22 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Gagasan tentang Sekolah 'Baru'

...

  • portalsatu.com
  • 29 October 2019 08:00 WIB

Presiden Jokowi memberi arti penting berfikir di luar kotak saat menunjuk Pak Nadiem sebagai Mendikbud sekarang. Alasan itu menjadi motif kenapa bukan akdemisi murni yang menduduki kursi eksekutif elit sang menteri.

Seakan Pak presiden ingin "jalan pintas" bagi penyelesaian pendidikan dasar-menengah di Indonesia, karena memang cenderung stagnan, berkesan tambal-sulam dan "sibuknya" kurikulum kita, sejak tahun 2000an dengan berbasis kompetensi, yang menguras tenaga dan waktu untuk sosialisasi, seminar dan sebagainya. Dan itu berlanjut sampa era K13 yang terus direvisi hingga sekarang.

Pada hemat penulis, setiap sekolah idealnya sangat berpeluang dengan merujuk atas visi lokal setingkat satuan pendidikan (KTSP), pihak sekolah bisa meracik materi dan tujuan kompetensi lulusannya dengan tetap mengacu pada standar nasional. Walau tetap terkesan gemuk dan berat. 

Maka sulit kita temukan sekolah "baru" yang menelurkan visi dan program besar yang dikelola dengan utuh sesuai amanat UUD 45. Apalagi berharap dari sekolah negeri, yang umum dicap sebagai sekolah "murah" (walau gurunya berstandar semua) untuk menjadi model utama tentang sekolah baru. Mungkin disebabkan "berfikir" itu sulit, hingga warga sekolah tak cukup daya untuk berdandan sebagai sekolah baru.

Bahkan, pernah diyakini bahwa sekolah merupakan lembaga yang paling susah berubah, (ya, tentu karena orang orang di dalamnya). Maka wajar dijumpai, bahwa yang menjadi pionir justeru sekolah swasta, mereka relatif "mudah" berubah dan menggagas program program besar. Seperi sekolah Alquran, sekolah alam atau sekolah kewirausahaan. 

Penulis sendiri lebih memilih sekolah yang mobile, yang tidak berdasarkan pada jadwal pelajaran yang bertimpa-timpa. Tapi mengarah pada kelas berbasis mata pelajaran, semisal kelas sains dengan tetap mempertimbangan pembangunan karakter dan kecakapan generalis berdasarkan spektrum bakat yang relevan dan dinamis. Terutama pentingnya pendidikan dasar di bawah usia 13 tahun, berbasis keislaman dan akhlaq (Ibnu Khaldun) serta sikap berfikir kreatif (orientasi teknologi-industri).

Tentu semua kenal Ibnu Sina atau Avicenna, disebutkan bahwa ia hanya memperdalam ilmu kedokterannya selama dua tahun, sebelumnya ia mempelajari fisika, siang hari ia sebagai administrator negara dan banyak menghasilkan karya yang beragam di banyak bidang, termasuk psikologi. Walau secara spesialis ia dikenal sebagai dokter. Diantara warisannya adalah aroma terapi, aksi-reaksi, perlunya mencuci tangan dan sedikitnya ia menulis dua ratusan buku yang berpengaruh, setiap kali ada hal pelik yang ia rasa dalam berkarya, ia segera mengerjakan shalat.

Untuk itu diperlukan keberanian "khusus" guna mewujudkan sekolah baru yang berorientasi pada keberbakatan siswa dalam mengisi waktunya di sekolah, disamping menggunakan beragam pendekatan, media dan metoda yang sesuai dengan zaman now.[]


Taufik Sentana
Praktisi pendidikan Islam. Bergiat sejak 1996. Mengelola program seminar dan pengembangan SDM.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.