslexicmom

...

  • IHAN NURDIN
  • 13 February 2018 08:00 WIB

ilustrasi
ilustrasi

Sebagian orang mungkin masih asing dengan istilah dyslexicmom. Sah-sah saja jika mereka menduga, ini pastilah makhluk aneh dari negeri para alien. Tapi sebenarnya dyslexicmom adalah istilah untuk para ibu yang memiliki anak seorang disleksik. Yaitu anak-anak dengan disleksia yang umumnya mengalami kesulitan saat mereka belajar membaca, menulis, atau mengeja huruf. Dyslexicmom juga merujuk pada definisi seorang ibu penyandang disleksia. Untuk mendapat gambaran visual mengenai disleksia, ada film lama yang bagus untuk ditonton yaitu Taare Zamen Par yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah akun di sosial media milik seorang perempuan bergelar ibu dengan tiga anak. Di mana salah satunya adalah disleksik. Perempuan itu bernama Syarifah Aini. Ia seorang veteriner. Tapi memilih untuk tidak berkarier di dunia klinis. Soal pilihan ini, itulah ajaibnya seorang perempuan. Mereka bersekolah tinggi-tinggi, punya cita-cita menaklukkan dunia, tapi pada akhirnya dengan sadar memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga yang asli. Keputusan yang bikin sebagian orang kerap geleng-geleng kepala.

Tak jarang muncul prasangka. Tidak berkarier artinya kurang gaul. Tidak berkarier artinya kehilangan aktualisasi diri. Tidak berkarier artinya tidak bertumbuh. Tapi eits... mari sejenak berkaca dari dyslexicmom yang saya ceritakan di atas. Ketika membaca catatan-catatan pribadinya di blog, saya ternganga-nganga dibuatnya. Wow, masih sempat ngeblog! Karyanya sudah mejeng di tiga antologi berbeda.

Sebagai seorang disleksik, saya paham benar betapa istimewanya para individu disleksik ini. Orang-orang di ring satu mereka harus punya ketelatenan tingkat tinggi. Tak heran jika dalam sebuah catatannya Aini mengaku sangat girang ketika buah hatinya itu pada akhirnya paham cara melihat jam analog.

Aini juga tidak 'mati gaya' meskipun ia kerap mengaku hanya ibu rumah tangga biasa. Sesekali ia diundang ke seminar berkaitan dengan disleksia untuk memberikan testimoni bagaimana kiprahnya sebagai dyslexicmom. Lihatlah, ia telah mengubah rumahnya menjadi ruang kuliah untuk mengambil spesialis khusus tentang disleksia. Bukankah ini hebat? Situasi yang termanfaatkan tanpa disadari. Kerempongannya sebagaiĀ dyslexicmom membawanya menjadi seorang public speaker. Duduk sejajar dengan para pakar lainnya.

Di sebuah forum literasi, saya juga pernah bertemu dengan Aini. Ia datang sebagai peserta dengan membawa anaknya yang masih kecil. Di selasar Anjungan Aceh Singkil di Kompleks Taman Ratu Safiatuddin itu, ia berbaur dengan peserta lainnya yang didominasi oleh para mahasiswa. Sementara Aini fokus menyimak apa yang disampaikan pemateri, anaknya tertidur pulas di sampingnya. Sama sekali tidak merecoki ibunya. Salah seorang peserta sempat menangkap fragmen itu dengan kameranya. Dua hari kemudian foto itu nangkring di surat kabar ternama di Aceh. Sekali lagi, Aini --mungkin tanpa ia ketahui-- telah mengajarkan kita bahwa segala kerempongan itu bukan alasan untuk tidak bertumbuh.

Hampir saya lupa. Untuk menyiasati kecintaannya pada hewan, Aini memelihara banyak kelinci di rumah. Itulah caranya mengaplikasikan ilmu-ilmu yang ia peroleh secara formal. Itu artinya, ia tetap berkarier di dunia yang berkaitan dengan gelar akademiknya dengan cara berbeda.

Perempuan adalah makhluk yang istimewa. Mereka seperti induk para bintang; sumber segala kebahagiaan.[]

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.