26 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
Geuchik Munirwan, Malaysia dan China

...

  • MUDIN PASE
  • 27 July 2019 19:00 WIB

Munirwan. Foto dok. Portalsatu/ist
Munirwan. Foto dok. Portalsatu/ist

Merujuk pada ekspose polisi terhadap kasus Munirwan, dia ditersangkakan sebab menjual benih tanpa izin melalui perusahaan pribadinya.

Pernyataan polisi menimbulkan banyak tanda tanya. Geuchik Meunasah Rayek Nisam Aceh Utara ini juara se-Aceh untuk inovasi desa. Dia juga juara 2 nasional untuk katagori yang sama.

Pertanyaannya, kenapa bisa sang juara kemudian dianggap salah? Kalau inovasi ini milik pribadinya mengapa dia diberi penghargaan sebagai aparat desa?

Dinas Pertanian Aceh mengirim surat soal benih ilegal ke polisi. Tapi kepala dinas membantah melaporkan Munirwan ke polisi. Tapi mereka tahu geuchik itu mengedar benih IF8. Soal benih ilegal yang katanya banyak yang menjual, kenapa Munirwan yang disasar?

Dari sedikit ilustrasi itu, maka kita melihat bahwa di negeri ini sesuatu yang baik di pihak lain bisa menjadi buruk bagi pihak lain lagi. Tidak ada jaminan sesuatu yang baru dapat diterima oleh pemerintah.

Barangkali inilah salah satu penyebab mengapa bangsa ini terus terbelakang. Sebagai contoh, lihatlah ke Malaysia beberapa bulan lalu. Pemerintah di sana mengatakan, lebih 100 ribu pedagang kedai kelontong ilegal. Mereka pendatang dari Aceh.

Malaysia terkenal tertib dengan penegakam hukum. Membaca berita itu dalam benak kita bahwa pedagang itu akan diusir. Sebab mereka melanggar banyak aturan hukum, orang asing dan pendatang haram.

Nyatanya tidak. Mereka dibantu dan diwadahkan oleh kementerian terkait. Bahkan kabarnya mereka ditunjuk jadi penyalur pangan subsidi. Kenapa pemerintah Malaysia melunak terhadap pendatang haram yang mengangkangi hukum negerinya?

Sebab Malaysia melihat potensi ekonomi pada kedai runcit ini. Apalagi licensi kedai kedai itu milik orang Melayu. Artinya kalau diusir atau ditindak mereka akan rugi. Sehingga, hukum mengalah demi kepentingan yang lebih besar.

Kasus lain lihatlah ke China. Semua produk palsu diproduksi. Pemerintah China tahu produsen barang palsu itu melanggar hukum. Tapi apakah mereka menangkap rakyatnya yamg kreatif itu? Tidak! Kemudian malah dibantu segala sesuatu. Kini China adalah raksasa ekonomi. Semua produk teknologi menjadi sangat murah di tangan China.

Nah, untuk kasus Geuchik Munirwan. Misalnya, benar sekalipun dia salah mengedar benih tanpa sertifikat, bukankah yang dia lakukan tidak merugikan? Kreativitas itu malah menguntungkan banyak orang. Terutama petani.

Jika kata pihak dinas bahwa pelaporan pada polisi sebagai melindungi masyarakat, pertanyaannya masyarakat mana yang mau dilindungi? Soal benih tanpa sertifikat, apakah petani bodoh tidak bisa menghitung hasil panen IF8 dengan benih lain, termasuk benih yang dibagi pemerintah, hingga mereka berbondong-bondong memilih IF8?

Jadi, naif sekali alasan pihak dinas itu. Jikapun Munirwan telah mengambil keuntungan pribadi, maka belajarlah dari kasus Malaysia dan China. Negara harus mendorong kreativitas ini untuk legal. Ada dua hal positif di sini. Pertani soal produktivitas IF8, dan manusia kreatif seperti ini dibutuhkan negeri ini.

Supaya ekonomi maju, di zaman yang serba cepat ini, kreativitas adalah syarat wajib untuk maju. Jadi semua pihak hentikan polemik. Negara harus membina dan membimbing. Hukum untuk kemaslahatan umat. Kemaslahatan itu demi keadilan dan kesejahteraan.

Soal pelanggaran hukum, lihat saja menganga banyak kasus lain yang belum ditangani. Tidak usah dicari pembenaran. Pemerintah Aceh harus mendukung agar rakyat kreatif diberdayakan. Jangan bersembunyi di balik aturan. Sebab tanyakan pada diri sendiri, apakah kasus-kasus KKN telah tiada di hari-hari penyelenggaraan pemrintah? 

Dan jangan-jangan kasus ini juga diduga "main mata" dinas dengan kartel benih. Bukankah tahun ini ada anggaran pengadaan benih 23,3 miliar. Tidakkah ini ada korelasinya?[]

*Penulis adalah putra Aceh yang berprofesi sebagai jurnalis. Opini ini pandangan pribadi penulis.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.