24 August 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Erdogan Dibicarakan di Kedai Kopi-Kedai Kopi di Aceh

...

  • THAYEB LOH ANGEN
  • 11 June 2017 21:30 WIB

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberikan suaranya dengan cucunya dalam referendum konstitusi di sebuah tempat pemungutan suara di distrik Uskudar, Istanbul, Turki, 16 April 2017. @Berk Özkan/Anadolu Agency
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberikan suaranya dengan cucunya dalam referendum konstitusi di sebuah tempat pemungutan suara di distrik Uskudar, Istanbul, Turki, 16 April 2017. @Berk Özkan/Anadolu Agency

ENTAH bagaimana awalnya, Recep Tayyip Erdogan, terkenal dengan cepat ke seluruh dunia, termasuk ke negara yang tidak dikenal seperti Indonesia, dan Aceh.

Ia pertama kali dikenal ke seluruh Turki setelah membaca puisi yang membela Islam dan mengumandangkan azan di Istanbul, sesuatu yang dilarang saat itu.

Saat itu ia menjabat sebagai Wali kota Istanbul, tahun 1990-an.

Hal itu mengejutkan pemerintah Turki yang merupakan kaum sekuler saat itu, dan mengejutkan kaum muslimin dan islamik Turki yang berjumlah sekitar enam puluh persen penduduk dari delapan puluh juta orang.

Saat itu, Aceh tidak mendengar kabar tersebut. Saat itu Aceh berada dalam kungkungan DOM (daerah operasi militer). Jangankan kabar tentang walikota Istanbul, tentang gubernur sendiri saja hampir tidak diketahui.

Masyarakat Indonesia pun mengalami nasib serupa. Mereka baru tahu tentang Erdogan setelah jatuhnya Suharto. Di saat informasi dari dalam dan luar negeri bisa masuk seperti angin, tidak ada penghalang.

Aceh lebih telat lagi. Aceh mengenal Erdogan setelah tsunami, tepatnya setelah MoU Helsinki. Di dalam masa damai. Di masa perang, Aceh terlalu sibuk untuk memikirkan keselamatan diri.

Pertama kali, Aceh dikejutkan dengan kehadiran Erdogan di Banda Aceh, setelah tsunami, sebelum BRR dibentuk. Saat itulah orang Aceh mulai teringat pada kisah Lada Sicupak. Sultan Aceh mengirim kapal berisi lada dan barang berharga lainnya ke Konstantinopel (Istanbul), dan membawa pulang senjata serta para ahli beberapa bidang.

Namun, orang Aceh mengenal Erdogan sekira setelah tahun 2010. Sebelumnya, karena perasaan anti Barat secara politik, Aceh mengagumi Saddam Hussein dari Iraq (Persia), Muammar Khadafi dari Libya, dan Mahmoud Ahmadinejat dari Iran (Persia).

Yang mengejutkan, ketertarikan orang Aceh pada Erdogan berbeda dengan ketertarikan terhadap Khadafi, Saddam, atau Ahmadinejat. Ketertarikan orang Aceh pada Erdogan, selain perasaan anti Barat sehingga mencari tokoh di negara muslim untuk dikagumi, juga perasaan sejarah. Bahwasanya Turki adalah saudara tua Aceh selama ratusan tahun, di zaman Aceh Darussalam dan Turki Usmani (Ottoman).

Erdogan menjadi buah bibir di setiap kedai kopi kedai kopi di Aceh. Dan kita tahu bahwasanya ada puluhan ribu kedai kopi di seluruh Aceh.

Walaupun ada satu dua yang berkomentar kurang baik, akan tetapi hampir semua pembicaraan tentang Presiden Erdogan adalah rasa kagum. Tindakan Erdogan datang ke Aceh setelah tsunami telah mengubah ingatan sejarah menjadi fakta.

Dan, keberhasilan Erdogan dan rakyat Turki menggagalkan upaya kudeta pada 15 Juli 2016, membuat orang Aceh menganggap Erdogan sebagai pemimpin terbaik di dunia.

Hal yang paling membuat kaum muslimin di Indonesia dan Aceh simpati pada Erdogan adalah kebijakannya yang membuat Islam dapat tempat penting di dalam masyarakat Turki. Hal yang pantang sebelum Erdogan menjadi perdana menteri.

Bahkan orang Aceh dan Indonesia menganggap partai AKP binaan Erdogan yang menguasai parlemen Turki sebagai partai Islami.

Sementara, Erdogan berulang kali menyatakan bahwa AK Parti adalah partai yang berprinsip demokrasi adil, setiap penganut agama berhak membela agamanya, berhak memakai atribut dan beramal sebagaimana agamanya. Tentu saja kebijakannya itu menguntungkan umat Islam di Turki, sebagai umat mayoritas.

Kebijakan kebijakan Erdogan telah membuat Turki sebagai negara tanpa hutang, menghidupkan seluruh lini kehidupan, membuat Turki dipandang lagi di seluruh dunia.

Oleh karena itu, kaum muslimin konservatif, kaum muda yang kreatif di Turki, akan menghajar siapa saja yang mencoba mengganggu Erdogan. Karenanya, kudeta oleh militer pada 15 Juli 2016 berhasil mereka gagalkan kurang dari 24 jam.

Kembali ke Aceh, orang Aceh yang secara sosio genetik membutuhkan pahlawan, maka berbicara tentang Erdogan seakan itu ada pemimpin mereka sendiri secara langsung. Itu menjadi kebanggaan.

Perasaan yang diisi dengan obat peransang sejarah, ditambah obat penyegar iman, merupakan formula manjur yang secara kolektif membuat orang Aceh dapat hidup sepanjang zaman, sebagai sebuah bangsa yang merasa dirinya sebagai penakluk, bangsa superior.[]

Thayeb Loh Angen, peserta Konferensi Internasional "July 15 Coup - Turkey Perspektif" di Marmara University, Istanbul, Turki, 26-28 Oktober 2016.

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.